
"Assalamualaikum, Mbak," sapa Laila.
"Waalaikum salam, ayo ke atas saja Laila," ajak Rania.
Mereka naik ke lantai dua, duduk santai di ruang keluarga.
"Maaf ya Mbak, aku baru sempat ke sini. Maaf juga skincare yang aku pasarkan tidak begitu laku," ucap Laila.
"Astaga, tidak apa-apa Laila. Rejeki sudah ada yang mengatur, pasti tidak akan tertukar. Yang penting sekarang kamu punya penghasilan tambahan," balas Rania.
"Alhamdulillah, semua berkat bantuan Mbak Rania. Sekarang ekonomi kita makin membaik, apalagi ibunya Mas Alif tidak jadi meminta kita membayar hutang,"
Rania jadi teringat ide suaminya yang berhasil membuat mertua Laila itu ketakutan setengah mati, hingga bersimpuh meminta maaf kepada Laila. Bahkan ibu dari mantan suaminya itu tidak jadi meminta ganti biaya operasi kepada anak dan menantunya.
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya," ucap Rania.
"Aku ingin mengembalikan ini Mbak, terima kasih sudah berkenan meminjamkan modal waktu itu,"
Laila menyerahkan amplop berisi uang 3 juta rupiah yang tempo hari ia pinjam.
"Apa ini, Laila?"
Rania membuka amplop itu. Setelah tahu isinya adalah uang, ia menyerahkannya lagi kepada Laila.
"Ambil saja ini Laila, tidak perlu kamu kembalikan. Aku memberikannya untuk Akila, dia itu kan saudaranya Alisa dan Bintang,"
"Tapi Mbak, Mbak sudah memberi terlalu banyak untuk keluarga ku. Aku tidak mau merepotkan terus," tolak Laila.
"Tidak ada kata merepotkan dalam hubungan saudara, Laila,"
Laila terharu, Rania menganggapnya saudara. Ia tidak habis pikir mengapa suaminya pernah menyia-nyiakan wanita sebaik dia. Seorang wanita berhati malaikat, bahkan kepada orang lain yang baru saja ia kenal.
☆☆☆
Dua hari kemudian.
"Apa tidak bisa dia keluar lebih cepat, Dok? Aku rasa dia sudah benar-benar pulih,"
Sudah dua hari ini Anto mencoba membujuk dokter Hendro agar segera bisa mengeluarkan Michelle dari rumah sakit jiwa. Ia tidak tahan melihat wanita pujaannya selalu murung karena bosan berada di tempat itu. Anto tidak tahu konsekuensi apa yang harus ia tanggung jika memaksa mengeluarkannya sebelum waktunya.
"Sudah saya katakan tidak semudah itu, kita harus benar-benar yakin jika dirinya telah 100 persen sembuh, baru bisa mengeluarkannya dari sini," jawab dokter Hendro.
"Tolonglah Dok, aku yang akan menjaminnya,"
Anto mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal dan memberikannya kepada dokter Hendro.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak menerima suap," tolaknya.
"Ini bukan suap, saya ikhlas memberikannya. Saya mohon Dokter bisa segera mengeluarkan Michelle dari sini, saya janji akan selalu menjaganya," pinta Anto dengan wajah memelas.
Dokter Hendro menghela napas kasar, ia tahu jika Anto memang menyukai Michelle. Ia pasti akan menjaganya dengan suka rela.
"Baiklah, tapi saya tidak akan bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nantinya,"
Dokter Hendro akhirnya mengalah.
"Apa artinya dia boleh keluar dari rumah sakit ini, Dok?" tanya Anto.
Dokter Hendro mengangguk.
"Besok pagi dia bisa meninggalkan tempat ini, saya akan segera membuatkan surat rekomendasinya. Tapi ingat, karena anda yang memaksa maka saya tidak akan bertanggung jawab untuk yang terjadi selanjutnya," jawabnya tegas.
Anto sangat senang. Walaupun dokter itu mau menyetujui permintaannya, namun ia tidak mengambil uang pemberiannya. Ia melakukannya bukan karena uang melainkan karena melihat ketulusan Anto terhadap pasiennya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Anto segera berlari menemui Michelle untuk memberi tahu kabar baik ini.
☆☆☆
Tring... tring... tring...
"Assalamualaikum, Yah," sapa Fery.
"Waalaikum salam,"
Pak Agus sudah menduga menantunya akan menelepon untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Apa Nelly ada di sana, Yah? Dia tiba-tiba menghilang saat aku kembali dari dinas di luar kota," jelas Fery.
"Kamu tenang Nak, dia ada di sini kok. Aku harap kalian segera menyelesaikan masalah kalian. Jangan biarkan masalah berlarut-larut tanpa ada ujung pangkalnya,"
Pak Agus memberi nasehat, ia tidak ingin putrinya menjadi janda untuk kesekian kalinya.
"Maaf ya Yah, aku pasti akan segera menyelesaikannya,"
Setelah beberapa lama mengobrol akhirnya panggilan di akhiri. Pak Agus segera menemui putrinya.
"Nak, apa kamu masih mencintai suami mu?" tanya pak Agus.
"Tentu saja Yah, rasanya tidak akan sesakit ini jika aku tidak mencintainya," jawab Nelly.
Ia mulai bersedih lagi jika mengingat apa yang tengah menimpanya.
__ADS_1
"Aku sudah menasehati suami mu, besok ia akan datang untuk menjemput mu. Aku harap kamu bisa lebih dewasa, jangan setiap jika ada masalah kamu langsung pulang. Selesaikan baik-baik. Jangan biarkan pernikahan mu kandas begitu saja,"
Nelly mendengarkan nasehat ayahnya. Sejujurnya ia juga tidak mau menjanda lagi. Namun cobaan ini terasa berat untuknya.
"Maafkan aku Yah, harusnya aku berpikir dulu sebelum memutuskan pergi," ucap Nelly.
"Tapi ibu tidak terima kamu di perlakukan seperti itu oleh mertua mu. Enak saja mereka, aku sudah merawat mu dari kecil dengan baik bukan untuk di caci maki seperti itu," sahut bu Nani yang tiba-tiba muncul.
"Kamu tidak terima anak mu di hina orang, apa kamu pikir orang tua menantu mu rela anaknya kamu hina? Mungkin apa yang menimpa putri mu adalah hukuman atas kesewenangan mu terhadap Rania dan Laila. Makanya jangan pernah jahat kepada orang lain, terutama menantu mu," balas pak Agus.
"Apaan sih, tidak ada sangkut pautnya tahu,"
Bu Nani mencebikkan mulutnya, ia tidak suka mendengar ucapan suaminya.
☆☆☆
Sementara itu, di rumah sakit jiwa.
"Michelle pasti senang mendengar kabar baik ini," ucap Anto.
Ia berniat masuk ke dalam ruangan, namun ternyata pintunya tidak tertutup dengan rapat. Ia melihat wanita pujaannya sepertinya sedang bicara sendiri. Karena ingin memberi surprise ia masuk diam-diam. Michelle tidak tahu karena posisinya yang membelakangi pintu.
"Aku mencintai mu, sampai kapan pun tidak akan berubah. Aku tidak peduli walaupun kamu telah menikah, aku rela menjadi yang kedua asalkan kita bisa bersama,"
Betapa terkejutnya Anto tatkala wanita itu mengatakannya kepada seorang pria di foto yang tengah wanita itu pegang. Foto seorang pria yang tengah tersenyum. Iya, wanita itu ternyata masih berharap kepada Rangga.
Hati Anto terasa hancur berkeping-keping. Betapa teganya Michelle menjatuhkannya setelah sebelumnya melambungkannya begitu tinggi. Sakit, perih, sampai rasanya pria itu ingin menangis dan berlari menjauhi dunia ini.
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika masih mencintainya,"
Kata-kata Wanto mengejutkan Michelle, ia segera meletakkan foto Rangga kembali di dalam buku yang sering ia baca.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Michelle panik.
"Sudah cukup lama untuk mendengarkan curahan hati mu," jawab Anto.
Pria itu berbalik dan menuju pintu keluar. Ia terlalu kecewa untuk terus berada di ruangan itu.
"Tunggu... Kamu pasti salah paham," cegah Michelle.
Anto terdiam sesaat, namun kemudian terus melangkah. Michelle berlari untuk mencegahnya pergi.
"Jangan pergi..." pinta Michelle.
Tangannya merangkul Anto dari belakang, membuat pria itu berhenti melangkah.
__ADS_1