
Ting tong... ting tong...
"Siapa yang datang ya?" tanya Rangga.
"Biar saya saya yang buka, Den,"
ART-nya langsung bergegas membuka pintu. Sementara Rangga dan Rania sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Siapa, Mbak?" tanya Rania.
"Itu Bu, katanya ayahnya non Alisa," jawabnya.
Rania dan Rangga saling berpandangan. Selama berbulan-bulan ini pria itu tidak pernah datang, lalu untuk apa hari ini dia berkunjung.
"Suruh saya masuk, Mbak," titah Rangga.
Wanita itu kembali ke depan untuk menyuruh Alif masuk.
"Untuk apa Mas Alif ke sini ya?" tanya Rania.
"Mungkin rindu dengan anak-anak, bagaimana pun dia kan ayahnya. Ayo kita temui,"
Rangga menggandeng istrinya menuju ruang tamu.
"Pak Rangga, Rania," Alif menyapa keduanya.
"Silahkan duduk Pak Alif,"
Rania hanya tersenyum menanggapi.
Alif memandang rumah mereka dengan takjub. Waktu pernikahan ia hanya tahu halamannya saja, ternyata di dalamnya juga megah dan mewah. Mantan istrinya sangat beruntung bisa mendapat permata setelah meninggalkan dirinya. Wanita itu juga semakin cantik dan terawat saat dengan pria lain. Ia merasa benar-benar gagal saat menjadi suaminya.
"Maaf, saya baru bisa datang. Saya rindu dengan anak-anak, ingin mengajak mereka jalan-jalan walau sebentar. Saya tahu, yang saya berikan tidak sepadan dengan yang kalian berikan. Tapi saya hanya ingin membuat mereka senang," ucap Alif.
"Kenapa Mas Alif bicara seperti itu? Selama ini mereka tidak pernah menuntut apapun dari mu, mereka hanya butuh kasih sayang dan perhatian mu," balas Rania sedikit kesal.
"Sabar, Sayang," Rangga mengusap tangan istrinya.
"Kita tidak akan pernah menghalangi seorang anak untuk bertemu ayahnya. Pak Alif bebas bisa menemui mereka kapan saja. Alhamdulillah Alisa dan Bintang tidak pernah berubah sifatnya," ucap Rangga.
"Terima kasih, Pak Rangga, Rania. Apa bisa hari ini saya membawa mereka?"
Rangga memandang istrinya, hari ini mereka sudah ada rencana untuk menghabiskan waktu bersama. Namun tidak enak rasanya menolak permintaan Alif.
"Sebenarnya hari ini kita sudah ada rencana untuk pergi bersama karena saya sedang libur. Lebih baik kita tanyakan mereka saja langsung, kita tidak masalah kok jika mereka ingin pergi dengan Pak Alif," jawab Rangga.
__ADS_1
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Ternyata Alisa yang baru datang, ia telah pulang sekolah. Alisa tampak terkejut melihat kehadiran ayahnya di rumah mereka. Ia segera menyalami orang tuanya.
"Sayang, kebetulan kamu sudah pulang. Ayah ingin bertemu dengan mu dan ingin mengajak kalian jalan-jalan," ucap Rania.
Alisa yang memilih duduk di antara Rania dan Rangga tampak berpikir.
"Bukannya hari ini kita akan pergi, Bu? Aku sudah tidak sabar ingin pergi bersama Ibu dan Papa,"
Alisa memandang Alif dengan sedikit takut. Kata-kata Alisa menyakiti hati pria itu. Ia bisa pergi bersama mereka kapan saja, sedangkan dia tidak bisa bertemu setiap saat. Terlihat jelas rasa kecewa dalam sorot matanya. Sebagai seorang ayah, Rangga bisa mengerti perasaannya.
"Sayang, kita bisa pergi lain waktu kan setiap hari ketemu. Papa juga tidak terlalu sibuk sekarang, kita bisa undur liburannya. Ayah mu sangat rindu kepada kalian,"
Alif melihat Rangga dengan tatapan tidak percaya. Ternyata Rania tidak salah pilih suami, pria itu menurutnya cukup baik dan bijaksana.
"Tapi Mas, kita juga jarang bisa pergi bersama," sahut Rania.
Rangga mengusap lengan istrinya dengan lembut.
"Aku janji setelah ini kita akan menyempatkan waktu untuk liburan. Pak Alif pasti sangat merindukan kedua anaknya, jadi kita bisa undur rencana kita kan Sayang,"
Rania sedikit kecewa kepada suaminya, selama ini Alif tidak pernah peduli dengan anaknya, sekarang ia datang merusak rencana liburan mereka.
Alisa segera naik ke kamarnya.
"Aku tinggal ke dalam sebentar ya,"
Rangga pergi menyusul putrinya.
"Papa?"
"Alisa Sayang, bagaimanapun Ayah Alif itu adalah orang tua mu. Walaupun dia pernah berlaku buruk tapi kan setiap orang bisa berubah. Mungkin saat ini dia sudah sadar dan ingin memperbaiki kesalahannya. Kita harus bisa memaafkan, apalagi dia adalah orang tua kita. Hargai perasaannya, Alisa pasti terluka kan jika di perlakukan orang yang di sayangi seperti yang Alisa katakan tadi,"
Rangga perlahan memberi pengertian kepada putrinya. Alisa menunduk, ia merasa bersalah.
"Maafkan Alisa ya Pa, tidak seharusnya aku berbicara begitu," ucap Alisa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kita ke depan, tunjukkan senyum mu agar ayah mu senang. Karena kebahagian orang tua adalah anak mereka. Seperti papa dan ibu, kebahagiaan kita ada pada kalian,"
"Papa... aku sayang Papa dan ibu,"
Alisa memeluk Rangga dengan erat. Ia merasa beruntung mendapatkan ayah tiri seperti Rangga. Kasih sayangnya justru melebihi ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengizinkan mereka pergi dengan ku, aku pasti antar mereka dengan selamat. Kami pamit dulu ya,"
Mereka melambaikan tangannya. Awalnya Bintang menolak ikut, namun setelah di bujuk oleh Alisa ia bersedia.
☆☆☆
Malam harinya.
"Mas, aku merasa beruntung sekali memiliki suami yang pengertian seperti kamu. Aku harap kita bisa seperti ini selamanya,"
Rania memeluk suaminya dari belakang, tangannya melingkar di leher kokohnya. Perutnya yang mulai membesar menempel di punggung Rangga.
"Amin, aku juga berharap begitu Sayang. Aku juga sangat beruntung memiliki mu,"
Rangga memutar tubuh istrinya ke depan, ia mendudukkannya di pangkuannya. Kini mereka saling memandang dan tersenyum.
"Aku suka melihat mu dengan perut membesar seperti itu, kamu terlihat seksi," bisik Rangga di telinga Rania.
Wajah Rania merona, ia tersipu malu. Rangga menggendongnya menuju kasur, lalu membaringkannya perlahan. Ia menyingkap gaun tidur yang istrinya pakai. Ia menciumi perut istrinya dengan lembut. Ciuman penuh perasaan itu perlahan berubah menjadi gairah yang membara.
Rangga mulai bermain dengan gundukan kembar istrinya yang semakin hari semakin membesar. Ia menggigit puncaknya dengan gemas membuat Rania mendesis menahan rasa nikmat.
"Mas... Akh..."
Rania menggigit bibirnya, bagian bawahnya sudah tidak tahan. Tatapannya menginginkan suaminya untuk segera menuju inti. Namun Rangga sepertinya sengaja mengulur waktu, ia justru tidak berhenti mencium setiap inci tubuh istrinya.
"Mas... Ehm..."
Tring... tring... tring...
Ponsel Rania berdering tanpa henti.
"Mas, ehm... ada yang telepon dari tadi, tunggu sebentar,"
Rania menghentikan suaminya, ia takut ada hal penting karena dari tadi ponselnya berbunyi. Ternyata Alif yang menghubunginya. Perasaannya menjadi tidak karuan karena kedua anaknya sedang bersama dengannya.
"Mas Alif yang telepon, Mas," ucap Rania.
"Di angkat saja,"
"Halo, assalamualaikum,"
"Huaaa... huaaaa..."
Hanya suara tangisan yang ia dengar. Rania semakin panik.
__ADS_1
"Alisa Sayang, apa ini kamu Nak? Kenapa menangis? Kalian tidak apa-apa kan?"
Suara Rania bergetar, ia tak dapat menahan laju air matanya.