
Semenjak ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Desi, Alif belum juga kembali. Ia juga sudah menjelaskan permasalahan yang menimpa rumah tangganya kepada Ayah mertuanya tempo hari. Beruntung pria itu bisa memaklumi kemarahan menantunya. Ayah mertuanya berjanji akan menasehati putrinya agar bisa sadar.
"Lif, sampai kapan kamu akan tinggal di sini? Bukannya ibu mengusir, hanya saja kasihan Desi kamu tinggal sendirian. Dia pasti kesepian, apalagi putrinya ia titipkan di rumah orang tuanya," ucap Bu Nani.
"Aku tidak tahu Bu, aku lebih tenang di sini. Aku takut jika aku kembali ternyata dia belum berubah," balas Alif.
"Iya kalau kamu tidak kesana, darimana kamu akan tahu dia sudah berubah apa belum?"
Alif berpikir jika kata-kata ibunya memang benar. Sepertinya tidak ada salahnya jika ia pulang kembali untuk melihat istrinya.
"Baiklah Bu, sebentar lagi aku akan pulang,"
☆☆☆
"Mas, bagaimana jika kita kembali rujuk saja? Aku sudah capek dengan Mas Alif, dia perhitungan dan tidak jago di ranjang. Kamu kan masih cinta sama aku, apalagi kita juga sudah punya anak,"
Desi sedang merayu mantan suaminya, ia sengaja memanggilnya ke kosnya memanfaatkan kepergian Alif.
"Desi, kamu kan tahu aku sudah menikah lagi. Jadi mana mungkin kita rujuk," balas pria itu.
"Mas Soni begitu deh, katanya masih cinta sama aku," Desi mulai merajuk.
"Iya memang, tapi aku tidak mungkin bercerai. Istri ku itu kaya, aku tidak bisa hidup enak jika bercerai dengannya," ucap Soni beralasan.
"Ya sudah kalau begitu kita selingkuh saja, bagaimana?"
Desi memang tidak tahu malu, suami pergi bukannya sadar justru menggoda pria lain dan mengajaknya bermain api.
"Kalau suami mu tahu bagaimana?"
"Dia lagi minggat ke rumah orang tuanya. Lagian kita kan bisa bertemu sembunyi-sembunyi,"
"Apa kamu yakin, Des?"
"Tentu saja. Memangnya Mas tidak rindu dengan ku?"
__ADS_1
Desi mulai berpose menggoda, bahkan ia menaikkan roknya hingga ke pangkal pahanya. Memperlihatkan gundukan segitiga yang membuat Soni menelan salivanya.
"Kamu memang nakal, Des. Kamu harus bertanggung jawab sudah membangunkan macan sedang tidur," ucap Soni.
Bisa di tebak apa yang mereka lakukan selanjutnya. Mereka lebih mementingkan syahwat daripada logika. Tidak memikirkan perasaan pasangan masing-masing, padahal jika pasangan mereka berbuat hal sama pasti mereka juga tidak akan terima.
Saat mereka tengah asyik bercumbu, Alif datang membawa perdamaian. Ia berharap istrinya telah berubah. Namun ia curiga tatkala ada motor terparkir di dekat kosnya. Hatinya makin tidak nyaman ketika melihat ada sepatu pria di depan pintu. Hatinya menolak berpikiran buruk, namun faktanya membuat perasaannya semakin tidak tentram.
Pintu kos terbuka, namun tidak ada siapapun di ruang tamu. Sayup-sayup ia mendengar suara erangan dan desakan dari dalam kamarnya.
'Siapa yang di dalam, tidak mungkin Desi?' batin Alif.
Ia takut jika ada orang jahat yang berniat buruk kepada istrinya. Ia mengintip dari lubang kunci kamarnya. Hatinya begitu hancur saat melihat istrinya telah di nikmati pria lain, yang lebih menjijikan wanita itu terlihat sangat menikmatinya. Bahkan sekarang ia melihat Desi tengah memegang kendali di atas pria itu. Alif sudah tidak tahan lagi.
Brakkk...
Alif mendobrak pintu dengan sekali hentakan.
"Apa yang kalian lakukan di kamar ku? Beraninya kalian berbuat mesum di sini,"
Alif berteriak dengan lantang, sementara kedua orang pezina itu tampak terkejut dan berusaha menutupi tubuhnya masing-masing.
"Kenapa, kamu terkejut? Aku tidak menyangka kamu memang wanita ******, aku kira kamu hanya melakukannya dengan ku tapi ternyata aku salah. Kamu bermain dengan pria lain padahal masih ada aku, suami sah mu,"
Mereka memakai pakaiannya sambil mendengarkan makian dari Alif.
"Aku minta maaf Mas, aku khilaf. Aku kesepian dan mas Sony merayu ku untuk selingkuh,"
Begitu pandainya Desi memutar balikkan fakta. Padahal justru dirinya yang sudah merayu lebih dulu.
"Jangan bohong kamu Des, kamu yang meminta ku rujuk tapi aku tidak bisa menceraikan istri ku. Lalu kamu mengajak selingkuh, bahkan kamu menggoda ku dengan membuka rok mu di depan ku hingga terjadi kejadian barusan," jelas Soni.
"Bohong Mas, dia sudah menfitnah ku,"
Alif tahu mana yang benar, dia tahu sendiri bagaimana sifat istrinya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pergi sebelum aku panggil warga kesini biar kalian malu,"
Soni lari terbirit-nurut mendengar ancaman Alif. Ia tidak ingin di gerebek warga karena telah berbuat asusila dengan istri orang. Pria itu segera melajukan motornya tanpa menoleh lagi.
"Aku sangat kecewa pada mu. Aku datang kesini dengan niat memperbaiki hubungan kita yang sempat renggang. Tapi apa yang aku lihat barusan mengikuti menyakiti hati ku sebagai seorang suami. Mulai sekarang kita pisah ranjang, dan tunggu saja surat perceraian kita,"
Alif pergi dengan di penuhi rasa kecewa dan marah. Ia tidak memperdulikan lagi ratapan menyayat hati yang Desi mainkan. Wanita itu sangat munafik, pandai berbohong dan segala keburukan lainnya. Alif begitu menyesal telah menikahinya.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, eh Nak Alif. Ayo masuk," ajak ayah mertuanya.
Alif masuk mengikuti langkah pria itu, tidak ada senyum sama sekali di bibirnya. Bahkan wajahnya terlihat kusut, kentara sekali jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kok tumben kesini sendirian, apa belum berbaikan dengan Desi? Bapak sudah menasehatinya tempo hari ketika pulang dari rumah mu. Ia berjanji akan berubah lebih baik,"
Alif tersenyum sinis mendengar ayah mertuanya berbicara.
"Maaf Pak, saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi. Saya merasa sangat kecewa terhadap Desi," ucap Alif.
"Istighfar Nak, perceraian itu tidak di sarankan. Bapak yakin Desi masih bisa berubah, mungkin karena ibunya sangat memanjakan dirinya dia jadi seperti itu. Tapi masalah ini pasti masih bisa di bicarakan," balas ayah mertuanya.
Tadinya Alif juga berpikir begitu. Untuk sifat Desi yang penuntut ia memang masih bisa memaafkan. Namun untuk pengkhianatan yang wanita itu lakukan di hadapannya sungguh tidak terampuni.
"Sepertinya Desi tidak bisa berubah Pak, barusan saya dari sana,"
"Sabarlah sebentar Nak, jangan bertindak gegabah. Ayo kita kesana lagi, biar bapak yang berbicara padanya,"
"Maaf Pak, tapi keputusan saya sudah bulat. Saya akan menceraikan Desi secepatnya,"
Alif begitu mantap dengan keputusannya, ia tidak peduli lagi dengan omongan orang tentang dirinya yang akan menjadi dida kedua kalinya.
"Maaf ya, tapi sepertinya kamu keterlaluan jika sampai menceraikan Desi hanya karena masalah itu," ucap ayah mertuanya.
__ADS_1
"Apa bapak bisa memaafkan istri bapak yang dengan sadar tidur dengan pria lain di kamar tempat tidur kalian? Hati ku sakit Pak, melihat tubuh istri ku di nikmati pria lain. Harga diri ku sebagai laki-laki terasa tercabik-cabik,"
Alif sudah tidak tahan lagi menahan sesak di dadanya. Sementara ayah mertuanya masih shock mendengar penuturannya.