Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah


__ADS_3

"Laila, hari ini kita ke rumah orang tua ku ya? Walaupun ibu sudah jahat terhadap mu, dia tetap ibu ku,"


Alif berkata dengan lembut sembari menatap lekat kedua manik istrinya.


Sebenarnya Laila juga sudah memaafkan apa yang telah ibu mertuanya perbuat. Hanya saja bertemu dengannya akan membuka luka lama yang bahkan belum kering di hatinya.


"Iya, Mas," jawabnya singkat.


Alif tahu sakit hati istrinya belum sepenuhnya sembuh, apalagi sampai saat ini pun mereka belum di percaya mendapat keturunan lagi. Alif mengerti. Namun ia ingin hubungan mereka segera membaik, karena bagaimanapun hidup mereka akan terus berdampingan seperti ini. Bukankah akan indah terasa bila hubungan pasangan dan orang tua kita bisa sejalan. Hidup akan terasa damai dan harmonis. Itu yang Alif inginkan.


"Aku tahu kamu pasti masih mengingat kejadian itu, karena aku pun juga begitu. Kita anggap semua itu cobaan dalam pernikahan kita. Mari kita berdamai dengan keadaan,"


Laila menatap lurus ke arah suaminya, detik kemudian ia pun tersenyum.


"Iya Mas, aku juga tidak ingin hidup dengan dendam. Jam berapa ke rumah ayah dan ibu?"


Alif senang sekali, ia merasa beruntung mendapatkan istri yang sabar dan pengertian seperti Laila.


"Sekarang saja Kita siap-siap, Akila juga jangan lupa kamu ajak ya,"


Mereka pun segera bersiap. Laila membawa sebagian masakan yang ia buat. Kebetulan hari ini ia masak cukup banyak. Ia juga membawa kue buatannya. Menjelang bulan suci ramadhan ini dia juga memulai usaha kue kering. Banyak pesanan yang sudah masuk. Bulan puasa nanti ia libur memasok makanan di kantin pabrik jadi bisa fokus membuat pesanan kue kering.


"Apa saja itu Laila, kok banyak sekali?" tanya Alif.


"Hanya makanan dan kue untuk ibu dan ayah, Mas," jawab Laila.


"Kamu memang istri yang baik,"


Alif mencium kening istrinya membuatnya tersipu malu-malu.


Mereka bertiga kemudian berangkat menuju ke rumah orang tuanya.


☆☆☆


"Bagaimana keadaan Michelle saat ini, Dok? Kapan kira-kira dia bisa keluar dari sini?" tanya Anto.


"Perkembangannya sangat bagus, ia mengalami kemajuan yang signifikan. Nanti siang akan kami lakukan tes terakhir, jika hasilnya bagus besok dia sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini," jawab dokter Hendro.


"Syukurlah, semoga hasilnya bagus. Saya akan menemuinya dulu,"


"Silahkan,"


Anto bangkit dan melangkah menuju ruangan Michelle.


"Mas, kamu bawa apa itu?"


Michelle segera berlari menghampiri kekasihnya itu.


"Ini kue kesukaan kamu,"


"Yang benar, hmm... wangi sekali. Nyam, nyam,"


Michelle langsung membuka dan melahap kue brownies kesukaannya.


"Pelan-pelan makannya dong. Tidak ada yang akan meminta," ledek Anto.


Michelle tidak peduli dan terus mengunyah kue itu, membuat Anto hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya.

__ADS_1


"Enak, terima kasih ya Mas,"


"Oh ya, tadi dokter Hendro bilang jika akan di adakan tes. Kalau hasilnya bagus besok kamu sudah bisa meninggalkan tempat ini," ucap Anto.


"Iya, tadi dia juga bilang begitu. Aku takut Mas, takut hasilnya tidak sesuai harapan," wajahnya berubah sedih.


"Tenang, kamu harus percaya diri. Aku yakin kamu bisa, aku percaya kalau kamu sudah sembuh total,"


"Terima kasih ya Mas, aku beruntung memiliki mu,"


Keduanya berpelukan untuk beberapa saat.


☆☆☆


"Assalamualaikum,"


Mereka bertiga serempak mengucapkan salam saat tiba di rumah orang tua Alif.


"Waalaikum salam, eh kalian ayo masuk," pak Agus menyambut mereka dengan gembira.


"Aku kira kalian sudah tidak ingat ke sini lagi," sindir bu Nani.


"Maaf Bu, kita sedang sibuk akhir-akhir ini. Apalagi Laila sudah berjualan sekarang, jadi jarang ada waktu luang," ucap Alif.


"Ini Bu, untuk Ibu dan Ayah,"


Laila memberikan oleh-oleh yang ia bawa.


"Waduh banyak sekali Laila, terima kasih ya," pak Agus segera mengambil dan membuka oleh-oleh pemberian menantunya.


"Iya Yah, itu makanan dan kue jualan ku. Alhamdulillah kalau cocok di lidah ayah," jawab Laila.


"Ternyata kamu pandai memasak dan membuat kue, Alif sangat beruntung sekali," puji ayah mertuanya.


Bu Nani juga ikut mencicipi karena penasaran. Tentu saja rasanya memang enak. Hanya saja ia tidak mungkin membuat menantunya itu besar kepala sehingga bersikap biasa saja.


"Biasa saja kok," sahutnya.


"Sepertinya lidah mu bermasalah, makanan seenak ini kamu bilang biasa," ledek suaminya.


"Oh ya Lif, tolong kamu panggilkan tukang ya. Lampu di atas seperti mau jatuh,"


Bu Nani menunjuk lampu kristal di atas ruang tamu yang terlihat sedikit miring dan bergoyang.


"Aduh itu bahaya sekali, aku telepon tukangnya dulu,"


Alif terlihat menelepon seseorang, namun raut wajahnya terlihat tidak senang.


"Bagaimana, Lif?" tanya bu Nani.


"Orangnya baru bisa datang besok Bu, sekarang dia masih ada pekerjaan. Sebaiknya jangan berada di ruang tamu sampai lampu itu di perbaiki,"


Alif mengajak semuanya berpindah ke ruang keluarga. Mereka tampak asyik berbincang sembari menikmati kue buatan Laila.


"Ada yang bisa aku bantu, Bu?"


Laila menghampiri ibu mertuanya yang tengah sibuk di dapur.

__ADS_1


"Ya sudah kamu yang masak ya, aku lelah mau istirahat dulu,"


Bu Nani meninggalkan aktivitasnya dan naik ke kamarnya. Laila melanjutkan pekerjaan yang di tinggalkan ibu mertuanya.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum,"


Ada tamu yang datang.


"Waalaikum salam,"


Alif membukakan pintu. Ternyata tamu untuk ibunya. Ia segera memanggil ibunya di kamarnya.


"Aduh, tidak tahu orang baru saja istirahat malah ada tamu,"


Bu Nani turun sembari mengomel. Ia menemui tamunya yang ternyata teman arisannya.


"Laila, buatkan teh untuk tamu ku ya," titah bu Yani.


"Baik, Bu,"


Laila segera membuatkan minum, lalu menyuguhkannya.


Beberapa saat kemudian, masakannya sudah matang. Karena tamu ibu mertuanya terlihat baru saja keluar iya ke depan untuk mengambil gelas yang kotor.


"Nah begitu dong, jadi menantu itu harus rajin. Sudah harus mengerti tanpa di suruh," sindir bu Nani.


Laila hanya tersenyum.


"Awas, Bu..."


Pranggg...


"Akh..." teriakan kesakitan membuat semua berlari ke ruang tamu.


"Laila..." Alif tertegun.


"Ayo bawa ke rumah sakit, Lif," ajak ayahnya.


Mereka menggotong tubuh Laila ke dalam mobil.


"Aku ikut," ucap Bu Nani.


Mereka semua ikut mengantar Laila ke rumah sakit.


"Tahan ya Sayang, kita akan segera sampai," ucap Alif.


"Terima kasih ya Laila, kamu sudah menyelamatkan ku,"


Mata bu Nani berkaca-kaca, ia terharu dengan apa yang telah menantunya itu lakukan. Jika saja Laila tidak menyelamatkannya tepat waktu, lampu itu pasti sudah jatuh menimpa tubuhnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa ngeri.


"Sama-sama Bu, itu sudah kewajiban ku," jawab Laila di sela rintihannya.


"Maafkan aku, sudah berlaku buruk kepada mu selama ini,"


Bu Nani memeluk menantunya, air matanya luruh bersama rintihan kesakitan Laila. Laila senang, pengorbanannya ternyata tidak sia-sia. Ia bisa tersenyum dalam kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2