Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 52 Alif Menikah


__ADS_3

Ternyata benar, yang Alif berikan adalah sebuah undangan pernikahan. Rania tidak merasa cemburu, hanya saja ada rasa sedih di hatinya karena pria ini begitu mudah mendapatkan penggantinya, wanita yang sudah menemaninya selama 11 tahun lebih.


"Selamat ya Mas, ternyata kamu sudah menemukan pengganti ku,"


"Apa kamu cemburu, Nia? Apa kamu masih mencintai ku?" tanya Alif.


Ia memandang mata lentik Rania sangat dalam, hatinya tidak bisa berbohong jika dirinya masih mencintai wanita yang sudah lama mendampingi hidupnya ini. Pernikahannya dengan Desi hanya sebatas tanggung jawab, walaupun dia akan tetap berusaha mencintai wanita itu.


"Tidak Mas, aku ikut bahagia kok. Hanya saja aku tidak menyangka akan secepat ini," jawab Rania terus terang.


"Jika memang begitu, aku sangat berharap kedatangan mu bersama anak-anak. Aku masih ada urusan, jadi pamit dulu ya,"


Rania mengantar kepergian mantan suaminya sampai depan pintu. Alif sempat menggendong dan mencium Bintang sebentar, lalu pulang.


"Bu itu kertas apa?" tanya Bintang melihat ibunya memegang kertas yang ayahnya berikan.


"Ini undangan pernikahan, Sayang. Ayah akan menikah lagi dan mempunyai keluarga baru,"


Rania mencoba menjelaskan namun sepertinya Bintang belum terlalu mengerti. Ia mengajak Bintang kembali bermain untuk mengalihkan perhatiannya.


☆☆☆


Sore harinya.


Alisa baru saja pulang mengaji saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.


"Untung kamu sudah sampai rumah Nak, hujannya deras sekali," ucap Rania.


"Iya Bu, mana tadi tidak siap payung lagi. Oh iya, kata Bintang ayah tadi datang ya Bu?" tanya Alisa.


"Iya Sayang, tapi hanya sebentar," jawab Rania.


"Untuk apa ayah kesini, Bu? Bukannya ayah sudah punya keluarga baru?"


Alisa bertanya lagi karena penasaran.


"Ayah mu kesini untuk mengantar undangan pernikahan, ayah mu akan menikah lagi,"


Rania menatap kedua bola mata putrinya, ada kesedihan dan rasa kecewa di sana. Alisa mengalihkan pandangannya ke arah hujan di luar sana, ia menutupi matanya yang mulai berair. Rania bisa melihat itu semua, ia memeluk putrinya untuk memberinya kekuatan.


"Sayang, ibu akan selalu ada untuk kalian sampai kapan pun. Ibu rela tidak menikah lagi demi kalian,"


Rania berucap dengan sungguh-sungguh. Jika keluarga baru hanya membuat perasaan mereka terluka untuk apa ia memulainya lagi.


"Ibu jangan berkata begitu. Aku rela ibu menikah jika ayah ku sebaik Om Rangga," ucap Alisa.


"Apa? Om Rangga?" tanya Rania.


Alisa mengangguk.


"Jika ayahnya seperti Om Rangga, aku yakin semua anak pasti mau Bu. Om Rangga baik dan sangat perhatian,"


"Iya Sayang, Om Rangga memang sangat baik,"

__ADS_1


"Jadi ibu akan menikah dengan Om Rangga? Sepertinya Om Rangga juga sangat menyayangi Ibu,"


"Sayang, menikah tidak sesederhana itu. Ibu ikuti saja kemana takdir akan membawa,"


Rania memang menyimpan perasaan untuk pria itu, namun kegagalannya sebelumnya membuat dirinya tidak ingin bertindak gegabah lagi.


☆☆☆


Seminggu kemudian.


"Sayang, nanti malam adalah resepsi pernikahan ayah. Kita harus datang untuk menghargainya," pinta Rania.


"Aku mau datang, tapi ibu harus mengajak Om Rangga juga ya," jawab Alisa.


"Tapi Sayang, ibu tidak ingin nanti muncul kesalah pahaman. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap nenek mu itu,"


Rania takut ibunya Alif akan membuat keributan jika dirinya datang dengan Rangga. Wanita itu selalu nyinyir dan berpikiran negatif terhadap orang lain.


"Aku akan membela ibu jika nenek berani bertindak begitu. Aku justru tidak mau Ibu di hina karena datang sendiri, aku tahu bagaimana tajamnya ucapan nenek," balas Alisa.


"Tapi Sayang..."


"Ayolah Bu, kalau tidak lebih baik kita tidak perlu datang,"


Alisa mulai merajuk, jika seperti itu maka Rania tidak ada pilihan lagi selain mengalah.


"Baiklah, ibu akan mengajak Om Rangga. Tapi jika dia menolak atau sedang sibuk, kita akan tetap datang ke pesta pernikahan ayah, janji?"


Mereka mengaitkan jari kelingking sebagai tanda kesepakatan. Rania mulai menghubungi Rangga.


Tut... tut...


Baru dua kali berdering, pria itu sudah mengangkat teleponnya.


"Assalamualaikum, Rangga,"


"Waalaikum salam, tumben telepon jam segini, kangen ya?" tanya Rangga.


Rania melirik ke arah Alisa yang sedang tersenyum, gadis itu mendengar ucapan Rangga karena memang sengaja ia loud speaker agar putrinya mendengar jawaban pria itu.


"Rangga, ponsel ini aku loud speaker karena Alisa ingin mendengar jua," jawab Rania.


"Halo Alisa Sayang, Om juga kangen lo sama kamu," ucap Rangga.


"Alisa juga kangen, Om. Ibu mau ngomong sama Om Rangga tuh,"


"Ok, Sayang,"


"Begini Rangga, Mas Alif akan mengadakan resepsi pernikahan nanti malam. Alisa ingin aku mengajak mu untuk datang ke pesta itu, apa kamu..."


"Maaf sekali Nia, aku tidak bisa..."


"Tuh kamu dengar sendiri kan kata Om Rangga, dia tidak bisa ikut ke pesta. Jadi tidak masalah kan kita datang bertiga?"

__ADS_1


"Tapi, Bu..."


Alisa merasa kecewa sekali, ia tidak menyangka jika Om Rangga nya menolak ikut kesana.


"Rania, aku belum selesai bicara. Aku memang tidak bisa, tidak bisa nolak tawarannya maksudnya,"


Alisa dan Rangga tertawa karena sudah berhasil mengerjai Rania. Sementara Rania yang tadinya kesal justru ikut tertawa juga.


"Kalian ini ya, kompak kalau di suruh iseng," ucap Rania.


"Ya sudah, sehabis magrib nanti aku jemput ya,"


☆☆☆


Malam harinya.


Sudah hampir satu jam Rania berdandan, dia ingin menampilkan yang terbaik namun tidak terkesan berlebihan. Anak-anaknya juga telah siap dengan penampilan terbaik mereka. Tidak lama kemudian Rangga datang dengan penampilan yang sangat menawan.


"Maaf ya Om agak lama, soalnya macet di jalan. Mana ibu?"


Alisa begitu terpesona melihat penampilan pria itu.


"Om Rangga tampan sekali, cocok sekali sama ibu. Ibu lagi di dalam, dia cantik sekali Om," Alisa berbisik di telinga Rangga.


"Eh Rangga, ayo aku sudah siap,"


Keduanya sama-sama terpana, benar kata Alisa jika mereka sangat cocok sekali. Bahkan warna baju mereka senada walau tidak janjian.


"Astaga Rangga, kenapa warna baju kita bisa sama ya? Aku ganti baju dulu deh,"


Rania akan masuk kembali ke dalam kamar sebelum mereka mencegah.


"Jangan, Bu,"


"Iya Nia, tidak perlu ganti. Justru begini saja biar terlihat kompak,"


"Benar tidak apa-apa?" tanya Rania ragu.


"Iya, kamu cantik sekali malam ini," puji Rangga.


"Terima kasih, ya sudah ayo berangkat,"


Butuh waktu satu jam untuk sampai di tempat tujuan. Suasananya ternyata sangat ramai walaupun ini pernikahan Alif yang kedua. Mereka masuk bergandengan tangan, Rangga, Alisa, Bintang dan Rania.


Semua mata memandang ke arah mereka saat mereka masuk ke dalam gedung, banyak yang membicarakan kehadiran mereka.


"Eh itu siapa yang baru datang? Apa kalian kenal? Tapi itu seperti Alisa dan Bintang ya?" tanya bu Nani.


Semua memandang ke arah mereka.


"Itu kan mbak Rania, Bu," jawab Nelly.


"Hah? Masa iya?"

__ADS_1


__ADS_2