Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang


__ADS_3

"Ada apa, Alisa? Kenapa kamu berteriak dan menangis?" Alif bertanya dari lantai atas.


"Tante keluar darah, Yah. Huaa... huaa..."


Alisa masih duduk di dekat Laila, sementara bu Nani hanya berdiri saja walau terlihat cemas. Alif langsung berlari ke bawah.


"Astaga Laila, kenapa bisa begini?"


Alif sangat kuatir melihat istrinya berdarah-darah.


"Ada apa sih, kenapa ramai sekali?" pak Agus terbangun dari tidurnya.


"Astaga, Laila kenapa? Ayo bawa ke rumah sakit,"


Pak Agus langsung menyiapkan mobil. Mereka membawa Laila ke rumah sakit.


"Bu, tolong jaga anak-anak. Biar aku dan ayah yang membawa Laila ke rumah sakit," ucap Alif.


Mereka langsung berangkat ke rumah sakit terdekat.


"Kenapa Nenek jahat sekali? Huaa... huaa..."


Alisa memandang kesal kepada bu Nani.


"Kamu bicara apa, Sayang? Nenek tidak mengerti?"


Bu Nani mendekati Alisa, namun gadis itu menghindar.


"Aku tahu semuanya, Nek!"


Alisa menggandeng Bintang lalu berlari ke kamar ayahnya di lantai dua. Ia mengunci pintunya. Ia memeluk adiknya yang masih terlihat bingung.


Berulangkali bu Nani membujuknya untuk membuka pintu, namun tidak ia dengarkan sampai mereka tertidur karena kelelahan.


☆☆☆


Alif dan pak Agus segera membawa Laila ke UGD. Mereka sangat kuatir karena darah tidak berhenti mengalir.


"Kenapa sampai begini ini?" tanya suster itu.


"Sepertinya jatuh, Sus. Saya tidak tahu persis karena sedang berada di lantai atas," jawab Alif jujur.


Suster itu terlihat tidak senang mendengar jawabannya.


"Tunggu di sana saja, biar di tangani dokter," ucap suster itu sedikit ketus.


Dokter dan beberapa suster sedang menangani istrinya. Ia hanya bisa menunggu sembari tiada berhenti berdoa untuk keselamatan istri dan juga bayinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Lif? Kenapa Laila sampai bisa pendarahan hebat begitu?" tanya ayahnya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, Yah. Tadi kita mau tidur, tapi Laila masih ingin mengambil air di dapur. Tahu-tahu Alisa berteriak dan menangis, aku sudah melihat Laila pingsan dan pendarahan," jawab Alif.


Keduanya kemudian terdiam, mereka berharap Laila serta bayinya baik-baik saja.


"Keluarga ibu Laila?" panggil suster.


"Saya suaminya, Sus. Ada apa? Bagaimana keadaan istri dan bayi saya?"


Alif bangkit menghampiri suster itu. Lalu kemudian dokter keluar juga.


"Pak maaf sekali, kami tidak bisa menyelamatkan bayi Anda. Demi keselamatan istri anda, kami harus melakukan tindakan operasi. Tolong di tanda tangani segera surat peesetujuannya,"


Dunia Alif seketika runtuh mendengar penjelasan dokter. Ia nyaris ambruk jika saya ayahnya tidak memegangnya. Kepalanya terasa berkunang-kunang merasakan cobaan yang begitu berat seperti ini.


"Sabar Nak, kamu harus kuat. Cepat tanda tangani agar Laila bisa segera di selamatkan," ucap pak Agus.


"Apa benar-benar sudah tidak ada harapan untuk bayi saya, Dok?" tanya Alif dengan pandangan berharap.


"Maaf sekali Pak, benturannya sepertinya cukup keras sehingga bayinya tidak bisa bertahan. Bapak yang sabar ya," dokter memegang pundak Alif untuk menguatkannya.


Dengan hati hancur berkeping-keping ia memandangi surat tindakan operasi tersebut. Walaupun ia sudah memiliki dua orang anak, ia sangat berharap memiliki keturunan dari Laila. Ia ingin hubungannya dengan istrinya semakin kuat dengan adanya seorang anak di tengah-tengah mereka. Namun harapan itu kini telah hancur karena musibah yang tidak terelakkan.


Setelah menandatangani surat persetujuan, dokter segera melakukan operasi terhadap Laila. Alif dan ayahnya menunggu dengan tidak sabar. Air matanya kadang tidak sanggup ia tahan sehingga harus menyekanya berkali-kali.


'Selamat tinggal, Sayang... maaf ayah tidak bisa menjaga mu dengan baik,' batin Alif.


"Sabar Lif, kalian bisa mencobanya lagi setelah kesehatan Laila membaik,"


☆☆☆


"Bagaimana jika dia melukai Naya, Mas?"


Rania tidak bisa berhenti menangis, walaupun sudah berusaha menepis segala kemungkinan buruk, tetap saja pikiran itu berkelebat di kepalanya.


"Berhentilah berpikir seperti itu Sayang, kita harus yakin Allah akan menjaga anak kita,"


Walaupun Rangga juga kuatir dan ragu dengan ucapannya sendiri, ia tidak mungkin membuat istrinya semakin sedih.


Mereka telah sampai di tempat tujuan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Rumah penduduk mulai terlihat sepi.


"Harusnya benar ini rumahnya," ucap Anto.


"Rangga, Rania,"


Ternyata Jeremy dan Siska juga datang ke tempat itu.


"Kalian di sini juga rupanya, terima kasih ya," ucap Rangga.


"Maaf ya Rangga, gara-gara kami ke rumah mu waktu itu mengakibatkan kejadian seperti ini," balas Siska.

__ADS_1


"Sudahlah, kaliann kan juga tidak tahu apa yang Michelle rencanakan,"


"Aku baru dapat info dari salah satu kerabat dekatnya, sebenarnya dia punya masalah mental. Dia pernah depresi, sepertinya karena berkali-kali kamu tolak waktu itu," imbuh Siska.


"Apa? Jadi Michelle punya gangguan jiwa? Ya Tuhan, bagaimana nasib Naya?"


Rania semakin shock, tubuhnya limbung dan nyaris jatuh jika suaminya tidak sigap menangkapnya.


"Sayang, aku mohon kamu tenang dulu. Siska tolong temani istri ku di mobil ya, dia baru melahirkan keadaan tubuhnya pasti lemah,"


"Aku mau ikut, Mas... Aku tidak mau anak ku kenapa-kenapa," Rania masih kukuh untuk ikut walau tubuhnya sudah tidak kuat lagi.


"Sayang, aku mohon mengertilah. Aku berjanji akan membawa anak kita dengan selamat, kamu harus jaga diri baik-baik,"


Rania terpaksa menurut, ia tidak ingin mengganggu proses penyelamatan bayinya. Yang sekarang bisa ia lakukan hanya menunggu dan berdoa untuk keselamatan bayinya.


Petugas polisi mulai mengintai rumah itu. Ada yang dari depan, samping dan dari atas. Rangga begitu tegang, nyawa putranya sekarang sedang di pertaruhkan.


"Anto, tolong utamakan keselamatan putra ku ya," pinta Rangga.


"Iya, tenang saja kita mengerti kok. Bantu doa juga ya,"


Mereka berhasil masuk ke dalam rumah tanpa menimbulkan kecurigaan. Sayup-sayup terdengar suara bayi menangis dan wanita yang sedang berbicara.


"Michelle, sebaiknya kamu kembalikan bayi ini kasihan orang tuanya pasti sangat kuatir. Lihatlah dia menangis terus," ibunya terus saja membujuk.


"Aduh bayi ini tidak mau diam, berisik sekali. Cepat suruh dia berhenti, aku pusing mendengarkan tangisannya,"


Michelle menyerahkan Naya kepada ibunya. Ia memegang kepalanya yang sakit.


"Jangan bergerak, kalau tidak kita akan menembak!" polisi sudah mengepung mereka.


Michelle dan ibunya saling pandang, mereka terkejut melihat banyak polisi sudah mengepung mereka. Ia melihat jendela kamarnya lepas dari penjagaan.


"Berikan bayi ku,"


Rangga dan Michelle berebut ingin mengambil Naya, namun wanita itu kalah cepat. Karena merasa kalah wanita itu nekat memanjat jendela.


"Berhenti!" perintah polisi.


Dor... dor...


Dua kali tembakan peringatan tidak Michelle hirauan.


"Michelle, berhenti Nak," cegah ibunya.


Ketika Michelle nyaris saja bisa keluar lewat jendela polisi terpaksa menembaknya sekali dan tepat mengenai dirinya.


Dor...

__ADS_1


"Akh..." Michelle mengaduh kesakitan.


__ADS_2