
Rania terlihat sangat cantik sekali memakai gaun mewah itu. Pernikahan di rumah Rangga berkali-lipat lipat lebih mewah dari di rumah orang tuanya. Sebenarnya ia tidak menginginkan ini karena malu dengan usianya yang tidak lagi muda. Namun demi menghargai keputusan mertuanya ia menurut saja.
"Subhanallah, lihat dia cantik sekali ya Pa. Rangga memang tidak salah pilih," puji bu Rahmi.
"Iya, tapi buat ku tetap Mama yang paling cantik," sahut suaminya menggombal.
Pipinya merona, ia mencubit lengan suaminya dengan mesra. Ibunya Rangga memang wanita cantik dan anggun pun di usianya yang sudah tidak lagi muda. Ayah Rangga mempunyai sifat yang sangat baik dan setia, makanya hubungan mereka awet hingga kini.
Tamu undangan begitu ramai, karena selain tamu dari kedua mempelai, orang tua Rangga juga mengundang teman dan rekan bisnis mereka. Berbagai jenis mobil mewah terparkir rapi di pelataran. Dekorasi megah nan mewah memenuhi acara pesta itu. Kedua mempelai selalu melempar senyum kepada para tamu. Kedua malaikat kecil mereka tak kalah bahagia, senyum dan tawa tergambar jelas di wajah mereka.
"Selamat ya Mbak, semoga bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan,"
Nelly datang memberikan ucapan selamat, wanita itu senang mantan kakak iparnya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Ia takjub melihat pernikahan semewah ini.
"Ya ampun Nelly, terima kasih doanya. Terima kasih juga sudah datang ya. Silahkan di nikmati hidangannya,"
Tamu tiada hentinya berdatangan membuat kaki Rania terasa pegal, Rangga bisa membaca gelagat istrinya itu.
"Sayang, apa kamu capek?" tanya Rangga.
"Sedikit," jawab Rania sembari tersenyum.
Rangga segera memanggil panitia acara, ia memberi instruksi untuk menyetop menerima tamu ke pelaminan selama 30 menit ke depan agar istrinya bisa beristirahat dulu.
"Mas, seharusnya tidak perlu seperti itu. Tidak enak dengan para tamu undangan," ucap Rania.
"Tidak apa Sayang, kamulah yang terpenting. Mereka juga pasti mengerti,"
Rania sangat bahagia sekali, suaminya mencintai dirinya begitu besar. Ia bersyukur telah di beri kesempatan untuk memilikinya.
☆☆☆
Sementara itu, di tengah-tengah tamu undangan yang ramai. Seorang pria menatap mereka dengan balutan kesedihan. Tiada henti ia menyeka cairan bening yang melaju dari sudut matanya tanpa bisa ia tahan. Hatinya hancur, sakit sesakit-sakitnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Alif tidak menghiraukan seberapa megah pesta pernikahan itu. Yang ia perhatikan hanyalah mantan istri serta kedua anaknya yang tampak bahagia berada di atas pelaminan dengan pria lain. Hatinya tersayat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Ia memang merayu adiknya untuk bisa datang ke pesta bersamanya dengan syarat tidak akan mengganggu jalannya pesta.
"Mas, ayo kita pulang. Aku sudah bertemu mbak Rania,"
__ADS_1
Nelly menarik tangan kakaknya untuk mengikutinya, Alif menurut. Pandangannya kosong. Nelly berinisiatif membonceng kakaknya karena melihat sepertinya kejiwaan kakaknya masih belum stabil.
"Kamu masuk saja Nel, aku mau menemui teman ku," ucap Alif saat tiba di rumahnya.
Nelly menatap pria itu untuk mencari kebenaran dari ucapannya.
"Benar kamu ketemu teman? Mas tidak akan kembali ke pesta itu kan?" tanya Nelly.
"Mana mungkin kembali kesana, penjagaannya ketat aku tidak mungkin bisa masuk,"
Alif berlalu meninggalkan adiknya yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Ia melajukan kendaraannya dengan keras, ia ingin menemui Wanto temannya untuk berbagi perasaan.
"Wah, tumben kamu kesini ada angin apa nih?"
Wanto menatap temannya yang wajahnya nyaris seperti pakaian kusut yang tidak di setrika.
"Aku ingin cerita pada mu, aku tidak kuat menahannya sendiri," jawab Alif.
Wanto menghela napas sedikit kasar, ia yakin temannya pasti sedang punya masalah.
"Ayo kita ke belakang,"
"Ini teh, ini alkohol terserah kamu mau minum yang mana,"
Alif menatap temannya itu, tidak biasanya dia menawarinya alkohol. Mungkin ia tahu jika dirinya sedang stres. Tanpa pikir panjang di tenggaknya alkohol itu.
"Ceritakanlah, ada apa lagi?" tanya Wanto.
Alif hanya tertunduk lemah, namun menit kemudian ia tertawa lalu menangis. Tampaknya pengaruh minuman tadi mulai bereaksi di badannya yang memang jarang menyentuh barang haram tersebut.
"Dia sudah menikah, aku benar-benar kehilangannya. Huaaa..." Alif menangis tersedu-sedu.
Wanto menepuk-nepuk pundak pria itu untuk menenangkannya. Sepanjang malam Alif meracau tanpa henti. Sebentar terdiam lalu tertawa kemudian menangis, begitu terus. Wanto dengan sabar menemani temannya yang sedang patah hati itu. Tampaknya ia begitu mencintai mantan istrinya, karena Wanto tidak pernah melihatnya serapuh ini.
☆☆☆
Di tempat lain di sudut kota yang sama.
__ADS_1
Gemerlap pesta sudah berakhir, malam semakin larut. Rangga dan Rania telah berada dalam kamar pengantin mereka. Sementara kedua orang tua mereka menemani kedua anaknya. Orang tua Rania memang tidak di perkenankan datang karena mereka sudah terlalu lelah mengurus pesta pernikahan mereka di desa kemarin.
"Sayang, kamu ingin kita bulan madu di mana?" tanya Rangga.
"Bu-bulan madu? Hmm... apa Mas ingin kita bulan madu?" tanya Rania.
Detik kemudian ia merutuki dirinya sendiri, mengapa jadi istri yang kurang peka. Harusnya ia mengerti jika ini adalah pernikahan pertama untuk pria itu.
"Kenapa? Apa kamu kepikiran anak-anak?" tanya Rangga.
Sejujurnya ia memang memikirkan hal itu, ia tidak pernah meninggalkan mereka terlalu lama selama ini. Apalagi untuk bulan madu pasti butuh waktu beberapa hari.
"Sebenarnya aku..."
"Jika mereka mau di ajak saja, kita bisa bawa mbak untuk menemani mereka. Nanti kita reservasi 2 kamar yang bersebelahan atau berhadapan, jadi jika keluar masih bisa bersama mereka," ucap Rangga.
Betapa malunya Rania yang terlalu egois hingga mengesampingkan kebutuhan pria itu. Namun nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya tidak bisa mengesampingkan perasaannya itu.
"Mas, terima kasih sekali ya kamu selalu mengerti aku. Aku bahagia bisa memiliki dan mendampingi diri mu di sisa umur ku,"
Rania memeluk suaminya, ia bergelung manja di dada bidang pria itu. Rangga mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Aku akan mencintai dan menerima apapun yang bersangkutan dengan diri mu. Mereka sekarang juga anak ku, mereka adalah tanggung jawab ku juga,"
Rania makin erat memeluk suaminya, aroma tubuh Rangga sudah menjadi candu baginya saat ini.
"Sayang, apa kamu mengundang mantan suami mu ke pesta pernikahan kita?" tanya Rangga.
Dahi Rania mengernyit, ia menatap suaminya dengan perasaan bingung.
"Tidak Maa, tapi aku mengundang adik ipar ku. Karena selain dia baik, dia juga salah satu rekan bisnis ku. Memangnya kenapa, Mas?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku tadi sempat melihatnya, kehadirannya begitu kentara karena hanya dirinya yang terlihat sedih di pernikahan kita. Sepertinya ia masih belum merelakan kepergian mu,"
Rania terkejut, benarkah Alif hadir?
"Biarkan saja Mas, aku sudah melupakannya. Jiwa dan raga ku hanya untuk mu sekarang, kamu adalah masa depan ku dan anak-anak,"
__ADS_1
Rania kembali menenggelamkan tubuhnya ke pelukan suaminya. Rangga membalasnya dengan tak kalah mesra.