Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila


__ADS_3

Bu Nani melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Ia ingat betul itu adalah mobil suami Rania mantan menantunya, karena mereka sering menggunakannya saat datang ke rumahnya.


"Kenapa mereka datang ke sini ya," gumamnya.


"Halo Anto, iya aku ingin melaporkan tindakan kriminal yang di lakukan oleh mertua teman ku. Jadi dia sengaja mencelakakan menantunya yang sedang hamil hingga keguguran. Dan parahnya bukannya minta maaf, dia justru menagih biaya rumah sakitnya hingga 10 juta rupiah," Rangga sengaja mengeraskan volume suaranya.


Bu Nani yang tadinya ingin mengucap salam mengurungkan niatnya, ia justru menguping pembicaraan Rangga.


"Oh jadi begitu ya, berarti mertuanya itu bisa di penjara seumur hidup atau maksimal 20 tahun ya. Ok, setelah dari sini aku akan membawanya melapor langsung ke kantor polisi. Terima kasih,"


Rangga meletakkan ponselnya, sembari menahan tawa. Itu karena dari tadi ia hanya bicara sendiri. Ia sadar jika suaranya pasti di dengar oleh ibunya Alif karena sengaja berbicara kencang. Istrinya hanya bisa menatapnya tanpa ekspresi berarti.


"Hah, apa yang suaminya Rania maksud itu aku ya? Aku tidak mau sampai di penjara. Dia kan seorang pengacara, pasti tidak main-main dengan ucapannya,"


Tubuh bu Nani gemetar menahan rasa takut. Keringat dingin mulai mengucur deras di wajahnya.


"Ibu, kenapa di sini? Ayo masuk, ada mbak Rania dan suaminya juga di dalam,"


Bu Nani terkejut. Ia diam tidak menjawab, namun mengekor langkah menantunya. Wajahnya pucat pasi karena ketakutan.


"Ibu kenapa? Apa Ibu sakit?" tanya Laila.


"Laila aku minta maaf, tolong jangan laporkan aku ke polisi. Aku tidak mau di penjara. Aku juga tidak akan meminta ganti semua uang itu, tolong maafkan aku Laila,"


Bu Nani menghampiri menantunya, ia bersimpuh meminta maaf di kaki Laila sehingga membuat Laila tidak nyaman.


"Bangunlah Bu, jangan begini," ucap Laila.


"Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kamu berjanji untuk memaafkan perbuatan ku,"


Bu Nani tetap berlutut dan menangis di kaki menantunya. Sementara Rangga dan Rania terlihat senang karena rencananya berhasil.


Laila tidak sampai hati melihat ibu mertuanya begitu. Ia mengalah, walau hatinya belum bisa melupakan kejadian naas itu.


"Iya Bu, aku sudah memaafkan. Sekarang Ibu bisa bangun,"


Laila membantu mertuanya berdiri.


"Tapi kamu tidak akan melaporkan aku ke polisi kan?" tanya bu Nani merasa belum percaya.


"Iya Bu, aku tidak akan melaporkan. Sekarang Ibu duduk dulu, biar aku ambilkan minum,"


Laila melangkah ke arah dapur.


"Bagaimana kabarnya, Bu?" tanya Rania.


"Seperti yang kamu lihat," jawab bu Nani tanpa melihat Rania.


Bu Nani segera meminum teh yang di buat Laila.


"Ibu dengan siapa ke sini?" tanya Laila.


"Naik ojek. Aku mau pulang dulu ya,"

__ADS_1


Bu Nani bergegas pergi dari rumah itu, membuat Laila tertegun.


"Ibu kok aneh begitu ya," ucap Laila.


"Biarkan saja Laila, yang penting dia sudah minta maaf dan tidak mengganggu mu lagi," sahut Rania.


"Iya Mbak. Tapi aneh saja dia tiba-tiba bersikap begitu, padahal kalau datang pasti langsung menagih uang yang di anggapnya hutang itu,"


Laila masih merasa janggal. Sementara Rania dan Rangga saling bertatapan penuh arti.


☆☆☆


"Hahaha... hahaha..."


Rangga tidak dapat menahan tawanya ketika di dalam mobil.


"Hahaha... Mas jahil banget sih, mertua Laila sampai nyaris kencing loh tadi,"


Rania juga ikut tertawa, membuat anak-anak mereka merasa heran.


"Orang model mertuanya Laila itu harus di gituin Sayang. Kalau kita lemah, dia justru akan menginjak-injak kita,"


Ucapan suaminya memang benar karena dirinya sudah selama 11 tahun merasakannya. Namun karena dia sudah bukan bagian dari keluarga itu sehingga tidak bisa terlalu ikut campur. Beruntung suaminya punya ide yang cemerlang untuk membantu menyelesaikan masalah Alif dan Laila.


☆☆☆


Malam harinya.


"Mas, tadi ibu datang ke sini," lapor Laila.


Laila menggeleng.


"Dia tadi bersikap aneh Mas, tidak seperti biasanya," jawab Laila.


"Aneh bagaimana? Pasti dia menghina mu ya?"


Karena hampir setiap bertemu Laila ibunya menampakkan ketidak sukaannya, sehingga Alif berpikiran negatif.


"Tidak Mas, ibu justru bersimpuh di kaki ku meminta maaf. Dia takut aku melapor kepada polisi," jawab Laila.


"Ibu meminta maaf sampai bersimpuh? Apa kamu yakin, Laila?" Alif masih belum percaya.


"Iya Mas, bahkan beliau meminta maaf di depan mbk Rania dan suaminya tadi," Laila berusaha meyakinkan suaminya itu.


"Kok aneh ya," Alif tampak berpikir.


"Aku juga merasa begitu, Mas. Bahkan katanya kita tidak perlu bayar hutang itu," sahut Laila.


"Ya sudah kita ambil baiknya saja, alhamdulillah jika ibu memang sudah sadar. Ini uang yang 500 ribu kamu pegang saja untuk tambahan,"


Alif menyerahkan uang yang tadinya untuk mencicil hutang kepada ibunya ke tangan istrinya.


☆☆☆

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Anto.


"Dia jauh lebih baik, apalagi ketika selalu minum obat teratur. Jika perkembangannya sebaik ini, satu bulan ke depan pasti sudah bisa keluar," jawab dokter Hendro.


"Apa Dokter yakin?" tanyanya lagi.


"Anda bisa melihat sendiri, ayo saya ajak pak Anto menemuinya,"


Dokter Hendro menuju ruangan Michelle di ikuti oleh Anto. Gadis itu tampak sedang membaca buku saat mereka datang. Michelle tampak tersenyum ke arah mereka.


"Pak Komisaris, anda ke sini lagi," sapa Michelle.


"Panggil Anto saja, Michelle," ucap Anto.


"Saya tinggal ke ruangan sebelah dulu ya," pamit sang dokter, meninggalkan mereka.


"Kenapa anda begitu baik kepada ku? Padahal aku seorang kriminal?"


Michelle menatap Anto begitu lekat, dia merasa pria itu terlalu perhatian kepadanya. Padahal dia tahu jika dirinya hanya seorang wanita yang mengidap penyakit mental.


"Tidak ada alasan kita untuk baik kepada orang lain. Aku yakin kamu wanita yang baik, hanya karena tidak bisa mengontrol emosi saja jadinya seperti ini," jawab Anto.


Michelle tersenyum sinis, jawaban Anto terlalu klasik dan tidak membuatnya puas.


"Memangnya sudah berapa banyak wanita gila yang sudah berhasil anda tolong?" tanya Michelle.


"Hahaha... tidak ada,"


Anto tertawa mendengar pertanyaan Michelle.


"Jadi?" Michelle masih penasaran.


"Jadi apa?" Anto masih belum juga mengerti.


"Jadi kenapa anda ingin menolong ku?"


Anto bingung harus menjawab, ia malu untuk berkata jujur tentang perasaannya.


"Karena kita sesama manusia, jadi harus saling tolong menolong bukan," jawab Anto pada akhirnya.


Lagi-lagi wanita itu tersenyum sinis.


"Sebaiknya anda tidak perlu datang lagi ke sini, masih banyak kejahatan yang harus anda tangani,"


Michelle bangkit dan menuju ke arah pintu, mempersilahkan tamunya untuk segera pergi.


"Kenapa kamu mengusir ku?" tanya Anto.


"Silahkan pergi, pak Anto," ucap Michelle tegas.


"Tapi aku..."

__ADS_1


Michelle memandangnya dengan tajam.


"Aku menyukai mu, Michelle,"


__ADS_2