Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi usai mengantarkan Alisa sekolah, Rania mendapat telepon dari kakaknya yang mengundangnya ke rumahnya nanti sore. Karena memang Rania tidak ada acara, ia berjanji untuk datang bersama kedua anaknya.


"Sayang, nanti sore kita akan ke rumah Tante Tiara. Jadi ngajinya hari ini libur dulu ya," ucap Rania.


"Iya, Bu," jawab Alisa singkat.


Rona wajah putrinya tidak seperti biasanya, sejak tadi pagi saat berangkat ke sekolah dia lebih banyak diam. Sepertinya dia masih kecewa karena besok ia harus datang ke sekolah sendiri tanpa adanya pendamping.


Rania menghela napas dalam, ia tidak menyangka Alisa akan begitu kecewa karena hal itu. Ia merasa bersalah namun ia juga sudah berusaha mengajak mantan suaminya namun dia tidak bisa datang.


Tok... tok... tok...


Rania terjaga dari lamunannya, sepertinya ada tamu yang datang.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam, loh Nelly? Ayo masuk,"


Ternyata adik Alif yang datang, ia segera mempersilahkan mantan adik iparnya masuk.


"Tunggu sebentar ya, aku buatkan minum dulu," ucap Rania.


"Tidak perlu mbak, duduk di sini saja. Aku kesini ada perlu sama Mbak Nia," balas Nelly.


"Oh baiklah, katakan saja Nel,"


"Ehm... sebenarnya tidak enak yang mau bicara, tapi aku bingung mau minta tolong sama siapa lagi,"


Rania penasaran, sebenarnya dia mau minta tolong apa.


"Katakan saja Nel, selama aku mampu pasti aku bantu,"


Nelly menatap Rania sesaat, lalu tertunduk lagi.


"Aku butuh uang untuk mengurus perceraian dengan Mas Tedy Mbak, ternyata dia masih punya istri sah. Aku tidak mau berbagi suami, tapi dia tidak mau menceraikan aku. Ibu juga mendukungnya karena mendapat uang dari Mas Tedy. Sebenarnya aku lelah nikah cerai terus. Tapi Mbak tahu sikap ibu bagaimana, dia tidak pernah baik jika suami ku tidak punya materi. Jika boleh aku mau pinjam uang untuk mengurus perceraian, tapi tolong jangan bilang siapa pun ya,"


"Kamu butuh berapa, Nel?"


Mata Nelly berbinar, ternyata mantan kakak iparnya memang sangat baik.

__ADS_1


"Kalau ada 3 juta rupiah Mbak, aku janji jika sudah bekerja akan segera aku kembalikan," ucap Nelly.


"Tunggu sebentar ya,"


Rania masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang sejumlah yang Nelly sebutkan.


"Ini Nel, aku doakan semoga segera selesai. Kamu sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jangan segan untuk menolak jika itu memang tidak baik, terkadang orang tua juga bisa salah. Mbak harap ibu mu bisa berubah, kasihan anak-anaknya jika harus semuanya rumah tangganya hancur,"


Rania merasa kasihan dengan Nelly. Ia baru tahu jika sifat mantan ibu mertuanya seperti itu, pantas saja ia berubah baik saat dirinya sudah bisa mencari uang sendiri. Padahal sebelumnya selalu menghinanya.


"Iya Mbak, tapi aku takut durhaka jika membantah ibu. Terima kasih sekali ya Mbak Nia sudah membantu ku, aku pamit dulu ya Mbak,"


"Justru kamu salah jika membiarkan orang tua melakukan kesalahan, jika bukan orang terdekatnya siapa lagi yang berani mengingatkan. Sama-sama Nel, hati-hati di jalan ya,"


Rania mengantar kepulangan wanita itu sampai depan rumah. Uang 3 juta sebenarnya lumayan banyak, namun jika memang kita punya dan itu bermanfaat untuk orang lain maka tidak ada salahnya meminjamkan. Meminjamkan berarti harus berani menanggung resiko jika nantinya uang itu tidak kembali. Rania memang ikhlas memberikannya kepada Nelly, di kembalikan alhamdulillah dan jika tidak di kembalikan juga tidak masalah.


☆☆☆


Sore harinya.


Rania berangkat ke rumah kakaknya sehabis ashar. Mereka akan menghadiri selamatan pengangkatan kakak iparnya sebagai ketua salah satu partai yang sangat berpengaruh di sana. Rania dan kedua anaknya berpakaian dengan rapi. Semakin hari aura kecantikan Rania makin terpancar.


"Assalamualaikum," ucap Rania memberi salam.


"Waalaikum salam, ayo masuk. Sebentar lagi pasti yang lain akan datang," balas Tiara.


"Selamat ya Kak, semoga kakak ipar bisa mengusung suara rakyat. Semoga juga jabatannya berkah,"


Rania memberi selamat kepada kakak dan kakak iparnya. Karena semua jamuan sudah siap, dia hanya membantu menatanya saja.


"Kalian makan saja dulu, mumpung masih sepi. Jika banyak tamu kalian pasti malu nanti," ucap Tiara.


"Kakak tahu saja, ya sudah kami makan dulu ya,"


Rania dan kedua anaknya langsung memakan hidangan yang tersedia. Anaknya tidak pernah rewel jika masalah makanan, mereka mau makan apa saja asal tidak pedas.


Beberapa menit kemudian, tamu penting mulai berdatangan. Karena sedikit canggung Rania memilih membantu di belakang sedangkan kedua anaknya di biarkannya main di rumah saudara kakak iparnya di rumah sebelah.


"Loh, itu kan Rangga sama orang tuanya,"


Rania melihat sosok yang ia kenal. Pria itu sangat tampan dengan pakaian rapi seperti itu. Saat dia asyik memperhatikan pria itu, tiba-tiba ia menyadarinya. Pria itu sangat terkejut melihat gadis pujaannya berada di tempat yang sama.

__ADS_1


"Rania..."


"Mama tahu kamu mencintai gadis itu, tapi ini acara penting jadi kamu jangan mengigau namanya di sini," tegur mamanya.


"Mama aku serius, barusan aku melihatnya di sana,"


Rangga menunjuk ke arah dalam, namun mamanya tidak melihat Rania di sana.


"Mana? Tidak ada siapa-siapa di sana Rangga. Sepertinya kalian harus segera menikah agar kamu tidak kehilangan akal seperti ini,"


Ibunya meninggalkannya yang masih tertegun, ia yakin sekali tadi melihat wanita itu di sana.


"Apa benar tadi hanya halusinasi ku saja? Tapi tadi seperti benar-benar nyata,"


Rangga masih bingung dengan kejadian yang baru saja dia alami. Ia memutuskan untuk melihatnya di dalam. Karena tidak awas ia menabrak orang dan menumpahkan kue yang di bawanya.


"Aduh maaf sekali saja tidak sengaja, biar saja ambilkan,"


Rangga segera memilih kue yang jatuh, untung semuanya ada plastiknya sehingga tidak kotor.


"Rangga,"


Suara khas seseorang yang sangat ia kenal sedang memanggil namanya.


"Sepertinya mama benar, aku harus segera menikahinya. Tadi aku melihatnya, sekarang mendengar suaranya. Lama-lama aku bisa stres jika begini terus," guman Rangga.


Dia terus memunguti kue itu, sama sekali tidak melihat siapa yang telah ia tabrak.


"Rangga..."


"Oh tidak, aku sudah benar-benar gila,"


Rangga memukul-mukul kepalanya, Rania yang sedari tadi berdiri melihatnya berusaha menghalangi tangan pria itu memukul kepalanya sendiri. Namun Rangga menarik tangannya sehingga wanita itu jatuh tepat di pelukan Rangga.


"Rangga..."


"Rania..."


Cuit... cuit...


Semua yang melihat spontan bersorak melihat posisi mereka yang bak putri dan pangeran yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2