
Dua hari kemudian.
"Assalamualaikum,"
Seseorang datang bertamu saat Rania baru saja memandikan Bintang.
"Waalaikum salam, tunggu sebentar," ucap Rania.
Setelah melilitkan handuk di tubuh putranya, Rania segera membuka pintu.
"Eh Nelly, ayo masuk. Duduk dulu ya, aku mau membantu Bintang memakai bajunya dulu, baru selesai mandi soalnya," ucap Rania.
"Iya Mbak tidak masalah, aku tunggu di sini saja,"
Nelly mengedarkan pandangannya, tidak ada yang berubah dari rumah ini sejak terakhir ia kesana. Walaupun mantan kakak iparnya itu sekarang banyak uang, ternyata hidupnya tetap sederhana seperti sebelumnya.
"Maaf ya Nelly sudah membuat mu menunggu,"
"Tidak masalah Mbak, Bintang Sayang ini tante bawa oleh-oleh buat mu dan kakak,"
Nelly memberikan tote bag yang ia bawa, Bintang menerimanya dengan senang. Nelly dari dulu memang baik, kontras sekali dengan ibunya. Sepertinya dia lebih mengikuti sifat ayahnya yang juga baik. Tapi dirinya memang tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kakaknya karena takut kepada ibunya.
"Kamu kok repot-repot sih Nelly, kamu datang kemari saja kita senang," ucap Rania.
"Tidak apa-apa Mbak, toh aku jarang sekali kesini. Kebetulan aku sudah bekerja, aku juga mau mengembalikan uang yang pernah aku pinjam. Terima kasih sudah membantu ku saat itu,"
Nelly memberikan amplop berisi uang yang ia kembalikan. Ia menaruhnya di atas meja di depan mereka.
"Astaga Nelly, aku saja sudah lupa. Padahal aku ikhlas kok memberinya,"
"Hutang harus di bayar Mbak, jadi ketika suatu saat aku butuh bantuan lagi, aku tidak akan sungkan minta tolong sama Mbak lagi," ucap Nelly.
Rania begitu salut dengan prinsip wanita ini, padahal kakaknya dulu tidak punya prinsip seperti dirinya.
"Ya sudah aku terima, jika butuh pertolongan jangan sungkan ya. Aku pasti bantu selama aku mampu," ucap Rania.
Mereka terus berbicara sampai lupa waktu, banyak sekali yang mereka bicarakan sebagai sesama wanita. Mereka cocok walaupun status mereka sekarang hanya mantan ipar. Karena harus segera bekerja maka Nelly pun segera berpamitan.
☆☆☆
Sore harinya.
__ADS_1
"Halo Nia,"
"Iya Mbak Marni, ada apa?"
"Anak ku sedang sakit di kampung, bolehkah aku izin libur beberapa hari? Nanti biar suami ku yang menjaga toko sendiri,"
"Oh iya Mbak tidak apa-apa. Kalau Mas Slamet mampu menangani tidak masalah, tapi kalau mau pulang juga tidak apa-apa Mbak daripada kuatir,"
"Aku sudah mengajarinya, insyaallah dia bisa. Semoga saja anak ku cepat sehat biar Mas Slamet tidak perlu menyusul,"
"Amin, aku juga ikut mendoakan semoga Erwin cepat sembuh ya,"
Semenjak Mbak Marni pulang kampung Rania memang bingung untuk mencari yang bisa di percaya mengelola toko, apalagi pasca terjadinya pencurian itu. Beruntung ternyata Mbak Marni dan suaminya memutuskan kembali ke kota dan bekerja kembali kepadanya.
"Nia... Nia, buka pintunya,"
Rania segera meletakkan ponselnya dan bergegas membukakan pintu. Ia hapal betul suara itu adalah milik mantan suaminya. Tapi tumben sekali pria itu tidak mengucap salam.
"Ada apa sih Mas, bukannya mengucap salam malah berteriak-teriak?" tanya Rania.
"Apa benar kamu dan anak-anak sempat di sekap? Kalian tidak terluka kan?" tanya Alif kuatir.
'Oh pantas saja dia sampai panik, ternyata berita itu telah sampai di telinganya' batin Rania.
"Syukurlah jika begitu. Dari awal aku tidak suka kamu dekat dengan Rangga, pria itu membuat hidup kalian dalam bahaya. Sebaiknya kamu jangan dekat dengannya, pria itu membawa pengaruh buruk terhadap anak-anak," ucap Alif.
Entah mengapa Rania tidak suka mendengar ucapan Alif yang terkesan menyudutkan Rangga, padahal dia tidak tahu kejadian yang sesungguhnya.
"Justru dia yang menyelamatkan kita, karena kebaikannya terhadap semua orang kita bisa tertolong. Bahkan dia rela mengorbankan karir dan dirinya sendiri demi keselamatan kami, kalau Mas tidak tahu apa-apa tolong jangan sembarangan bicara," balas Rania kesal.
"Itu sudah tanggung jawabnya, karena peristiwa itu terjadi karena dirinya sehingga melibatkan kalian. Dia pria yang berbahaya, Nia,"
"Cukup Mas,"
Intonasi Rania mulai naik.
"Kamu menyebut Rangga tidak baik setelah semua yang dia lakukan. Lalu kamu apa? Kamu bahkan lupa jika masih memiliki dua anak di sini. Masalah kamu tidak memberi nafkah tidak masalah, aku masih bisa menghidupi mereka. Tapi mereka juga butuh kasih sayang mu, kamu tidak pernah melihat mereka walau hanya sebentar. Jika kamu hanya kesini untuk melarang kami dekat dengan Rangga, sebaiknya kamu segera pergi. Aku lebih tahu apa yang terbaik untuk anak-anak daripada diri mu,"
Rania berkata dengan tegas. Alif sudah membuatnya kesal.
"Tapi Nia, maksud ku itu baik. Ini demi kebaikan kalian semua,"
__ADS_1
Alif masih berusaha memprovokasi Rania.
"Mas bukan Tuhan yang tahu mana yang terbaik untuk kami, pergilah dan urus rumah tangga mu sendiri. Aku masih bisa mengurus hidup ku sendiri,"
Rania mengusir Alif dan mendorong pria itu keluar. Ia tutup pintu dengan keras karena tersulut emosi.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum, Bu,"
"Waalaikum salam,"
Rania membuka pintu untuk putrinya.
"Kenapa pintunya di kunci, Bu?" tanya Alisa.
"Barusan ayah mu kesini, Nak," jawab Rania.
"Iya aku tahu, tadi sempat berpapasan di jalan," ucap Alisa.
"Lalu apa katanya? Apa kamu di beri uang?" tanya Rania.
Alisa menggelengkan kepalanya.
"Ayah hanya pamitan mau pulang, itu saja,"
Wajah Alisa tertunduk sedih, mungkin ia kecewa dengan sikap ayahnya. Rania memang bisa memberikan apapun untuk anaknya, namun pemberian Alif kepada anaknya walaupun hanya mainan murah pasti akan membuat hati mereka senang.
"Jangan bersedih ya Sayang, kita harus bisa memaklumi karena sekarang ayah sudah punya keluarga baru. Jika orang lain tidak bisa membuat kita bahagia, maka kita akan menciptakan kebahagian itu sendiri. Ibu akan selalu berusaha membahagiakan kalian berdua,"
Rania memeluk kedua buah hatinya, mendekapnya dengan penuh perasaan kasih.
Anak-anak adalah makhluk yang suci, tanda ikatan cinta antara dua insan. Tidak boleh menjadi korban atas ketidak harmonisan sebuah hubungan. Jika pasangan dapat berpisah, namun hubungan darah antara anak dan orang tua akan selalu kekal sampai kapanpun.
"Bu, aku rindu sosok seorang ayah. Jika aku boleh meminta satu permintaan, aku ingin Om Rangga menjadi ayah ku," ucap Alisa.
"Iya Sayang, sabar ya. Ibu masih punya orang tua, kita harus mendengarkan pendapat kakek dan nenek tentang Om Rangga," balas Rania.
"Jadi ibu setuju untuk menikah dengan Om Rangga?"
Mata Alisa begitu berbinar saat menanyakannya.
__ADS_1
"Ibu mau, tapi ibu harus mendengar juga pendapat kakek dan nenek mu," jawab Rania.