
Keesokan harinya.
"Alif mana, kok belum turun untuk sarapan? Apa ia tidak pergi kerja?" tanya ibunya.
"Coba aku panggil Mas Alif ya,"
Nelly segera bergegas memanggil kakaknya di kamarnya.
Tok... tok... tok
"Mas Alif, di suruh ibu sarapan. Mas tidak berangkat kerja hari ini?"
Nelly mengetuk pelan, namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Apa Mas Alif masih tidur ya?" tanya Nelly.
"Mas, bangun... Ayo sarapan. Semua sudah menunggu di meja makan,"
Nelly sedikit berteriak agar kakaknya bangun, namun tidak ada pergerakan dari dalam. Ia takut mengganggu kakaknya jadi memilih turun lagi ke bawah untuk memberi tahu orang tuanya.
"Loh Mas mu mana Nel, kok kamu turun sendirian?" tanya ayahnya.
"Sudah aku ketuk dan ku panggil, tapi tidak ada jawaban Yah," jawab Nelly.
"Anak itu ya, kemarin sudah mengusir ku sekarang masih saja molor. Dia pikir jika sudah bercerai maka dunianya runtuh apa, seperti tidak ada gadis lain saja," cibir ibunya.
"Ya pasti sedih Bu. Mas Alif dan mbak Rania itu sudah menikah selama 11 tahun lebih, susah senang di hadapi bersama, pasti berat menerima kenyataan sekarang sudah jadi mantan. Ibu tidak pernah mengalami, jadi tidak tahu rasanya bagaimana," sungut Nelly.
"Heh dasar anak kurang ajar, apa kamu sumpahin ibu jadi janda gitu ya. Enak saja kalau bicara kamu itu," balas ibunya kesal.
"Makanya Bu, sudah aku bilang untuk menjaga lisan. Jika ingin di hargai orang maka ibu juga harus belajar menghargai orang lain," sahut suaminya.
"Ah kalian berdua sama-sama banyak omong, biar ibu yang panggil Alif. Anak itu terkadang memang keterlaluan, senang sekali bikin orang tua repot,"
Sambil melangkah ke lantai atas, bu Nani terus saja mengoceh. Suami dan putrinya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
"Lif, Alif... Ayo bangun, semua sudah menunggu mu untuk sarapan. Jika kamu terus mengurung diri, ibu akan dobrak pintu ini,"
Bu Nani berteriak dengan kekuatan penuh, walaupun dirinya belum sarapan namun tenaganya sangat luar biasa. Namun pintu tetap tidak bergeser sedikit pun, membuat bu Nani naik darah.
Brukk...
Bu Nani terjatuh karena terlalu keras membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia meringis karena membentur lantai. Dengan perlahan ia mendekati tempat tidur putranya.
__ADS_1
"Lif, bangun ini sudah siang,"
Ia mengguncang tubuh anaknya perlahan, namun Alif masih diam. Ia memegang kening putranya, ternyata sangat panas.
"Astaga, kamu sakit ya Nak," ucap bu Nani.
"Pak, Pak, cepat kesini. Alif sakit, badannya panas sekali," teriaknya.
Dengan tergopoh-gopoh suami dan juga putrinya naik ke atas.
"Wah panas sekali, telepon dokter saja. Kita tidak mungkin membawanya ke rumah sakit," ucap ayah Alif.
"Bawa langsung saja Pak, kita gotong sama-sama,"
Mereka segera membawa Alif ke rumah sakit terdekat. Panasnya begitu tinggi membuat keluarganya sangat kuatir.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya bu Nani.
"Panasnya sudah mulai turun, tapi tolong jangan sampai pasien stres. Pak Alif mengalami stres dan dehidrasi yang cukup parah. Dari tadi pasien selalu memanggil nama Rania, kalau bisa tolong bawa kemari untuk membantu pasien segera pulih," ucap dokter itu.
"Baik Dok, terima kasih," balas ayah Alif.
"Sebaiknya kita hubungi mbak Rania, Yah," ucap Nelly.
"Kita coba saja, mbak Nia kan orangnya baik. Dia pasti mau membantu supaya Mas Alif cepat membaik. Biar aku yang telepon,"
Nelly segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rania.
Tut... tut... tut...
"Halo, Mbak Nia," sapa Nelly.
"Iya Nel, ada apa?" tanya Rania.
"Mbak, aku tahu kalian sudah resmi berpisah. Tapi saat ini Mas Alif sedang butuh bantuan, ia sedang di rawat di rumah sakit. Sejak tadi mengingau nama Mbak, bisakah Mbak datang kesini?"
Nelly pun menjelaskan sakit kakaknya dan apa yang di anjurkan dokter. Rania menyimak dengan baik apa yang Nelly ceritakan.
"Baiklah Nel, aku akan kesana bersama anak-anak sekarang,"
Rania segera meminta izin kepada guru Alisa, dia tidak bisa masuk karena harus ikut serta menjenguk ayahnya yang sedang di rawat.
"Sayang, ayah sedang sakit jadi kita akan menjenguknya. Ayo kita siap-siap,"
__ADS_1
Rania segera memandikan Bintang, setelah itu mereka berangkat menuju rumah sakit. Lalu lintas yang padat membuat mereka lebih lama di perjalanan. Setelah 1 jam lebih mereka baru sampai di rumah sakit.
"Assalamualaikum, bagaimana keadaan Mas Alif Yah?" tanya Rania.
"Nia kamu sudah datang. Dia masih setengah sadar, kamu masuk saja," jawab ayah Alif.
Rania membuka pintu perlahan, Alif masih terpejam namun tubuhnya kadang bergerak.
"Nia... Nia..."
Hanya itu yang terucap dari bibir mantan suaminya dengan mata masih terpejam. Rania menjadi sedih, ia sangat prihatin melihat keadaan Alif. Sudah berbulan-bulan tidak tinggal seatap, harusnya lebih mudah untuknya melupakan dirinya.
"Mas Alif... aku sudah datang, aku ada di sini Mas,"
Rania mendekat, berbicara lirih di dekat telinga Alif. Ia memegang kening Alif, masih terasa hangat.
"Nia..."
"Iya Mas, aku di sini,"
Alif membuka mata, air matanya mengalir dari sudut matanya tatkala melihat kehadiran Rania di sisinya.
"Aku tidak sedang bermimpi kan, ini benar kamu Nia?"
Alif menggenggam tangan Rania, membuktikan jika yang ia rasakan bukan sekadar mimpi.
"Iya Mas, ini aku. Anak-anak juga datang menjenguk mu, sebentar ya aku panggilkan mereka,"
Rania segera memanggil kedua anaknya untuk menemani, bagaimanapun mereka sudah bukan muhrim lagi. Ia tidak ingin hatinya melemah, ia datang hanya karena mengingat Alif adalah bagian dari kedua anaknya. Apa yang terjadi pada pria itu juga akan berpengaruh terhadap hidup kedua anaknya.
"Ayah sakit apa? Cepat sembuh dong Yah, aku ingin jalan-jalan bersama Ayah lagi,"
Ucapan Alisa mengembangkan senyum di bibir pria itu, semangatnya kembali berkobar.
"Kamu lihat mereka Mas, mereka masih butuh kamu. Jangan hanya karena kita telah berpisah kamu menjadi lemah dan tak mengindahkan kehadiran mereka, kamu harus terus melanjutkan hidup mu Mas,"
Kata-kata Rania bagai sebuah tamparan bagi Alif. Betapa egoisnya dia yang hanya memikirkan tentang perasaannya sendiri, bersedih dan mengurung diri seolah dirinya yang paling tersakiti. Ia tidak sadar jika semua orang juga tidak nyaman dengan keadaan ini.
Rania, kedua anaknya bahkan keluarganya juga pasti sulit menerima perceraian ini. Tapi apa yang bisa mereka perbuat jika memang ternyata semua adalah kehendak Tuhan. Mereka hanya bisa pasrah dan terus melanjutkan hidup.
"Maafkan aku yang belum bisa menerima kenyataan, aku memang hanya pria lemah. Aku janji tidak akan berbuat seperti ini lagi, Nia,"
Alif berucap sambil tertunduk.
__ADS_1