
Alif seketika menjadi sedih, sorot matanya penuh rasa kecewa. Selama ini Laila terlihat senang bersamanya, apalagi banyak kesamaan antara mereka. Ia sama sekali tidak menduga akan mengalami penolakan.
"Jujur aku sangat kecewa mendengarnya. Tapi apa boleh buat, perasaan tidak bisa di paksakan. Aku harap kamu bisa bahagia walaupun pilihan mu bukan bersama ku, Laila,"
Alif berkata dengan berbesar hati. Mau tidak mau dia harus menerima kenyataan.
"Maksud Mas Alif apa? Siapa yang bilang aku tidak memilih Mas Alif?"
Laila dan Alif terlihat sama-sama bingung.
"Bukankah tadi kamu yang mengatakan tidak bisa menikah dengan ku?"
"Mas salah paham, maksud ku aku tidak bisa menikah buru-buru. Aku harus mendekatkan diri mu dengan putri ku dulu, aku bukan hanya menikah untuk kepentingan ku. Aku juga mencari seorang ayah yang juga bisa menerima putri ku,"
Ternyata Alif sudah salah paham. Seketika senyum di bibirnya mengembang. Ia hanya perlu membuat putri Laila menerimanya agar mereka bisa segera menikah.
"Jadi kamu mau menikah dengan ku, Laila?"
Alif tidak ingin salah paham lagi, ia harus mempertegas jawaban Laila.
"Iya Mas, tapi setelah putri ku juga setuju. Selama ini kamu kan hanya mengenalnya sekilas saja. Jika kamu bisa menaklukkan hatinya, baru kita bisa menikah,"
Alif sangat senang, ia ingin bergerak cepat agar bisa segera menikahi Laila. Saat itu juga ia mengajak Laila untuk jalan-jalan bersama putrinya.
☆☆☆
Acara Empat bulanan kehamilan Rania telah selesai di laksanakan, para tamu sudah banyak yang pulang. Hanya keluarga dekat saja yang masih terlihat berkumpul. Orang tua Rania hari ini memutuskan akan menginap di rumah Tiara, karena mereka juga sudah lama tidak berkunjung kesana.
"Mama dan Papa mengapa tidak menginap sehari lagi di sini, kalian harus istirahat jangan mengurus pekerjaan terus," ucap Rangga.
"Inginnya sih begitu, tapi kamu tahu sendiri kan perusahaan dan bisnis lainnya tidak bisa kita lepas begitu saja. Makanya kamu berhenti saja jadi pengacara, harusnya kamu yang mengurus semua bisnis sekarang,"
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia termakan ucapannya sendiri. Sekarang orang tuanya justru ingat lagi dengan hal yang sudah lama tidak ingin di ungkit.
"Maaf Ma, tapi aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Menolong orang untuk mendapatkan keadilan dengan perantara menjadi seorang pengacara adalah cita-cita ku sejak dulu, Mama tahu itu kan. Lebih baik perusahaan di limpahkan kepada orang kepercayaan, Mama hanya tinggal mengawasi dari rumah,"
Rangga tahu jika pembicaraan ini akan membuatnya terpojok, ia mengalihkannya dengan berbicara tentang calon cucu mereka.
__ADS_1
☆☆☆
"Assalamualaikum,"
Alif menemani Laila ke rumah orang tuanya. Mereka ingin mengajak Akila jalan-jalan agar bisa dekat dengan Alif.
"Waalaikumsalam salam, eh Laila ayo masuk," bu Asih mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
"Bapak mana, Bu?" tanya Laila.
"Dia sedang keluar, ada urusan dengan Pak RT. Ini Nak Alif yang pernah kamu ceritakan ya?"
Bu Asih melihat Alif dari bawah sampai atas. Alif hanya tersenyum menanggapinya.
"Iya Bu, Kita mau mengajak Akila keluar," jawab Laila.
"Kamu panggil saja di rumah sebelah, dia main sama anak tetangga,"
Laila lalu berpamitan untuk memanggil Akila. Sementara Alif tampak sedikit grogi bertemu dengan calon ibu mertua.
"Jadi kamu serius dengan Laila?"
"Iya Bu, saya ingin segera menikahi Laila. Tapi kata Laila harus bisa mengambil hati Akila dulu, jika putrinya setuju maka dirinya baru mau menikah," jawab Alif.
"Memang benar, rata-rata banyak pria yang mendekati Laila hanya mau dengannya saja. Padahal dia kan janda satu anak, jadi harusnya merawat satu paket. Lalu, apa Nak Alif mau menerimanya apa adanya?"
"Insyaallah saya bisa menerima Laila dan Akila, maka dari itu kita datang kemari. Jika Akila setuju, insyaallah secepatnya saya bawa orang tua saya ke sini Bu,"
"Alhamdulillah, semoga kamu benar-benar tulus. Laila itu gadis yang baik, selama ini tidak pernah neko-neko. Ibu harap kamu bisa membahagiannya dunia akhirat,"
Bu Asih memang berharap putrinya bisa menikah lagi, karena selain usianya masih tergolong muda, Akila juga butuh sosok seorang ayah yang bisa melindunginya.
"Saya memang jauh dari sempurna, Bu. Tapi insyaallah saya akan berusaha untuk selalu membuat mereka bahagia,"
Alif senang ibunya Laila tidak keberatan dengan hubungan mereka. Jadi pernikahan ini kuncinya berada pada Akila. Semoga saja gadis itu cepat memberikan izin.
"Sayang, ini kenalkan namanya Om Alif,"
__ADS_1
Laila datang bersama Akila, ia mengenalkannya kepada Alif. Gadis itu menyalaminya dengan sopan. Setelah berbincang sebentar mereka pun segera berangkat setelah berpamitan kepada bu Asih.
"Kita mau kemana, Bu?" tanya Laila ketika di perjalanan.
"Kita akan jalan-jalan ke mall, Sayang,"
"Asyik, sudah lama tidak jalan-jalan sama ibu,"
Akila sangat gembira sekali, selama ini ibunya hampir tidak pernah mengajaknya keluar karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah sampai mereka segera masuk ke dalam mall. Pertama mereka ke tempat makan karena Akila mengeluh lapar. Setelah itu mereka mengajak gadis kecil itu ke area permainan, Akila senang sekali bermain berbagai macam permainan yang ada.
"Om, aku boleh main yang itu tidak?" Akila menunjuk ke arah odong-odong berbentuk mobil.
"Boleh dong Sayang, ayo kita kesana,"
Akila memegang tangan Alif dan meninggalkan ibunya di belakang. Tampaknya gadis itu mulai menyukai Alif.
"Wah aku senang Om, boleh naik yang lain lagi?" tanya Akila.
Alif mengikuti semua keinginan gadis itu. Semoga ini bukan hanya demi bisa menikahi ibunya, semoga Alif tulus melakukannya.
"Oh jadi demi wanita ini kamu ceraikan aku Mas? Ternyata kamu juga selingkuh ya, tidak mungkin kita baru cerai kamu sudah punya wanita lain. Kalian pasti sudah main gila sebelum kita berpisah,"
Tiba-tiba Desi datang dengan berkacak pinggang, suaranya lumayan keras sehingga membuat sebagian orang yang ada di sana menoleh ke arah mereka.
Alif yang terkejut sangat kesal dengan mulut tajam Desi, wanita itu sudah mempermalukan mereka di depan umum.
"Kamu bicara apa sih, Des! Aku bukan tukang selingkuh seperti diri mu. Dia ini wanita baik-baik, bukan seperti diri mu," sanggah Alif.
"Hahaha..."
Desi tertawa mencemooh.
"Mana ada maling ngaku, Mas. Maling ngaku ya penjara penuh. Aku tidak menyangka kamu membuang wanita cantik seperti diri ku demi gadis desa seperti dia," cibir Desi.
Alif melihat wajah Laila berubah pias, dia pasti tidak senang mendengar ucapan Desi yang terang-terangan menghinanya.
__ADS_1
"Cukup Des, jangan buat aku menampar mu. Aku tidak peduli kamu wanita, kamu telah melukai hati calon istri ku,"
Alif menarik Akila dan Laila menjauh dari sana. Ia tidak ingin Desi menyakiti hatinya lebih dalam. Mereka tidak memperdulikan Desi yang masih terus saja mengoceh.