Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 90 Alif Dan Laila


__ADS_3

"Istri saya kenapa, Dok? Tadi dia kesakitan padahal HPL (Hari Perkiraan Lahir) masih jauh,"


Rangga begitu panik.


"Saya periksa dulu ya, Pak,"


Rangga menunggu dengan tidak sabar, ia masih bisa mendengar istrinya merintih kesakitan. Ini merupakan pengalaman pertama untuknya, jadi dia merasa cemas sekali.


"Bu Rania tidak apa-apa, bayinya juga sehat. Tapi tolong tidak boleh terlalu lelah dan stres, apa sebelumnya istrinya pernah jatuh atau terbentur?" tanya dokter itu.


Rangga dan Rania berpandangan, ia ingat saat peristiwa Dona itu istrinya terhempas dengan keras ke sofa. Ia pun menceritakannya kepada dokter.


"Bisa jadi karena hal itu, sehingga perutnya terasa sakit. Itu hanya sakit biasa jadi bukan kontraksi, kontraksi biasanya terjadi saat usia kehamilan mencapai 30 minggu ke atas,"


Dokter terus saja menjelaskan tentang kemungkinan-kemungkinan yang nantinya bisa terjadi. Rangga menyimak dengan seksama apa yang di jabarkan oleh dokter. Walaupun ini anak ketiganya, Rania juga memperhatikan apa yang dokter katakan.


"Terima kasih ya Dok, saya pasti akan selalu menjaga istri saya," ucap Rangga.


"Iya Pak, semoga bu Rania tidak mengalami sakit lagi sampai waktunya tiba,"


Rangga mengambilkan kursi roda untuk istrinya. Tadinya ia ingin menggendongnya tapi karena istrinya menolak maka ia memutuskan menggunakan kursi roda.


"Maafkan aku ya Sayang, karena masalah Dona tempo hari kamu jadi kesakitan seperti tadi," ucap Rangga sembari mendorong kursi rodanya.


"Ini bukan salah mu Mas, ini sudah takdir. Berhentilah merasa bersalah,"


Rania mencium tangan suaminya.


"Oh ya Sayang, anak-anak bagaimana?" tanya Rania.


"Aku antarkan kamu ke rumah dulu, baru menjemput anak-anak ya,"


"Terima kasih Suami ku, aku mencintai mu,"


Mereka berciuman di dalam mobil. Rangga memasangkan seat belt untuk istrinya. Ia mengelus lembut dan mencium perut istrinya sebelum melajukan mobilnya.


☆☆☆


"Yah, aku ingin pulang. Aku ingin tahu keadaan ibu," ucap Alisa setelah acara selesai.


Alif memandang putrinya.


"Apa kamu tidak suka di sini bersama ayah, Sayang?" tanya Alif.


Alisa menunduk, sejujurnya ia memang tidak nyaman. Ia telah terbiasa hidup bersama ibu dan papanya. Rasanya sangat aneh dia berada bersama ayahnya serta keluarga barunya. Namun ia tidak ingin menyakiti hati pria itu. Papanya telah berpesan padanya harus tetap menghormati ayahnya walaupun ia pernah bersalah.


"Bukan begitu Yah, aku hanya kuatir dengan ibu. Apalagi ibu saat ini sedang hamil, aku ingin tahu keadaannya,"

__ADS_1


Alif dapat memahami perasaan putrinya. Ia segera menghubungi mantan istrinya itu.


"Sayang, ibu baik-baik saja dan sudah ada di rumah. Ibu bilang papa mu sedang kemari untuk menjemput kalian," ucap Alif.


Seketika mata Alisa menjadi cerah. Ia sedang ibunya tidak sakit. Ia juga sedang mengetahui Rangga akan segera menjemput mereka.


☆☆☆


"Jadi itu tadi mantan istri mu ya Mas? Dia sangat cantik ya," puji Laila.


"Secantik apapun jika milik orang lain tidak ada gunanya. Istri ku sekarang juga tidak kalah cantik, aku bersyukur memiliki mu Laila Sayang,"


Hati Laila senang, wajahnya merona mendengar suaminya memujinya. Alif mengangkat dagu istrinya, di tatapnya kedua maniknya yang indah. Ia mencium bibirnya dengan lembut.


"Ehem... sabar, sabar Lif," ucap pak Agus.


Seketika Alif dan Laila tersipu malu. Alif memang memboyong Laila ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Setelah selesai acara di rumah orang tua Laila mereka langsung pulang ke rumah Alif.


"Kalau sudah tidak sabar, langsung ke kamar saja," imbuh pak Agus.


Walaupun mereka sangat menginginkannya tapi mereka tahan. Setelah berganti baju mereka makan siang bersama keluarga Alif.


"Apa kamu bisa memasak, Laila?" tanya bu Yani.


"Alhamdulillah bisa Bu. Tapi hanya masakan sederhana saja," jawab Laila.


"Jadi istri itu harus pandai memasak, biar suami tidak sering jajan di luar," sindir bu Yani.


"Aku tidak masalah kok, apa saja masakan Laila pasti aku makan," bela Alif.


"Ya kamu mau makan, kalau aku jika tidak enak ya tidak mau,"


Bu Yani mulai menyulut keributan. Alif memandang ayahnya meminta bantuan.


"Sudah, sudah Bu. Mereka pengantin baru, jangan merusak suasana dengan kata-kata yang tidak pantas. Sebaiknya kita makan dengan tenang," tegur pak Agus.


Bu Yani akhirnya diam. Ia melahap makanannya dengan malas. Ia memang tidak suka dengan kehadiran Laila. Wanita ini terlalu biasa menurutnya, tidak pantas bersanding dengan putranya. Namun karena Alif mengancamnya terpaksa dia diam.


☆☆☆


Malam harinya.


Alif dan Laila sudah resmi menjadi suami istri. Kini keduanya telah ada di kamar pengantin. Di saat hari yang di nantikan keduanya justru merasa canggung untuk memulai.


"Apa Mas ingin minum kopi?" tanya Laila untuk mencairkan suasana.


"Apa? Kopi? Boleh juga," jawab Alif gugup.

__ADS_1


Keduanya memang bukan orang yang agresif, jadi sama-sama bingung untuk memulai. Apalagi selama ini keduanya memang tidak pernah macam-macam.


"Ini Mas, kopinya,"


"Taruh saja di meja dulu,"


Laila menaruh kopi yang masih panas itu di meja. Mereka sama-sama duduk di kasur tetapi di sisi yang berseberangan.


'Astaga, kenapa aku jadi gugup begini. Padahal ini kan bukan yang pertama,' batin Alif.


'Mengapa sejak tadi Mas Alif hanya diam saja, apa aku tidak menarik untuknya?' batin Laila.


"Laila, apa kamu ingin memulainya sekarang? Apa kamu sudah siap?" tanya Alif akhirnya.


"Siap apa Mas? Memulai apa?" Laila ingin memperjelas maksud suaminya yang terdengar ambigu.


"Membuat adik untuk Akila," jawab Alif malu-malu.


Mata mereka saling bertemu. Alif mendekati istrinya. Sekali lagi ia bertanya.


"Apa kamu sudah siap?"


Laila mengunggulkan kepalanya. Pipinya bersemu merah muda karena tersipu.


"Aku siap lahir dan batin, Mas,"


Mereka bukan anak kemarin sore lagi, keduanya mulai kemesraan mereka. Saling memuaskan satu sama lainnya.


"Terima kasih ya Sayang, semoga pernikahan kita kekal selamanya," ucap Alif.


Ia mengecup kening istrinya sebelum akhirnya tidur sembari berpelukan.


☆☆☆


Laila bangun ketika adzan subuh berkumandang. Ia segera mandi besar agar bisa menunaikan shalat subuh, sementara suaminya masih berjibaku dengan mimpinya.


"Mas Alif bangun, sudah subuh,"


Laila membangunkan suaminya dengan lembut.


"Iya sebentar lagi, Laila,"


Karena kelelahan setelah bertempur 2 ronde, Alif belum juga bangun. Laila turun ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi.


"Awal menikah bangunnya pagi, coba saja kalau sudah lebih dari sebulan pasti sifat aslinya keluar," sindir bu Nani yang juga ada di dapur.


Laila hanya tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa aku bantu, Bu? Tenang saja, aku tidak akan merebut Mas Alif. Dia tetap putra ibu sampai kapan pun," ucap Laila.


'Apa benar kamu sebaik itu?' tanya bu Nani dalam hatinya.


__ADS_2