Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 93 Derita Laila


__ADS_3

Sepulang Alif dan Laila, saudara dan teman serta rekan bisnis mereka silih berganti menjenguk. Karena melihat istrinya sudah lelah menerima tamu, Rangga segera meminta maaf melaui semua akun sosmed serta wa story jika hari ini tidak dapat menerima tamu lagi.


"Kamu pasti lelah sekali ya Sayang. Dari pagi sampai tengah hari tidak berhenti yang datang," ucap Rangga.


"Iya sih, tapi senang juga sih Mas,"


"Kalau tidak aku stop, mereka pasti terus datang. Ayo kamu istirahat saja, sebentar lagi orang tua kita pasti segera datang,"


"Mama dan Papa mau datang?" tanya Rania.


"Bukan hanya mereka, aku sudah menyuruh sopir menjemput ibu dan bapak,"


"Ya ampun, kamu pengertian sekali sih Mas,"


Rania memeluk suaminya sebelum ia tertidur karena mengantuk.


☆☆☆


"Jadi istri mu hamil, Lif?" tanya pak Agus.


"Iya Yah, kata dokter sudah 10 minggu," jawab Alif.


"Memangnya kalian sudah periksa ke dokter?"


"Sudah, tadi saat melihat bayi Rania di rumah sakit tiba-tiba Laila muntah-muntah. Ternyata setelah di periksa kata dokter dia sedang hamil,"


"Loh, Rania sudah melahirkan ya?"


"Iya Yah, anaknya laki-laki,"


"Ternyata jodoh tidak ada yang tahu ya. Kalian bertahun-tahun menikah tapi ternyata bukan jaminan bisa terus hidup bersama. Yang penting kalian sekarang sama-sama bahagia. Tetaplah menjaga hubungan baik dengannya, karena selain dia ibu dari kedua anak mu, dia adalah wanita yang baik,"


Pak Agus memberi nasehat kepada putranya itu.


"Iya Yah, aku mengerti. Aku sudah bisa menerima kenyataan jika kita tidak berjodoh. Aku juga bahagia memiliki Laila,"


Mereka terus bercakap-cakap.


Pyarrr...


Terdengar suara benda jatuh di dapur. Bu Nani segera berlari ke bawah.


"Kamu ini apa-apaan sih, masa pegang piring saja bisa jatuh. Mau hancurkan barang-barang ku ya,"


Ia berteriak memarahi menantunya.


"Maaf Bu, aku tidak sengaja. Tadi aku terpeleset sehingga piring itu lepas dari tangan ku,"


Laila merasa bersalah, ia segera membersihkan pecahan piring itu.


"Alasan saja kamu. Kamu tidak suka kan kepada ku, makanya main lempar-lempar piring segala," ucap bu Nani.


"Astagfirullah, mana mungkin aku tidak menyukai Ibu," tatapannya terlihat sedih.

__ADS_1


"Aku terpaksa menerima mu, aku juga tidak menyukai mu. Aku juga tidak berharap keturunan dari wanita seperti mu,"


Bu Yani segera berlalu, meninggalkan Laila yang mulai menangis. Seburuk itukah dirinya sehingga kehamilan dirinya pun tidak di harapkan oleh ibu mertuanya?


"Ya Allah, sabarkan aku. Beri kekuatan untuk ku," ucap Laila.


Ia menyeka air matanya dan terus membersihkan sisa pecahan piring itu.


"Kamu sedang apa, Laila?"


Tiba-tiba Alif mengagetkannya.


"Oh ini Mas, aku sedang membersihkan pecahan piring yang jatuh,"


Alif membantunya berdiri, dan mendudukkannya di kursi.


"Sudah biar aku saja yang melanjutkan. Kamu jangan terlalu lelah, ingat ada bayi di dalam perut mu,"


Laila bersyukur walaupun bu Nani tidak menyukainya, namun suaminya baik dan pengertian.


"Kamu naik ke atas saja, istirahat. Jika butuh apa-apa katakan saja pada ku, mumpung aku libur," ucap Alif.


"Baiklah Mas, aku ke atas dulu ya,"


Laila naik ke atas dan berbaring menegakkan punggungnya. Kehamilannya kali ini membuat tubuhnya mudah merasa lelah. Tadinya ia tidak menyadarinya, namun setelah tahu jika dirinya hamil ia mulai memahami perubahannya akhir-akhir ini.


"Apa itu, Lif?"


Bu Nani berpapasan dengan putranya yang membawa sepiring makanan.


"Wah enak sekali istri mu, sudah tidak mengerjakan apa-apa sekarang justru seperti putri raja. Manja sekali, dulu ibu hamil tidak begitu amat," sindir bu Nani.


Tentu saja ucapannya yang nyaring terdengar oleh Laila yang berada di dalam kamar. Wanita itu hanya bisa mengelus dada. Padahal baru hari ini dia tidak membantu ibu mertuanya, kata-katanya sudah setajam itu.


"Ibu jangan berkata begitu. Ini kemauan ku sendiri membawakannya makanan, dia tidak pernah meminta. Dia sedang hamil anak ku, tolong ibu lebih menjaga perasaannya,"


Alif segera masuk ke kamar, meninggalkan ibunya yang mengoceh tidak jelas.


"Laila, jangan pernah memasukkan hati kata-kata ibu ku ya. Dia memang begitu, kamu yang sabar ya,"


Alif mengusap punggung istrinya. Laila hanya mengangguk pelan.


☆☆☆


"Sayang, selamat ya,"


Kedua orang tua Rangga memberi selamat kepada mereka. Baby Naya menjadi pusat perhatian hari ini.


"Bintang Sayang, lihatlah mata dan rambut adik mu sangat mirip dengan mu,"


"Iya Opa, dia kan memang adik ku,"


Semua tertawa mendengar jawaban polos Bintang.

__ADS_1


"Maaf ya kita baru bisa datang, banyak yang harus di urus soalnya,"


"Tidak apa-apa Ma, Pa. Kalian datang saja kita senang,"


Mereka senang sekali, tiada henti doa mengalir untuk Naya yang menggemaskan.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam, ibu, bapak,"


Kedua orang tua Rania juga datang, ruangan itu kini semakin ramai. Derai tawa kebahagian memenuhi ruangan itu.


"Kapan kamu pulang, Nak?" tanya ibunya.


"Sebenarnya aku ingin segera pulang, tapi dokter bilang paling tidak besok baru boleh pulang," jawab Rania.


"Nak Rangga kalau mau pulang tidak apa-apa, biar ibu dan bapak yang menjaga mereka di sini," ucap bu Arum.


"Tapi, aku ingin menemani mereka di sini Bu,"


"Iya Mas, sebaiknya kamu pulang saja dengan anak-anak. Setelah mereka berangkat sekolah kamu bisa ke sini lagi. Kamu dan anak-anak sudah di sini sejak kemarin. Papa dan Mama juga biar istirahat di rumah,"


Rania berusaha meyakinkan suaminya.


"Iya baiklah, nanti kita pulang," Rangga akhirnya mengalah.


Tok... tok... tok...


Suara pintu di ketuk, Alisa yang paling dekat dengan pintu segera membuka pintu.


"Anto? Ayo masuk,"


Rangga tidak menyangka jika temannya Anto yang datang.


"Maaf ya, aku tidak mengabari mau ke sini. Ada yang ingin bertemu kalian," ucap Anto.


"Siapa? suruh masuk saja, kenapa masih meminta izin," Rangga menepuk pundak temannya.


Pria itu kembali ke luar, dan masuk kembali dengan seorang wanita. Melihat siapa yang datang, Rangga segera mendekati anak dan juga istrinya.


"Anto, kenapa kamu bawa dia ke sini? Bukankah kamu tahu apa yang telah menimpa kami dulu karena ulahnya,"


Rangga sedikit kesal, wanita itu mengingatkan dirinya akan kejadian yang nyaris membuat istri dan calon bayinya dalam bahaya.


"Tenang dulu Rangga. Dia sudah sembuh. Dia datang untuk meminta maaf kepada kalian," ucap Anto.


"Kami sudah memaafkannya, bahkan sudah sejak lama," sahut Rania.


Rangga menatap istrinya yang terlihat tenang, tidak ada ketakutan sama sekali di wajahnya. Ia justru tersenyum sangat ramah.


"Maafkan aku, Mbak,"


Air matanya turun dengan sendirinya, ia terharu dengan kebesaran hati Rania.

__ADS_1


"Iya Dona, aku sudah memaafkan mu,"


__ADS_2