Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 55 Di Sekap


__ADS_3

"Apa maksud mu? Aku tidak suka mencampuri urusan orang lain?" tanya Rangga.


"Nanti juga kamu akan tahu. Bokir beri mereka makan, bos berpesan mereka jangan sampai mati," titah Wanto.


"Baik, Bos,"


Bokir segera keluar, sepertinya dia sedang mengambil makanan untuk mereka.


"Tolong lepaskan mereka jika memang aku yang kalian inginkan," pinta Rangga.


"Tidak bisa, mereka pasti akan melapor kepada polisi jika aku lepaskan," balas Wanto.


"Aku akan menyuruh mereka merahasiakan semua ini, aku janji," ucap Rangga.


"Tidak Rangga, kita tidak akan meninggalkan kamu sendirian di sini," sahut Rania.


"Tapi Nia, keselamatan kalian itu yang terpenting. Aku..."


"Sudah kalian tidak perlu berdebat. Kita tidak akan menghabisi kalian, bos hanya menyuruh menyekap kalian sampai waktunya tiba. Jika kasus itu selesai, kalian akan aku bebaskan," sela Wanto.


"Kasus? jadi ini berkaitan dengan kasus yang aku tangani ya? Jadi kalian suruhan Peterson penjahat itu?" tanya Rangga geram.


"Aduh aku jadi keceplosan, gara-gara kalian berisik sih,"


Wanto meninggalkan mereka dan menutup pintunya kembali.


"Hei kembali kamu, buka ikatan ini kalau berani. Aku akan menghajar mu dan Peterson yang pengecut itu,"


Rangga berteriak dan mencoba melepaskan ikatannya. Namun tali itu cukup kuat sehingga ia tidak bisa melepasnya dengan mudah.


"Rangga tenanglah, hematlah tenaga mu. Kita harus menyusun strategi agar bisa keluar dari tempat ini dengan selamat," pinta Rania.


"Maafkan aku ya, karena diri ku kalian jadi ikut dalam bahaya,"


Rangga merasa sangat bersalah.


"Memangnya siapa Peterson itu?"


"Dia adalah penjahat besar, saat ini aku sedang menangani kasusnya. Sepertinya dia memang mengulur waktu, besok adalah sidang banding. Jika aku tidak bisa hadir itu akan sangat menguntungkan baginya," jelas Rangga.

__ADS_1


"Oh begitu. Ternyata jadi pengacara tidak seenak yang orang pikir ya. Taruhannya bahkan nyawa kalau salah menangani kasus,"


"Aku sudah terbiasa seperti ini Nia, itu mengapa selama ini aku lebih memilih sendiri. Aku jadi ragu untuk melanjutkan hubungan kita Nia, aku takut akan membawa mu dan anak-anak ke dalam bahaya seperti ini,"


Pria itu tertunduk, pikirannya berkecamuk. Rasanya ia tidak mampu membawa mereka ke dalam hidupnya jika bukannya bahagia yang mereka dapat tapi bahaya yang setiap saat bisa mengintai hidup mereka.


"Kamu bicara apa Rangga, jika kita sudah memilih jalan hidup kita maka tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Jika Tuhan memang mengtakdirkan kita untuk bersama, maka aku akan selalu mendampingi diri mu dalam suka atau duka,"


"Apa kamu serius, Nia? Bahkan jika aku membawa kalian berada dalam bahaya seperti ini, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku?"


"Tentu saja, aku akan terus bersama mu sampai akhir. Aku tadinya memang kasihan kepada anak-anak karena harus terlibat hal mengerikan seperti ini, namun melihat diri mu begitu melindungi kami hingga tidak memperdulikan diri mu sendiri akhirnya membuat aku sadar. Aku terlalu egois, aku terlalu memikirkan perasaan ku sendiri," jawab Rania.


"Terima kasih untuk kepercayaan mu, aku berjanji akan segera mengeluarkan diri mu dari sini dengan selamat," ucap Rangga sungguh-sungguh.


☆☆☆


Siang harinya.


Tubuh mereka sudah bertenaga kembali karena pria yang bernama Bokir tadi sudah memberi mereka makan. Hanya tangan Rania yang di lepas untuk menyuapi ketiga orang tersebut dalam pengawasannya. selesai makan dia segera mengikat tangannya kembali.


"Tolong.... tolong..."


"Diam, jangan berisik. Percuma saja kalian berteriak karena di sini hutan, tidak ada yang akan membantu kalian," hardik Bokir.


"Kamu butuh uang kan, aku akan memberi mu 10x lipat dari yang dia berikan asal kamu melepaskan kami," ucap Rangga mencoba bernegosiasi.


"Hahaha... kamu pikir aku akan percaya? Jika aku lepaskan kalian pasti akan melapor kepada polisi," balas Bokir.


"Begini saja, kamu lepaskan saja mereka. Aku akan tetap memberi mu 10x lipat. Aku janji tidak akan lari dari sini,"


Bokir tampak berpikir 10x lipat sangat banyak baginya, ia bisa berfoya-foya dengan uang itu. Namun ia bukan pria yang pemberani, ia terlalu takut kepada Wanto serta orang yang menyuruh mereka.


"Aku setia kawan, akan tidak akan terbujuk tipu muslihat mu,"


Bokir lalu pergi namun tidak menutup pintunya, tak berapa lama ia kembali membawa selotip untuk menutup mulut mereka.


"Karena kalian berisik, aku akan membungkam mulut kalian. Siapa suruh membuat orang terganggu saja,"


Mereka berusaha melawan, namun karena tangan dan kaki mereka terikat mereka tidak berdaya.

__ADS_1


☆☆☆


Malam hari telah menjelang.


Rangga begitu sedih tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Apalagi melihat kedua anak Rania yang sedih dan ketakutan membuat dirinya makin merasa tidak berharga. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia mencoba memberi kode kepada Rania untuk membuka selotip di mulutnya. Ia memposisikan mulutnya berada di dekat tangan Rania yang terikat. Keduanya berhasil untuk saling membukakan selotip di mulut mereka.


"Bagaimana Rangga, ikatannya sangat kuat. Aku tidak bisa membukanya," ucap Rania.


"Kalau begitu coba aku buka ikatan mu,"


Mereka mencoba membantu melepas ikatan masing-masing namun gagal karena terlalu kuat. Tiba-tiba mereka mendengar langkah kaki mendekat.


"Bagaimana ini jika ketahuan kita berhasil membuka tutup mulut, mereka pasti akan lebih waspada," ucap Rania panik.


"Biarkan saja, mungkin sebaiknya aku melepas kasus itu. Aku tidak ingin membahayakan hidup kalian,"


"Tidak Rangga, kamu harus tetap membela kebenaran. Jadikan kami penyemangat mu bukan rintangan atau kelemahan mu dalam berbuat baik,"


"Rania..."


Betapa beruntungnya memiliki pasangan yang selalu bisa menguatkan, bukan justru melemahkan bahkan dalam keadaan sedang terpuruk. Rania mulai sadar jika ia memang mulai mencintai pria itu. Sedangkan Rangga makin tergila-gila dengan wanita di hadapannya.


Krekkk...


Tiba-tiba pintu terbuka dengan perlahan. Namun bukan Bokir atau Wanto yang masuk. Ruangan yang gelap membatasi pandangan mereka sehingga tidak dapat melihat ketiga orang itu dengan jelas. Hanya tampak bayangan mereka karena terkena cahaya temaram rembulan.


"Kalian jangan takut, kami datang untuk menyelamatkan kalian,"


Suara seorang yang sepertinya tidak asing di telinga mereka. Mereka mencoba mengingat tapi lupa siapa pemilik suara itu.


"Terima kasih Pak, tolong dahulukan anak-anak," ucap Rangga.


"Tenang saja Pak Rangga, kita akan menyelamatkan kalian semua,"


Rangga tertegun mendengar namanya di sebut, sepertinya pria itu mengenalnya.


Ketiga pria itu segera membuka ikatan mereka dengan gunting, sepertinya mereka telah mempersiapkan semuanya. Setelah selesai mereka memantau keadaan di depan, karena dirasa sudah aman ketiga pria itu segera membawa mereka pergi dari tempat itu. Beruntung anak-anak mengerti dengan situasi tersebut sehingga mereka bisa tenang.


"Bapak... Pak Tohir kan?"

__ADS_1


Rangga kini bisa melihat dengan jelas sosok pria yang menyelamatkan mereka dengan bantuan cahaya bulan.


__ADS_2