
Dua hari kemudian.
"Halo Rania, apa kamu sedang sibuk hari ini?" tanya Rangga.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Rania.
"Aku ingin mengajak kalian liburan di kota sebelah yang udaranya sangat sejuk, anak-anak pasti suka. Sekalian nanti kita mampir ke rumah orang tua ku ya, sudah lama kan kamu tidak bertemu orang tua ku," jawab Rangga.
Rania mengingat kembali saat Rangga mengajaknya berkenalan dengan orang tuanya kala itu. Kedua orang tuanya sangat baik walaupun tahu dirinya bukan dari kalangan berada. Namun saat itu mereka masih sekolah, sedangkan saat ini dirinya sudah menyandang gelar janda dengan dua anak. Jujur ia takut perlakuannya akan berbeda, apalagi dia masih dalam masa iddah. Ia takut menerima perlakuan buruk dari orang lain.
"Tapi Rangga, aku takut mereka memandang ku sebelah mata karena status ku. Bukannya ingin berpikiran buruk kepada orang tua mu, hanya saja aku belum siap menerima hujatan dari orang lain karena status ku sekarang," jawab Rania.
"Ayolah Rania, kamu kan tahu orang tua ku bukan orang yang berpola pikir begitu. Mereka sudah tahu kok kamu baru saja bercerai, justru mereka yang menyuruh ku membawa diri mu kesana. Katanya mereka merindukan mu, mereka juga ingin berkenalan dengan Alisa dan Bintang," ucap Rangga.
"Yang benar Rangga? Memangnya kamu bercerita apa saja terhadap mereka?" tanya Rania masih belum percaya.
"Ada deh, rahasia. Pokoknya aku jemput kalian satu jam lagi, jadi kalian harus bersiap-siap ya," putus Rangga.
"Ya baiklah, kami akan segera bersiap,"
Rangga tersenyum penuh kemenangan. Dia memang tidak berbohong, dia telah menceritakan segalanya tentang Rania. Orang tuanya juga tahu jika dirinya masih memiliki perasaan kepada gadis itu, bahkan dirinya masih sendiri di usianya yang sudah sangat matang juga karena belum bisa berhenti memikirkannya.
Selama bertahun-tahun ia mencari keberadaan gadis itu, namun tidak pernah menemukannya. Rania yang terlalu sibuk dengan keluarga kecilnya sehingga memutus hubungan dengan dunia luar kecuali keluarganya, membuat dirinya sulit menemukan keberadaannya. Namun takdir sepertinya berpihak kepadanya, mereka bertemu saat pernikahan gadis itu sudah di ambang kehancuran. Mungkin salah jika saat itu dia berharap gadis itu segera bercerai, namun itulah yang ia inginkan kala itu.
Rania segera menyuruh anak-anak mandi. Mereka sangat gembira ketika mengetahui akan di ajak jalan-jalan. Sesuai yang di ucapkan Rangga, ia datang menjemput mereka setelah satu jam berlalu.
"Halo anak-anak, apa kalian sudah siap untuk liburan?" tanya Rangga.
"Siap, Om..."
Semua serempak menjawab. Rangga memandang Rania tanpa berkedip, ia terpana melihat penampilannya.
"Rania..."
Hanya itu yang terucap dari bibirnya, netranya tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa, aku jelek ya?" tanya Rania, tidak percaya diri.
Rania yang biasanya memakai busana, saat ini memilih menggunakan celana jeans dengan atasan bahan kaos yang longgar di padu padan dengan model jilbab seperti anak muda. Ia terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya, di tambah lagi dirinya memang rajin melakukan perawatan.
"Justru kamu semakin cantik memakainya," puji Rangga tulus.
__ADS_1
"Benar kan Bu, tadi aku juga bilang begitu Om. Tapi ibu tidak percaya," sahut Alisa.
'Benar-benar sempurna, istri idaman,' batin Rangga.
"Dari dulu ibu sudah cantik, makin kesini makin cantik seperti bidadari surga. Benar kan Alisa?"
Alisa mengangguk menyetujui ucapan Rangga. Sedangkan Rania wajahnya merona karena terlalu di puji begitu tinggi.
"Sudah jangan terlalu memuji, nanti kalian jatuhkan aku setelah memuji setinggi langit," kelakar Rania.
Semuanya tertawa.
"Siapa yang mau duduk di depan dengan Om?" tanya Rangga.
"Ibu dan Bintang saja Om, aku di belakang saja biar bisa tidur," jawab Alisa.
Mereka pun segera berangkat. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga utuh yang harmonis. Selama perjalanan Rangga berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan lelucon yang membuat seisi mobil tertawa riuh. Mereka benar-benar merasa bahagia.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam mereka sampai di tempat tujuan. Semilir angin menghempas tubuh mereka saat baru saja keluar dari mobil, udara sejuk tanpa polisi udara sangat memanjakan hidung mereka.
"Wah suasana sejuk sekali, pemandangannya juga indah," puji Rania.
"Ini belum seberapa, kalian akan lebih terpana saat melihat air terjun nanti. Kita akan main air sepuasnya," balas Rangga.
"Biar aku yang menggendong Bintang, Nia," ucap Rangga.
"Aku sudah besar Om,"
Bintang merasa keberatan di anggap masih kecil, ia ingin berjalan sendiri. Akhirnya mereka berjalan bersama-sama. Letak air terjun yang cukup jauh dari parkiran membuat mereka sedikit ngos-ngosan, apalagi kesibukan membuat mereka jarang sekali berolahraga.
"Kita istirahat dulu sebentar ya, sepertinya kalian kelelahan,"
Rangga memberikan air minum kepada mereka semua, mereka beristirahat sejenak.
"Bintang kalau capek, Om gendong saja ya," ucap Rangga.
"Aku kuat, Om,"
Bintang benar-benar hebat seperti ibunya. Rangga bangga padanya, masih kecil tapi sudah punya prinsip yang kuat.
Setelah beberapa saat mereka sampai, keindahan air terjun mampu mengobati rasa lelah mereka. Tak butuh waktu lama, mereka segera bermain di bawah air terjun bersama beberapa pengunjung lain. Ini adalah kali pertama bagi mereka jalan-jalan ke wisata alam seperti ini, mereka benar-benar menikmati.
__ADS_1
"Rania, jika kamu lelah duduk saja di pondok. Biar aku yang menjaga anak-anak," ucap Rangga.
Hati Rania meleleh, betapa baik dan perhatiannya pria bermata elang ini. Namun Rania segera tersadar bahwa dirinya kini hanyalah seorang janda, tidak boleh memiliki harapan lebih apalagi kepada seorang Rangga.
"Tidak apa-apa kok, aku di sini saja,"
Mereka terus bermain, tanpa sengaja kaki Rania tersandung batu dan terjatuh.
"Akh..."
Rania meringis kesakitan, sepertinya kakinya terkilir. Rangga yang sedang bermain dengan anak-anak segera menoleh.
"Tunggu di sini dulu, jaga Bintang ya Alisa. Om mau tolong ibu dulu,"
Rangga segera merangsek ke arah Rania.
"Kamu tidak apa-apa, Nia?" tanya Rangga.
"Sepertinya kaki ku keseleo,"
Rania mencoba berdiri, namun kakinya terasa begitu sakit. Rangga membopong tubuh wanita itu menuju pondok, sebenarnya ia tak nyaman tapi kakinya benar-benar sakit.
'Ya ampun kenapa jantung ku berdebar, aku tidak boleh seperti ini' batin Rania.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, aku jemput anak-anak dulu,"
Rangga segera membawa anak-anak ke tempat Rania. Ia yang sedikit mengerti tentang terkilir berusaha membantu Rania.
"Akh..."
Rania berteriak kala Rangga memperbaiki letak tulang kakinya yang terkilir dengan satu hentakan saja.
"Bagaimana, apa sudah membaik?"
Ia coba menggerakkan kakinya, ternyata memang jauh lebih baik.
"Wah sudah tinggal sedikit sakitnya, kamu hebat Rangga," puji Rania.
"Maafkan aku ya, sudah membawa kalian ke tempat seperti ini. Sampai kamu terkilir seperti ini,"
"Kamu bicara apa sih, ini semua salah ku yang tidak hati-hati. Kita semua senang kok di sini,"
__ADS_1
Mereka pun memutuskan untuk lanjut ke rumah orang tua Rangga.