Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga


__ADS_3

"Sayang, kita mau makan dulu atau langsung ke rumah nenek dan kakek?" tanya Rangga saat masuk ke dalam mobil.


"Nenek siapa Om? Nenek Nani atau nenek Arum?" tanya Alisa dengan polosnya.


Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Arum itu nama ibu ku Rangga, apa kamu lupa? Kalau Nani itu nama mantan ibu mertua ku, kamu ingat kan?"


"Oh iya, maaf aku sedikit lupa. Kita sekarang akan pergi ke rumah nenek Rahmi dan kakek Irfan, mereka adalah orang tua Om,"


"Apa mereka baik, Om? Tidak jahat seperti nenek Nani kan?"


Alisa masih trauma dengan perlakuan ibu dari ayahnya itu, karena setiap ada dirinya pasti selalu ada saja keributan yang terjadi.


"Mereka sama seperti Om, jadi tenang saja kalian pasti menyayanginya,"


Alisa lega mendengar penuturan pria itu. Mereka berkendara dengan rasa bahagia. Hanya butuh kurang dari 30 menit untuk sampai di sana.


"Assalamualaikum,"


Semua serempak memberi salam ketika sampai di rumah orang tua Rangga. Rumahnya sangat besar dan mewah persis seperti di sinetron-sinetron yang pernah mereka lihat untuk rumah orang-orang kaya. Orang tua Rangga memang keturunan orang kaya, ibu dari ayahnya adalah seorang pengacara terkenal sedangkan suaminya adalah pebisnis ternama. Kalau ibu dari ibunya Rangga adalah seorang anggota dewan sedangkan suaminya juga pebisnis ternama. Orang tua Rangga mewarisi beberapa bisnis dari orang tua mereka.


"Om, rumah orang tuanya besar sekali. Pasti susah mengurus rumah sebesar ini," ucap Alisa.


"Sayang, biasanya kan orang kaya punya asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan mereka," balas Rania.


"Seperti di tv itu ya Bu, enaknya ya apa-apa pembantu yang mengerjakan," ucap Alisa.


Percakapan mereka terhenti saat pintu di buka. Seorang asisten rumah tangga membuka pintu setelah mendenar bel berbunyi.


"Mas Rangga, silahkan masuk. Tuan dan nyonya sudah menunggu di meja makan,"


Bibi itu segera membawa mereka masuk langsung ke meja makan. Rangga dan semuanya segera menyalami mereka yang masih terlihat gagah dan cantik.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo kita makan dulu. Ngobrolnya nanti setelah makan saja," ucap ibunya Rangga.


"Kalian makan yang banyak ya, ini mama yang masak khusus untuk kalian. Semoga kalian suka ya," imbuh ibunya Rangga.

__ADS_1


"Terima kasih Tante, maaf sudah merepotkan," ucap Rania.


"Tidak Sayang, kalian tamu spesial jadi harus di perlakukan dengan spesial," balasnya.


Masakan ibu Rangga benar-benar enak, Alisa yang paling lahap makannya. Rania sampai tersipu malu melihat tingkah putrinya itu.


"Biarkan saja Nia, ayo tambah lagi Alisa," ucap ayah Rangga.


Sepertinya Rangga memang telah banyak bercerita tentang keluarganya, orang tuanya sampai tahu nama-nama anaknya.


"Alhamdulillah, masakan nenek benar-benar enak ya Bu," puji Alisa setelah selesai makan.


"Letakkan saja piringnya, biar bibi nanti yang membereskan. Ayo kita ke ruang keluarga, kami ingin berbincang dengan kalian,"


"Tapi..."


"Sudah, turuti apa kata mama,"


Rangga segera menarik tangan Rania, mereka menuju ke ruang keluarga.


"Alisa, Bintang, ayo Om ajak berkeliling. Di sini juga ada kolam renang dan taman bermain di belakang lo," ajak Rangga.


"Tidak apa-apa, mereka ingin mengobrol dengan mu. Tenang saja mereka tidak menggigit kok," kelakarnya.


Rangga segera berlalu dari sana, tinggallah Rania dan kedua orang tua pria itu. Rasa gugup memenuhi relung hati Rania, mengalahkan rasa groginya saat sidang perceraian dengan Alif. Entah apa yang akan mereka bicarakan, ia sama sekali tidak bisa menduganya.


"Rangga sudah bercerita banyak tentang diri mu. Tentang pertemuan kalian, tentang perceraian mu juga. Aku turut prihatin ya Rania, tapi aku juga mendukung keputusan mu. Sekarang apa rencana mu ke depannya?" tanya ibu Rangga.


"Terima kasih, Tante. Untuk saat ini saya hanya fokus membesarkan anak-anak dan menjalankan usaha yang sebelumnya sudah saya rintis, Tante," jawab Rania sopan.


"Kamu wanita hebat, Rangga bercerita bagaimana perjuangan mu hingga bisa sukses seperti ini. Apa kamu tidak ingin membina rumah tangga kembali, kedua anak mu pasti butuh sosok ayah yang bisa melindunginya?"


Pertanyaan ibunya Rangga sepertinya terlalu dini untuk di tanyakan saat ini, namun ia sudah sangat sekali putranya itu menikah. Selama ini dia tidak pernah mengenalkan seorang wanita sebagai kekasihnya, kecuali Rania kala itu.


"Setiap wanita pasti mendambakan sosok suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya, namun kegagalan pernikahan sebelumnya masih meninggalkan trauma untuk saya. Seandainya Tuhan mengirimkan seorang pria yang tulus mencintai saya dan anak-anak insyallah saya akan terima, Tante. Tapi untuk saat ini saya masih belum terpikir ke arah sana, karena juga masih dalam masa iddah,"


"Aku sangat ingin sekali melihat Rangga menikah, usianya sudah 37 tahun namun belum juga mau berumah tangga. Padahal aku sudah ingin menimang cucu. Nanti jika kalian menikah lebih baik tinggal di sini saja, rumah ini akan ramai dengan kehadiran Alisa dan Bintang," ucap ibu Rangga.

__ADS_1


"Iya Rania, kalian juga jangan menunda untuk punya anak nanti. Usia kalian sudah matang, setelah masa iddah lebih baik segera menikah saja," sahut ayah Rangga.


Rania terpana dengan apa yang orang tua Rangga bicarakan, mengapa bisa mereka berpikiran jika ia akan menikah dengan Rangga. Padahal pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Rania bingung harus bagaimana menyikapi kesalahpahaman ini.


"Maaf Om, Tante, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Rangga tidak mungkin menikahi saya yang hanya seorang janda, dia pasti memilih wanita yang masih gadis," ucap Rania.


"Sayang, kita tidak masalah dengan status mu yang seorang janda. Jika dengan mu dia bisa memperoleh kebahagiaan yang selama dia cari, om dan tante setuju kok," jawab ibu Rangga.


Rania tidak bisa menjawab lagi. Rangga berhutang penjelasan kepadanya. Pria itu membuat dirinya serasa mati kutu di hadapan orang tuanya.


Di tengah kegelisahan yang mendera Rania, akhirnya pria itu datang dengan tanpa rasa bersalah bersama kedua anaknya yang terlihat sangat gembira.


"Lihat itu Rania, kedua anak mu juga sangat menyukai calon suami mu. Rangga pasti menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian"


'Oh Tuhan mengapa semua jadi begini' ratap batin Rania.


"Apa masih belum selesai bicaranya? Memangnya bicara apa sih, sampai pakai rahasia segala?" tanya Rangga.


Rania kesal dengan pria itu, entah dirinya benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu saja.


"Ini rahasia kami bertiga," jawab ibunya.


Rania hanya tersenyum menanggapinya.


"Kita istirahat dulu ya, kalian juga istirahat. Pulangnya nanti sore atau habis magrib saja ya, jangan buru-buru,"


Orang tua Rangga segera pergi ke kamarnya. Dengan penuh rasa kesal Rania mencubit lengan pria itu.


"Akh... sakit Nia," teriak Rangga.


"Kenapa kamu bilang kita mau menikah kepada orang tua mu?" tanya Rania kesal.


"Aku tidak bilang begitu," jawab Rangga.


"Jadi kamu tidak mau menikahi ku ya?"


Ada rasa kecewa dalam hatinya saat menanyakannya. Mungkin orang tua Rangga memang salah paham.

__ADS_1


"Apa kamu mau kita menikah?" tanya Rangga.


__ADS_2