Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 81 Jadi Korban Preman


__ADS_3

Rangga merebut telepon Rania, ia menyalakan loudspeaker agar istrinya juga bisa mendengar.


"Hua... hua..." Alisa masih terus menangis.


"Alisa Sayang, kamu harus tenang dulu. Kita tidak bisa tahu yang terjadi jika kamu terus menangis. Jika ada orang dewasa di dekat mu, berikan teleponnya agar kita bisa bertanya,"


Alisa tidak menyahuti, ia tetap saja menangis.


"Halo, ini dengan siapa?" terdengar suara seorang ibu-ibu bertanya.


"Bu, itu tadi putri saya. Apa yang terjadi dengannya? Dia menangis terus jadi kami di sini bingung. Ini di mana biar kita segera menyusul?" tanya Rangga.


Rania sudah terlihat sangat gelisah sekali.


"Oh, ini kita di jalan Ahmad Yani. Kata orang-orang mereka di serang begal atau gangster saya kurang tahu juga. Ini mereka sedang di tolong warga di bawa ke rumah saya karena dekat tempat kejadian, bapaknya pingsan,"


Rania langsung menangis, ia sangat kuatir dengan kondisi mereka. Rangga segera meminta alamat ibu tadi. Setelah berganti pakaian mereka segera menuju ke sana.


"Mas, bagaimana keadaan mereka? Harusnya kita tadi tidak mengizinkan mereka di bawa, hiks..."


Rania tak dapat berhenti menangis, hatinya terlampau cemas.


"Sabar Sayang, kita berdoa saja untuk mereka. Semua ini adalah takdir, maafkan aku ya,"


Rangga merasa bersalah karena dirinyalah yang mengizinkan mereka pergi bersama Alif. Sepanjang jalan mereka tidak berhenti berdoa untuk keselamatan semuanya. Sekitar 30 menit mereka telah sampai di rumah bu Yati. Tampak beberapa orang di luar rumah.


"Assalamualaikum, benar ini rumah bu Yati ya Pak?" tanya Rangga.


"Oh iya benar. Yati... Ini ada tamu," panggil bapak itu.


Terlihat seorang ibu yang sudah sepuh keluar dari dalam rumah.


"Saya bu Yati, ada apa ya?"


"Kami keluarga korban begal tadi Bu, di mana mereka ya?" tanya Rania.


"Oh silahkan masuk, mereka ada di kamar. Kedua anaknya juga di sana, mereka tidak mau beranjak menunggu bapaknya yang pingsan,"


Mereka mengikuti langkah bu Yati.


"Ibu, Papa..."


Alisa dan Bintang berlari memeluk orang tuanya.

__ADS_1


"Tenang ya Sayang, kami ada di sini," Rania dan Rangga memeluk keduanya.


Mereka melihat keadaan Alif, wajahnya banyak luka lebam yang tampaknya sudah di kompres oleh warga yang menolong. Mereka menanyakan kronologis kejadiannya kepada kedua anak mereka serta orang-orang yang masih berada di sana.


"Ayah tadi menyelamatkan kami Bu, dia di gebukin sama preman-preman itu," jelas Alisa yang sudah tidak menangis lagi.


Alisa lanjut bercerita tentang kejadian yang menimpa mereka. Ternyata preman tadi sempat mengganggu anak-anak saat mereka main di mall, tapi di lindungi oleh Alif. Mereka terlibat adu mulut namun berhasil di lerai oleh security. Kemudian mereka lanjut bermain. Tidak di sangka saat mereka mau pulang, preman itu telah mengintai mereka. Saat jalanan sepi mereka langsung memotong jalan Alif dan menghajarnya.


"Astaga, untung warga cepat datang. Kalau tidak..."


Rania kembali bersedih, ia tidak bisa membayangkan nasib mereka semua jika warga tidak segera datang.


"Bu Yati, kami titip motor pak Alif di sini dulu ya. Kami akan membawanya ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut," ucap Rangga.


Rangga di bantu beberapa orang pria memindahkan Alif ke dalam mobil.


☆☆☆


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Pak Rangga jangan kuatir, tidak ada patah tulang atau luka dalam. Besok sudah boleh pulang, biarkan malam ini menginap di sini dulu,"


"Baik Dok, terima kasih,"


"Nia, Pak Rangga, saya minta maaf sekali atas kejadian ini. Karena saya anak-anak harus mengalami peristiwa ini," ucap Alif.


"Anak-anak sudah cerita semuanya. Ini bukan salah Pak Alif, preman itu yang keterlaluan. Sekarang lebih baik istirahat saja ya,"


"Terima kasih, maaf merepotkan. Lebih baik kalian dan anak-anak pulang, kasihan mereka,"


Alif menatap kedua anaknya dengan rasa bersalah.


"Tapi apa Mas Alif tidak apa-apa di sini sendirian?" tanya Rania.


"Aku tidak masalah, aku juga tidak parah kok,"


Agar anak-anak bisa beristirahat dengan tenang mereka pun memutuskan pulang dan kembali lagi besok.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Hari ini libur lagi, Mas?" tanya Rania.

__ADS_1


"Iya Sayang, kita harus ke rumah sakit kan,"


"Lain kali sebaiknya kita jangan memperbolehkan anak-anak di bawa Mas Alif, Mas. Aku takut, aku kuatir kejadian seperti ini terjadi lagi,"


"Ehm... tapi bukannya kamu sudah berjanji mereka bisa bertemu atau jalan-jalan kapan pun, kamu tidak akan membatasi?"


"Iya, tapi setelah kejadian kemarin aku trauma,"


"Begini saja, jika mereka pergi keluar lagi kita suruh orang untuk menjaga mereka dari jauh, tanpa mereka ketahui. Kasihan jika menghalangi seorang ayah dan anak ingin bersenang-senang,"


Rangga memberi saran yang menurut Rania sangat bijak dan brilian, bahkan dirinya tidak terpikir ke arah sana.


☆☆☆


"Terima kasih ya kalian datang menjenguk ku, sebentar lagi aku sudah boleh pulang,"


Alif senang dengan kedatangan mereka.


"Sama-sama Mas, terima kasih juga sudah melindungi anak-anak. Kalau belum kuat, biar kita yang mengantar Mas pulang," balas Rania.


"Itu memang kewajiban ku melindungi mereka. Aku sudah sehat, aku harus mengambil motor ku,"


"Motor Pak Alif sedang di bengkel, mau di bawa ke sini atau kita antar ke sana?" tanya Rangga.


"Ya ampun terima kasih Pak Rangga, saya jadi tidak enak sudah sangat merepotkan kalian semua,"


Beberapa saat kemudian mereka mengantar Alif mengambil motornya, lalu mereka pamit pulang.


☆☆☆


Malam harinya.


"Sayang, dua hari lagi kita akan mengadakan acara empat bulanan kehamilan kamu, jadi besok biar aku suruh sopir menjemput bapak dan ibu ya?" tanya Rangga.


"Wah iya, aku sampai lupa Mas. Terserah bagaimana baiknya saja, aku ikut saja," jawab Rania.


"Ini seperti mimpi untuk ku. Rasanya baru kemarin aku masih sendiri, sekarang aku punya keluarga yang lengkap. Ada istri yang cantik dan baik hati, kedua anak yang lucu di tambah lagi bayi yang akan segera lahir. Aku sangat bahagia sekali,"


Rangga berbaring di pangkuan istrinya sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat besar. Ia merasa hidupnya begitu sempurna sekarang, ia bersyukur antara karir dan kehidupan cintanya kini berjalan selaras.


"Aku juga bahagia Mas. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu kembali setelah puluhan tahun lamanya. Apalagi sekarang menjadi istri mu serta ibu bagi anak mu,"


Rania ingin mencium suaminya, namun karena terhalang perut besarnya jadi sedikit susah. Mereka tertawa karena menganggapnya lucu.

__ADS_1


Rangga kemudian bangkit dan menggendong istrinya, ia membaringkannya perlahan di atas kasur. Gairah semalam yang belum tuntas ingin mereka mulai kembali. Bercinta dengan istrinya yang tengah hamil memberikan rasa nikmat tersendiri baginya.


__ADS_2