Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 104 Minta Maaf


__ADS_3

"Aku benar-benar minta maaf Laila, aku tidak tahu jika kejadiannya akan begini. Kamu boleh pukul aku, maki aku. Terserah apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah,"


Alif bersujud di kaki istrinya dengan berurai air mata.


"Apa dengan melakukan itu semua bisa membuat anak kita kembali, Mas? Tidak, bukan!"


Laila menatap nyalang.


"Aku tidak akan bersaing dengan ibu mu untuk mendapatkan perhatian dan cinta mu, Mas. Aku akan mengalah, aku memilih mundur,"


Hatinya sakit saat mengucapkannya, namun itu sepertinya jalan yang terbaik untuknya.


"Tidak, jangan katakan itu Laila. Aku mencintai mu, aku tidak akan melepaskan mu,"


Alif tidak ingin hidup sendiri tanpa cinta lagi, ia bisa hancur untuk kesekian kalinya jika sampai itu terjadi.


"Pergilah, Mas!"


Laila mendorong suaminya dan secepatnya menutup pintu. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya, ia duduk di balik pintu sembari menangis. Ia berharap banyak kepada suaminya, ia ingin pernikahannya dengan Alif menjadi yang terakhir dan selamanya. Tidak menyangka akan berakhir bahkan dalam hitungan bulan.


Sementara Alif tetap bergeming di depan pintu. Perasaannya hancur berkeping-keping mendengar istrinya menyerah terhadap pernikahan mereka. Ia bertekad untuk terus menunggu Laila di situ, tak peduli apa pun yang terjadi. Ia harus bisa memperbaiki hubungan mereka.


☆☆☆


"Bagaimana perkembangan kasus Michelle, Mas?" tanya Rania.


"Kamu tidak akan percaya, Sayang. Semalam Anto mengirimi aku pesan tentang hal itu tapi baru saja aku baca," jawab Rangga.


Rania mengeryitkan dahinya.


"Memangnya kenapa?"


"Michelle di bebaskan, dia terbukti punya penyakit kejiwaan. Hasil pemeriksaan dokter dan pengakuan ibunya serta bukti rekam medis dari rumah sakit tempat dia di rawat selama ini menyatakan demikian," Rangga diam sejenak.


"Dia di masukkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan," imbuhnya.


"Astagfirullah, kasihan ya dia. Sudah dua orang wanita yang tergila-gila pada mu sampai depresi begitu, Mas,"


"Suami mu ini memang idaman wanita, makanya kamu harus bersyukur aku memilih mu," goda Rangga sembari mencolek dagu istrinya.


"Ish... bangganya yang jadi rebutan. Mau belajar jadi playboy ya,"


Rania mencubit pinggang suaminya hingga Rangga merasa geli.


"Berani ya sekarang,"


Rangga gemas, ia mencium bibir istrinya dengan sedikit kasar. Rania yang tanpa persiapan hanya bisa pasrah.


"Mas, jangan! Aku masih dalam masa nifas,"


Kata-kata istrinya menyadarkan dirinya yang sudah di landa birahi.


"Maafkan aku ya, Sayang,"


Rangga mencium kening istrinya.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya minta maaf karena belum bisa menjalankan kewajiban ku, Mas,"


"Tidak Sayang, itu terjadi juga karena diri mu sudah berjuang untuk melahirkan keturunan ku,"


Keduanya tersenyum lalu berpelukan.


"Oh ya Sayang, aku punya kejutan untuk mu. Sebenarnya aku ingin memberikannya setelah kamu melahirkan, tapi karena banyak kejadian yang tidak terduga aku jadi lupa,"


Rangga berjalan menuju brankas. Ia mengambil kotak hadiah yang di hias sedemikian rupa sehingga terlihat cantik sekali.


"Ini Sayang, bukalah,"


Rangga menyerahkan hadiah itu kepada istrinya.


"Wah apa ini isinya?"


Rania merasa surprise sekali, ia tak menyangka suaminya akan menyiapkan hadiah seperti ini. Dengan perlahan ia mulai membukanya.


"Astaga Mas, ini terlalu berlebihan,"


Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya karena terharu. Satu set perhiasan yang sangat indah terpampang di depan matanya.


"Itu di bawahnya masih ada, coba kamu buka," titah Rangga.


"Kertas ini?" tanya Rania.


Rangga mengangguk. Di bukanya dua kertas yang berisi beberapa lembar.


"Mas, terima kasih,"


"Apa kamu senang?" tanya Rangga.


"Senang, tapi ini pasti mahal sekali ya? Ini kan letaknya di kawasan elit. Mengapa sampai beli dua? Mas terlalu membuang-buang uang,"


Rania merasa sayang sekali suaminya sampai membelikannya dua buah rumah di kawasan elit. Padahal rumah mereka saja sudah sangat besar, untuk apa lagi membeli rumah lagi.


"Sekalian investasi Sayang, kita kan tidak tahu kehidupan kita yang akan datang bagaimana. Itu bisa kamu berikan kepada Alisa dan Bintang saat mereka dewasa kelak,"


Rania menatap suaminya dengan penuh rasa syukur. Ia sangat memikirkan masa depan kedua anaknya, walau mereka bukan anak kandungnya. Ia sangat bersyukur mendapat suami sebaik Rangga.


☆☆☆


Sore harinya.


Sudah berjam-jam Alif diam di depan rumah Laila. Tanpa makan dan minum, dari tadi ia hanya menatap pintu rumah itu. Ia berharap istrinya merasa iba dan membukakan pintu untuknya. Tanpa ia sadari, Laila tidak tahu jika dirinya masih berasa di sana.


Langit berubah mendung, angin mulai bertiup dengan kencang. Rintik hujan mulai membasahi bumi. Wangi khas tanah yang tersiram air hujan begitu menyenangkan indera penciuman.


"Laila, maafkan aku," gumam Alif.


Tubuhnya terasa lemah, kepalanya mulai berkunang-kunang. Ia meninggalkan rumah orang tuanya tanpa sarapan apa pun. Sedang sekarang sudah sore hari dan perutnya masih belum terisi sedikit pun.


Derrr...


Suara petir menggelegar, rintik hujan berubah mrnjadi deras, mengguyur hingga memercik mengenai pakaian dan tubuh Alif. Ia mulai menggigil kedinginan. Ada tas berisi pakaian di dekatnya, namun tidak ada keinginan dirinya untuk memakainya sebagai pengusir dingin. Ia ingin istrinya tahu keseriusannya.

__ADS_1


Laila ingin menutup jendela karena tampiasan air hujan masuk ke dalam rumahnya. Tidak sengaja ia melihat ke arah luar. Pandangannya tertuju pada suaminya yang sedang kedinginan di luar sana.


"Mas Alif, kenapa dia belum pulang juga? Ya Allah..."


Hatinya terusik melihat pemandangan di depannya. Rasa cinta dan kasihan bercampur aduk di dalam hatinya. Ia tidak tega melihat suaminya begitu.


Krekkk...


Di bukanya pintu dan berlari kecil menuju suaminya.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Jangan kekanakan seperti ini, malu jika sampai di lihat tetangga,"


Laila memegang lengan suaminya yang mulai terhuyung lemah.


"Laila..."


Hanya itu yang terucap dari bibir Alif sebelum ia memeluk istrinya. Sepertinya ia akan pingsan.


"Mas, kamu tidak apa-apa?"


Laila mulai kuatir, ia segera memapah suaminya masuk ke dalam rumah. Karena tidak ingin suaminya masuk angin di bukanya semua pakaian Alif lalu menyelimutinya.


"Harusnya kamu tidak melakukan ini, Mas," gumam Laila sembari membuatkannya teh hangat.


"Laila..." Alif membuka matanya.


"Iya Mas, minumlah teh hangat ini agar tubuh mu hangat,"


Laila membantu suaminya minum.


"Aku belum makan dari pagi, Laila," ucap Alif.


Laila menghela napas dengan kasar. Pantas saja tadi ia sampai hampir pingsan. Ternyata belum makan lalu terkena air hujan, pasti masuk angin.


"Aku ambilkan makanan dulu,"


Laila beranjak ke dapur. Ia kembali dengan sepiring makanan masakannya.


"Mas bisa makan sendiri?"


"Akan aku coba,"


Alif mengambil piring itu lalu mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Namun karena tangannya gemetar membuat makanannya berceceran di kasur.


"Biar aku suapin saja, Mas,"


Dengan sabar ia menyuapi Alif.


"Jangan tinggalkan aku Laila, aku mencintai mu," ucap Alif.


"Jangan menyalah artikan sikap ku Mas, jika orang sedang kesusahan sudah sepantasnya kita menolong," balas Laila.


"Apa jika aku orang lain, kamu juga akan membukakan semua pakaian orang itu Laila?"


Laila menatap Alif, lalu beranjak meninggalkannya. Tentu saja ia melakukan hal itu karena dia adalah suaminya. Dan sejujurnya ia juga masih mencintai pria itu.

__ADS_1


__ADS_2