
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Rania dan Rangga berencana membeli seserahan untuk acara lamaran mereka. Sebenarnya Rania tidak ingin repot karena dirinya juga bukan gadis, apalagi usia mereka juga tidak lagi muda. Rasanya malu jika di perlakukan seperti masih gadis.
"Bagi ku kamu akan selalu menjadi gadis ku," itu yang Rangga ucapkan jika Rania menolak.
"Sayang, ibu takutnya lama perginya karena banyak yang harus di cari. Apa kamu tidak masalah tinggal dengan mbak Marni dulu?" tanya Rania.
"Tidak apa-apa Bu, Tante Marni itu baik kok. Aku senang jika bersamanya, kadang kita di ajak jalan-jalan kalau toko sedang sepi,"
Ternyata tidak salah ia percaya dengan mbak Marni, wanita itu menjaga anaknya dengan baik. Rania berencana akan menghadiahkan umroh gratis untuk pasangan Suami istri itu nanti.
"Ya sudah kalau begitu sekalian tunggu Om Rangga datang saja ya, nanti kita antar kalian ke toko dulu,"
☆☆☆
"Mas, sepertinya ini terlalu berlebihan. Perhiasan ini terlalu mahal," ucap Rania kala Rangga menyuruhnya memilih perhiasan dengan harga yang menurutnya sangat fantastis.
"Perhiasan ini tidak ada harganya di bandingkan diri kamu, Sayang,"
"Modus terus,"
Rania tidak bisa memilih karena menurutnya semua bagus dan unik, jadilah calon suaminya yang memilihkan untuknya.
Setelah membeli perhiasan mereka lanjut membeli yang lain, tas, baju, sepatu dan barang-barang untuk Rania lainnya. Saat tengah asyik memilih tas, Rania melihat sosok wanita yang ia kenal betul.
"Itukan Nelly, sama siapa ya kok mesra gitu? Apa suami barunya?"
Rania melihat mantan adik iparnya itu sedang bergelayut manja di lengan seorang pria yang mungkin sebaya dengan ayahnya. Mereka terlihat sedang memilih-milih baju.
"Masa iya itu suaminya, pria itu lebih cocok jadi ayahnya," guman Rania.
"Ada apa Sayang? Kamu lihat apa?" tanya Rangga.
"Oh tidak, sepertinya aku lapar," jawab Rania berbohong.
"Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi. Ayo kita makan dulu, aku ingin kamu mencoba makanan favorit ku,"
Rangga mengajak Rania ke restoran steik. Ternyata pria itu suka sekali dengan masakan itu.
"Enak sekali kan?" tanya Rangga.
"Iya, baru sekarang aku makan ini," jawab Rania jujur.
__ADS_1
"Uang kamu banyak, kenapa kamu masih hidup sederhana?"
Sebenarnya Rangga begitu penasaran kenapa Rania masih saja sederhana seperti dulu saat dirinya belum sukses sekarang.
"Aku bekerja untuk hidup Mas, bukan untuk gaya hidup. Bertahun-tahun hidup susah membuat ku sangat menghargai uang. Aku membeli yang aku butuhkan bukan yang aku inginkan,"
Jawaban wanita itu sangat mengena di hatinya. Rania begitu bijak sekali dalam menyikapi hidup. Rangga merasa sangat beruntung bisa di pertemukan lagi dengan wanita ini.
"Sayang, kamu ingin beli apa lagi? Terserah kamu boleh pilih yang penting selalu temani aku,"
"Terima kasih ya, Om baik sekali. Aku minta mentahnya saja deh,"
Tadinya Rania mengacuhkan orang di belakangnya. Namun ia penasaran dengan suara wanita yang berbicara dengan manja itu, suara itu seperti tidak asing di telinganya. Nia menoleh perlahan, betapa terkejutnya dia ternyata wanita itu adalah Nelly. Ia sedang bersama pria tua yang tadi sempat di lihatnya.
'Ya Allah, apa sebenarnya pekerjaan Nelly? Apa jangan-jangan dia...'
Batin Rania sedang menduga-duga. Ia tidak ingin berburuk sangka, namun apa yang dia lihat menunjukkan itu semua.
"Om, aku ke toilet sebentar ya," ucap Nelly.
"Ok, jangan lama-lama ya" balas pria itu.
Rania mengambil kesempatan ini untuk menemui Nelly, walaupun dia hanya mantan adik iparnya namun dia peduli kepadanya.
"Ok, Sayang,"
Rania mempercepat langkahnya, ia tidak ingin kehilangan jejak Nelly.
"Halo, ada apa Bu? Aku sedang bekerja ini,"
Terlihat Nelly tengah menerima telepon, sepertinya bu Nani yang menghubunginya.
"Iya tenang, nanti aku akan bawakan makanan enak," ucap Nelly lagi.
Setelah selesai menelepon, Rania segera menghampirinya.
"Nelly," panggil Rania.
"Mbak Nia..."
Nelly sangat terkejut, wajahnya berubah ketakutan. Padahal Rania hanya memanggil namanya saja.
"Kenapa kamu ketakutan?"
__ADS_1
"Oh itu... ehm, tidak apa-apa kok Mbak,"
Nelly terlihat semakin gugup. Biasanya hanya orang yang berbuat salah yang akan bertindak seperti itu.
"Siapa pria itu, Nel? Sebenarnya kamu kerja apa?" tanya Rania pada akhirnya.
"Mbak, tolong jangan bilang siapa-siapa ya. Aku takut jika sampai keluarga ku tahu," pinta Nelly.
"Tapi yang kamu lakukan ini salah Nelly. Jangan sampai karena uang kamu merendahkan harga diri mu sebagai seorang wanita. Masih banyak pekerjaan di luar sana yang halal. Maaf aku berkata seperti ini, karena aku peduli kepada mu," jawab Rania.
"Aku terpaksa Mbak, aku capek dan tertekan dengan sikap ibu. Dia selalu memaksakan kehendak. Dengan memiliki banyak uang ibu jadi lebih segan kepada ku," ucap Nelly.
"Tapi jalan kamu salah, uang yang di dapat dengan cara tidak halal tidak akan bermanfaat,"
"Lalu aku harus bagaimana, Mbak?"
"Berhenti dari pekerjaan mu ini, carilah pekerjaan yang halal. Jika kamu ingin membuat usaha aku bisa meminjamkan modal, tapi jangan sampai keluarga mu yang lain tahu,"
"Mbak serius mau menolong ku?"
Rania mengangguk, ia memang tulus ingin membantu Nelly.
"Datang saja ke rumah ku, tapi jangan lupa kabari dulu karena kadang aku tidak di rumah,"
"Terima kasih sekali ya Mbak, Mbak Nia memang penyelamat ku,"
Nelly memeluknya begitu erat. Rania menyeka air mata gadis itu dengan tisu.
"Tidak ada salahnya menjadi seorang janda. Kamu masih muda dan belum punya anak, hidup mu masih panjang. Jadi jangan kamu sia-siakan dengan pekerjaan penuh dosa seperti ini ya," saran Rania.
"Iya Mbak, aku akan segera berhenti. Aku pamit dulu ya Mbak,"
Rania melihat Nelly hingga ke tempat pria tua itu. Ternyata wanita itu serius, ia pergi meninggalkan pria yang masih kebingungan menatap kepergiannya.
"Sayang, kamu kemana saja? Aku menunggu mu lama sekali, karena aku kuatir jadi menyusul mu ke sini,"
Ternyata Rangga sudah berada di sampingnya. Karena erlalu fokus dengan Nelly ia sampai lupa dengan kehadiran pria itu.
"Maaf ya Mas sudah membuatnya kuatir, tadi agak antri soalnya,"
Mungkin berbohong memang tidak baik, tapi membicarakan aib orang lain lebih buruk lagi. Biarlah ini menjadi rahasia mereka, Rangga tidak perlu tahu soal Nelly. Toh mereka juga tidak ada hubungannya.
Sehabis makan mereka lanjut mencari barang lainnya. Rangga juga membelikannya baju khusus untuk acara lamaran nanti satu set dengan miliknya. Mungkin ini adalah hadiah dari Tuhan karena selama bertahun-tahun Rania hidup penuh penderitaan. Akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan juga.
__ADS_1