
"Loh, kok kamu pulang lagi Nak? Apa Desi tetap tidak bisa berubah ya?"
Ibunya sangat terkejut melihatnya pulang kembali. Ia hanya membisu, lidahnya terasa kelu untuk sekadar menjawabnya. Masih jelas tergambar dalam benaknya bagaimana istri barunya telah mengkhianati dirinya sedemikian rupa. Cobaan terbesar dalam menjalani sebuah hubungan adalah orang ketiga. Masalah sepelik apapun insyaallah masih bisa teratasi kecuali pengkhianatan.
"Lif?" bu Nani menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku mau segera bercerai dengan Desi, Bu," ucap Alif lirih.
"Apa? Astagfirullah, nyebut Nak. Pernikahan kalian masih belum lama, masa iya sudah mau berpisah. Masalah ini masih bisa di selesaikan baik-baik, tolong kamu pertimbangkan lagi,"
Bu Nani sangat terkejut putranya ingin bercerai kembali. Ia sudah mengeluarkan uang banyak untuk pernikahannya, tidak lucu rasanya belum 2 bulan mereka sudah bercerai. Padahal menurutnya masalah mereka tidak seberat itu hingga harus memilih berpisah.
"Keputusan Ku sudah bulat, Bu. Hati ku terlalu sakit untuk menerimanya kembali," balas Alif.
Alif tertunduk sedih, ia memegang kepalanya yang mulai kambuh sakitnya.
"Kamu kenapa lagi, sakit kepala mu kambuh ya? Cepat kamu minum obatnya,"
Bu Nani ikut panik melihat putranya kesakitan. Ia segera mengambilkan segelas air untuknya minum obat.
"Kamu jangan terlalu banyak pikir. Lebih baik kamu segera berdamai dengan istri mu, kamu tidak akan sakit seperti ini," ucap Bu Nani.
"Justru aku sakit karena dia, akh..."
Alif meringis merintih kesakitan memegangi kepalanya, ia membaringkan tubuhnya di sofa dan berusaha menahan emosi agar tidak semakin parah.
"Sudah jangan bicara lagi, kamu istirahat saja," titah bu Nani.
Alif menurut, dia mulai memejamkan mata untuk meredam rasa sakit yang ia rasakan.
☆☆☆
Rania sedang menunggu kedatangan Nelly, barusan dia menelepon jika akan berkunjung ke rumahnya. Kemungkinan untuk membicarakan masalah tawarannya kemarin tentang membuat usaha.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, ayo masuk Nel," ajak Rania.
"Iya Mbak, terima kasih,"
Mereka duduk bersama di ruang tamu, Rania telah menyiapkan minuman dan camilan sebagai teman mereka mengobrol.
"Jadi bagaimana Nelly? Apa rencana mu?" tanya Rania.
__ADS_1
"Itu dia aku juga masih bingung, Mbak. Tolong beri aku masukan dong," jawab Nelly.
"Kamu sukanya apa? itu bisa mempermudah diri mu menjual jika sesuai dengan keinginan mu,"
"Aku suka yang berhubungan dengan kecantikan, barang-barang wanita begitu mbak. Teman ku kan banyak, follower di sosial media juga lumayan jadi bisa aku gunakan untuk promo,"
"Kalau saran aku sebagai langkah awal kamu bisa promo-promo dulu, kamu bisa jadi reseller produk skincare yang juga aku jual. Tenang saja kamu tidak perlu transfer dulu, kamu bisa bayar setelah customer mu bayar. Tapi kalau bisa jangan kamu hutangin agar urusannya tidak panjang. Kamu bisa juga menjual baju, tas serta barang lain. Aku bersedia memberi pinjaman modal,"
Rania menjelaskan dengan sabar kepada Nelly sampai wanita itu mengerti. Ia memberikan satu paket produk skincare yang ia jual kepadanya secara gratis untuk di pakainya. Ia juga memberikan suntikan modal awal 10 juta untuk mantan adik iparnya itu.
Rania begitu percaya padanya karena melihat dirinya memang membutuhkan dan sebelumnya ia sudah membuktikan jika dirinya memang orang yang bertanggung jawab dalam masalah uang.
"Terima kasih ya Mbak, semoga bisnis aku lancar. Aku Bisa sukses seperti Mbk Nia," ucap Nelly.
"Amin, nanti kalau ada order kamu langsung chat aku ya,"
Setelah hampir 2 jam mereka mengobrol akhirnya Nelly berpamitan untuk pulang karena Rania juga harus menjemput Alisa di sekolahnya.
☆☆☆
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
"Ada apa Pak, Bu, kenapa wajah kalian terlihat cemas dan sedih?" tanya Nelly.
"Hus, jangan ramai. Mas mu sedang istirahat,"
Ibunya menempelkan telunjuk di bibirnya sembari melirik ke arah Alif yang tertidur di sofa.
"Mas Alif kenapa lagi?" tanya Nelly lirih.
Bu Nani mengajak putri dan suaminya untuk duduk di teras rumah.
"Sakit kepalanya kambuh sampai tadi dia berteriak. Dia bilang akan menceraikan Desi," jelas bu Nani.
Keduanya menghela napas dengan kasar. Mereka kasihan dengan nasib Alif yang seakan tiada henti mendapat cobaan.
"Rasanya tidak mungkin hanya karena masalah kemarin Alif akan menggugat cerai, Bu," sahut suaminya.
"Makanya itu Pak, tadi aku juga sudah menyuruhnya mempertimbangkan lagi. Eh dia malah makin sakit kepalanya," ucap bu Nani.
"Kasihan ya Mas Alif, padahal selama bertahun-tahun dengan Mbak Nia dia tidak pernah seperti ini," sahut Nelly.
__ADS_1
"Sudahlah tidak perlu membahas yang sudah lalu, namanya pernikahan pasti selalu ada cobaan," jawab bu Nani.
"Ya sudah aku mau masuk dulu,"
Nelly malas melanjutkan pembicaraan karena ucapannya tidak pernah di dengar di dalam keluarganya. Suara Nelly membuka pintu kamarnya membuat Alif terbangun.
"Nelly,"
Nelly menoleh, ia menutup pintu kamarnya kembali dan menghampiri Alif.
"Iya Mas, Mas kenapa lagi? Kata ibu Mas sakit kepala lagi ya?" ia bertanya dengan lembut.
"Iya, ucapan mu tentang Desi ternyata benar. Maaf ya Mas tidak mendengarkan pendapat mu waktu itu, sekarang aku sangat menyesal,"
Alif tertunduk dengan sedih, matanya memerah dan mulai berkaca-kaca.
"Sabar ya Mas. Tapi apa tidak ada jalan lain lagi, menurut ku masalah kemarin masih bisa di perbaiki," hibur Nelly.
"Kalau hanya masalah kemarin aku masih maklum. Dia sudah tega mengkhianati diri ku, hati ku sangat sakit. Dia merendahkan harga diri ku sebagai seorang suami," ucap Alif.
"Maksudnya bagaimana? Apa mbak Desi membuat ulah lagi?"
"Tadi aku menuruti saran ibu untuk berdamai dengannya, aku pulang ke kosan. Tapi ternyata..."
Alif tidak dapat lagi membendung air matanya, ia tidak perduli lagi jika di anggap cengeng oleh keluarganya. Adiknya mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
"Dia berbuat mesum dengan mantan suaminya di kamar yang kita tempati, aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri,"
Alif berhasil menyelesaikan ceritanya di sela tangisnya. Sementara mulut Nelly terbuka lebar, matanya membulat sempurna. Orang tuanya yang mendengarkan sejak tadi ikut masuk.
"Apa benar begitu, Lif?" tanya ayahnya.
"Masa iya Desi seperti itu, Lif?" tanya ibunya.
"Aku tidak menyangka seburuk itu ternyata," ucap Nelly.
Alif hanya bisa mengangguk lemah.
"Aku akan segera mengurus perceraian, aku tidak peduli akan omongan orang tentang ku. Aku tidak bisa hidup bersama wanita yang tidak setia, tidak bisa menjaga harga dirinya," ucap Alif.
Suasana hening. Bu Nani yang tadinya masih membela Desi terlihat diam, hanya ekspresi sedih yang tampak dari wajahnya.
"Aku setuju Mas, pengkhianatan adalah kesalahan terbesar dalam pernikahan. Menjadi duda atau janda lebih baik daripada kita hidup menderita," sahut Nelly.
__ADS_1