Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 65 Lamaran


__ADS_3

Rania mengajari orang tuanya jika keluarga Rangga akan melamarnya hari minggu besok. Orang tuanya di bantu saudara-saudaranya membantu merencanakan semuanya di sana. Sementara dirinya akan pulang hari ini bersama anak-anaknya menggunakan travel.


"Sayang, ayo cepat sebentar lagi travelnya akan datang,"


Alisa masih mengenakan bajunya. Putrinya sekarang sangat menjaga penampilan, mungkin karena dirinya sudah mulai beranjak dewasa.


"Iya Bu, sebentar lagi selesai,"


Beberapa saat kemudian travel datang menjemput mereka. Mereka segera berangkat. Menggunakan travel membutuhkan waktu lebih lama sekitar 7 jam perjalanan karena mobil harus menjemput dan mengantar penumpang sesuai tujuan masing-masing.


☆☆☆


Rania baru saja sampai pukul 19.00 di rumah orang tuanya. Ternyata mereka sudah mulai merenovasi rumah ini. Dekorasi yang cukup indah sudah terpasang di rumahnya.


"Kalian sudah sampai ya, ayo masuk,"


Ibunya menyambutnya dengan hangat. Di rumahnya ternyata sedang ramai, banyak saudara dan tetangga yang membantu dalam acaranya ini.


"Wah ini calon pengantinnya sudah datang, makin cantik saja Rania sekarang," celetuk salah seorang kerabatnya.


"Ah Bibi bisa saja, alhamdulilah yang penting sehat," jawab Rania.


"Kamu istirahat saja Nak, pasti lelah setelah perjalanan jauh," ucap Ibunya.


"Kenapa ibu repot begini, harusnya beli saja agar tidak capek. Ibu tinggal bilang biayanya berapa nanti bisa aku transfer, kasihan Bu yang membantu sudah tua-tua begitu," bisik Rania.


"Tidak apa-apa Nak, itu kemauan mereka sendiri kok. Kalau ada rejeki lebih nanti kita beri mereka agar senang," ucap ibunda.


"Ya sudah ibu atur saja, jika butuh apa-apa tinggal bilang aku ya Bu,"


"Uang yang kamu beri tempo hari masih banyak Nak, buat apa minta lagi,"


Rania dan anak-anak pun membersihkan diri lalu istirahat. Tidur di dalam mobil tidak mengalahkan kenyamanan tidur di atas kasur.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Rumah Rania sangat ramai sekali. Suara sound system menjadi ciri khas di setiap ada hajatan, ia tidak menyangka suaranya akan semeriah ini. Makanan, minuman, buah, serta kue sudah tertata dengan rapi di atas meja. Rumah orang tuanya yang sederhana di sulap menjadi indah berkat dekorasi yang tepat. Entah siapa yang mendekornya, yang jelas ia merasa sangat puas.

__ADS_1


"Subhanallah, kamu cantik sekali Nak. Orang pasti tidak menyangka kalau kamu sudah punya dua anak," puji ibunya.


"Iya Bu, putrinya cantik sekali. Saya saja terkejut saat tahu usianya sudah 37 tahun, saya sangka masih 28 tahun," sahut penata rias.


"Ya pastilah, Mbak Nia kan juragan skincare ya jelas saja kinclong. Berbeda dengan kita yang cuma bisa pakai bedak tabur," sahut yang lainnya.


"Ah kalian terlalu memuji, membuat aku melayang saja," jawab Rania.


Beberapa saat kemudian rombongan keluarga besar Rangga telah tiba. Tiga buah mobil mewah terparkir rapi di jalan di depan rumah Rania. Orang-Orang berpakaian rapi dan mahal terlihat turun dari dalam mobil. Rangga sangat tampan dan gagah dengan pakaian couple mereka.


"Aduh Bu, aku kok jadi deg-degan begini ya. Padahal dulu waktu sama Mas Alif tidak seperti ini," ucap Rania.


"Mungkin karena Rangga orang kaya dan terhormat," balas ibunya.


Kedua keluarga segera duduk bersama, terlihat Rania dan Rangga saling berpandangan sembari melempar senyum. Hari ini begitu membahagiakan untuk keduanya. Alisa dan Bintang justru terlihat duduk di samping Om kesayangannya itu.


Acara pun segera di mulai. Prosesi lamaran berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Mulai acara doa sampai sampai tukar cincin berjalan dengan khidmat.


"Terima kasih sekali atas kehadiran keluarga besar dari Mas Rangga, kami selaku wakil dari keluarga Mbak Rania mohon maaf sebesar-besarnya bila ada yang kurang berkenan baik dari perkataan ataupun perbuatan,"


Seseorang berbicara mewakili keluarga Rania Setelah semua proses selesai di laksanan. Mereka di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.


"Aku juga, rasanya gugup sekali," balas Rania.


"Padahal masih lamaran, bagaimana jika sudah menikah ya. Aku jadi tidak sabar ingin segera menjadi suami mu," imbuh Rangga.


"Memangnya sudah dapat tanggalnya?" tanya Rania.


"Apa kamu tadi tidak dengar?"


Rania menggeleng, dirinya terlalu gugup sampai tidak semua acaranya ikuti dengan fokus.


"Satu bulan lagi kita akan menikah, dua kali pesta. Di sini dan di rumah ku,"


"Apa harus di pestakan, Mas? Aku malu karena aku sudah tidak muda lagi,"


Rania memang terkadang merasa tidak percaya diri, padahal dirinya masih terlihat sangat cantik dan bertubuh bagus.


"Walaupun aku bukan yang pertama di hidup mu, tapi aku ingin menjadi yang terakhir. Aku ingin pernikahan ini berkesan untuk kita, aku ingin kamu bahagia,"

__ADS_1


Rangga mengatakannya dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Terima kasih ya Mas, sudah mencintai ku begitu rupa. Aku tidak menyangka bisa merasakan kebahagiaan seperti ini,"


Rania memberanikan diri memegang tangan pria itu, ia terlalu bahagia hingga tidak dapat menahan dirinya. Hati Rangga berdesir, sentuhan Rania begitu membuatnya senang. Baru kali ini wanita ini berani menyentuhnya begitu.


☆☆☆


"Pak, Bu, Rania kita bawa pulang bersama kita ya. Biar nanti Rangga yang mengantarnya sampai rumah, kasihan jika harus naik travel lagi,"


Ayah Rangga berbicara dengan orang tua Rania.


"Iya Pak, saya titip putri saya ya. Tolong ingatkan dia jika melakukan kesalahan," balas ayah Rania.


Setelah berpamitan rombongan segera berangkat. Rangga sengaja membawa sopir agar bisa beristirahat.


"Sayang, apa kalian bahagia?" tanya Rangga kepada kedua calon anaknya.


"Iya Om tentu saja. Nanti jika Om dan ibu menikah mau tinggal di mana? Di rumah Om Rangga atau di kontrakan kita?" tanya Alisa.


"Ya tinggal di rumah Om dong, Sayang,"


"Terus, nanti aku panggil Om apa? Om, ayah, papa atau apa?" tanya Alisa lagi.


Rania dan Rangga tertawa mendengar pertanyaannya.


"Terserah Alisa, senyamannya mau panggil Om apa. Om tidak mau memaksa, Alisa dan Bintang sayang sama Om saja, Om sudah merasa senang,"


Alisa senang sekali kepada Rangga, karena baik, perhatian, dan tidak pernah marah atau memaksakan kehendak.


"Kalau begitu aku panggil papa saja biar gampang membedakannya dengan ayah Alif,"


Alisa memutuskan sendiri.


"Iya Sayang, terserah kamu,"


Rangga menggenggam tangan Rania, wanita itu tersipu malu. Mereka seperti muda-mudi yang sedang di mabuk cinta. Memang cinta tidak pernah mengenal usia. Beruntunglah orang yang bisa merasakan cinta walau datangnya terlambat. Karena lebih baik terlambat daripada jatuh cinta kepada orang yang salah.


Inilah yang namanya takdir, cerita yang sering ada di dalam novel namun tidak jarang terjadi di dalam kehidupan kita.

__ADS_1


__ADS_2