
"Michelle..."
Ibunya menghampiri dan memeluk anaknya itu.
"Jangan bergerak atau kita tembak lagi," polisi mulai mendekat ke arahnya.
"Kenapa kamu nekad seperti ini, bukankah sudah berulang kali aku katakan jika aku hanya menganggap mu teman," Rangga mulai mengajak wanita itu berkomunikasi.
"Aku tidak mau, kamu harus menjadi milik ku. Aku mencintai mu sampai kapan pun," Michelle mulai emosional.
"Sabar Nak, sebaiknya kamu minum obat mu," ucap ibunya.
"Obat apa? Apa kamu sakit, Michelle?" tanya Rangga.
"Kamu tidak perlu bertanya, kamu tidak pernah peduli dengan ku. Dari dulu Rania, Rania saja yang kamu ceritakan tanpa kamu sadar betapa sakitnya hati ku," Ia mulai menangis tak terkontrol.
Ibunya membantu Michelle untuk bangkit.
"Cinta tidak bisa di paksakan, dari dulu aku memang mencintainya. Tidak ada tempat untuk wanita lain, dan aku telah mengatakannya berulang kali kepada mu," ucap Rangga.
"Jika aku tidak bisa memiliki mu, lebih baik aku mati, aku tidak rela melihat mu bersamanya,"
Michelle menatap Rangga, menantang.
"Kamu jangan gila. Kamu cantik, pasti banyak yang bisa mencintai mu," ucap Rangga.
Michelle melangkah maju mendekati polisi yang mengepungnya.
"Berhenti, atau aku tembak,"
Namun michelle tidak peduli, ia tetap melangkah walaupun ibunya menarik tangannya.
"Bagaimana ini?" tanya polisi itu kepada Anto.
"Lumpuhkan saja, jangan tembak lagi,"
Anto masih ingat sekali dengan kasus Dona. Sepertinya Michelle tidak jauh beda dengannya, bedanya wanita ini depresi karena cinta dan bukan karena di lecehkan. Iya yakin Michelle masih ada kemungkinan sembuh seperti Dona.
"Akh... lepaskan, kalian tembak saja aku," ucap Michelle saat petugas berhasil menangkapnya, wanita itu terus saja meronta.
"Anto terima kasih ya, kamu urus saja dia. Aku langsung pulang dulu, besok pagi aku akan ke kantor mu,"
Rangga menjabat tangan temannya sebelum melangkah keluar rumah.
"Naya..."
Rania yang lemah seolah mendapat kekuatan super tatkala melihat suaminya menggendong putra mereka dari kejauhan. Ia berlari memeluk keduanya seolah sudah terpisah sekian lama. Gurat kesedihan yang tadi terpancar berubah menjadi sinar kebahagiaan.
"Naya baik-baik saja Sayang. Ayo kita pulang,"
Rangga menggandeng istrinya ke dalam mobil. Ia mengucapkan terima kasih kepada Siska dan Jeremy yang telah membantu mereka.
"Mas, bagaimana dengan Michelle?" tanya Rania saat perjalanan pulang.
"Dia tertembak saat mencoba kabur, tapi dia baik-baik saja kok. Besok aku akan ke kantor polisi, sekalian menjemput anak-anak di tempat ayahnya," jawab Rangga.
__ADS_1
"Kasihan Michelle," ucap Rania.
Rangga memandang istrinya, heran.
"Dia sudah menculik anak kita, kenapa kamu justru kasihan terhadapnya?" tanya Rangga.
"Iya, kalau sudut pandangnya dari sana dia memang terlihat jahat. Tapi jika kita bisa mengerti alasannya berbuat seperti itu, semua orang pasti merasa kasihan," jawab Rania.
Rangga menghela napas kasar. Sejujurnya ia juga tidak ingin kejadian ini menimpa mereka, namun takdir Allah tidak ada yang bisa menduga.
"Sudahlah Sayang, kita serahkan semua kepada pihak yang berwajib. Kita mungkin memaafkannya namun hukum harus tetap berjalan agar pelaku kriminal merasa jera,"
Suasana kemudian hening. Rasa letih mendera mereka berdua. Beruntung keduanya segera sampai di rumah dan bisa beristirahat.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Laila terus saja menangis saat mengetahui bayinya tidak bisa selamat. Ia bahkan tidak peduli berapa keras Alif menghiburnya. Air matanya seoalah tiada habisnya. Alif sangat sedih melihat keadaan istrinya seperti itu.
"Laila, aku tahu kamu merasa kehilangan karena aku pun merasa begitu. Tapi mungkin ini sudah takdir, kita harus bisa merelakannya," ucap Alif.
Ia mengusap kepala istrinya dengan lembut, ia mencium kening istrinya. Namun tiba-tiba Laila mendorongnya.
"Aku benci pada mu Mas! Harusnya kita tidak menikah agar semua ini tidak terjadi,"
Laila menatap nyalang ke arah suaminya. Tindakannya membuat Alif bingung dan terkejut.
"Kenapa kamu marah pada ku, Laila? Aku juga sama kehilangan seperti mu, aku sangat mengharapkan anak kita,"
"Aku mohon kamu jangan begini, kita masih punya kesempatan untuk mempunyai bayi lagi,"
Alif mencoba menghibur istrinya.
"Tidak! Aku tidak mau lagi, dia pasti akan membuat ku kehilangan lagi. Lebih baik kita berpisah, Mas."
Laila berkata dengan tegas.
"Astagfirullah, nyebut Laila," ucap Alif.
"Iya Nak, kalian bisa memulainya lagi," sahut pak Agus yang dari tadi hanya menyimak.
Laila hanya terdiam dan terus terisak.
"Lif, aku mau pulang dulu ya. Nanti aku ke sini lagi dengan anak-anak dan ibu mu," ucap pak Agus.
"Jangan, aku tidak ingin bertemu dengan pembunuh anak ku!" Laila berteriak.
"Apa maksud mu Laila?"
Alif terlihat bingung, begitu pula dengan ayahnya. Pria itu urung untuk pergi mendengar ucapan Laila.
"Kenapa kamu masih bertanya, Mas. Ibu mu yang sudah membunuh anak kita! Aku tidak ingin bertemu dirinya sampai kapan pun!" jawab Laila tegas.
"Aku tahu kamu sedih, tapi ku mohon jangan memfitnah ibu ku begitu. Tidak mungkin dia tega menghilangkan nyawa cucunya," bela Alif.
__ADS_1
Laila menatapnya dengan rasa benci, wanita itu merasa sangat kecewa terhadap suaminya. Detik kemudian ia memalingkan wajahnya. Ia bahkan tidak menjawab ketika mertuanya berpamitan.
☆☆☆
Dua jam kemudian.
"Halo Mas, aku akan menjemput anak-anak sekarang ya," ucap Rania.
"Mereka sedang perjalanan ke rumah sakit Rania, Laila sedang di rawat," balas Alif.
"Oh Laila sedang sakit ya. Baiklah kita sekalian jemput anak-anak di sana saja,"
Setelah mengetahui rumah sakitnya, panggilan pun berakhir. Rania dan Rangga yang baru saja dari kantor polisi langsung menuju rumah sakit tempat Laila di rawat.
"Memangnya Laila sakit apa, Sayang?" tanya Rangga.
"Aku lupa tanya, Mas,"
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di parkiran rumah sakit. Kebetulan sekali bersamaan dengan keluarga Alif yang baru juga tiba.
"Ibu..."
Alisa segera berlari memeluk Rania.
"Kenapa Ibu dan Papa tidak mengajak kami?" tanya Alisa dengan raut wajah sedihnya.
"Maaf Sayang, itu juga mendadak. Nanti ibu jelaskan, sekarang kita jenguk tante Laila dulu ya, katanya dia sakit,"
Rania menggandeng putrinya menghampiri mantan mertuanya.
"Rania, mana bayi mu kok tidak di bawa?" tanya pak Agus.
"Di rumah Yah, karena tadi ada urusan penting jadi di tinggal,"
Setelah beberapa saat berbasa-basi mereka masuk ke dalam rumah sakit.
"Tante... apa Tante baik-baik saja? adik bayi bagaimana, Tante?"
Alisa berlari menghampiri Laila. Laila yang baru saja berhenti menangis memeluk Alisa erat, tangisnya pecah lagi. Rania dan Rangga hanya bisa menatap bingung.
"Bagaimana keadaan mu, Laila? Kamu sakit apa?" tanya Rania dengan polosnya.
"Bayi ku sudah meninggal, Mbak,"
Laila menjawab dengan suara parau karena terlalu banyak menangis. Ia menatap tajam ke arah bu Nani, membuat wanita itu salah tingkah.
"Laila terjatuh sampai mengalami pendarahan," sahut Alif.
"Aku tidak terjatuh Mas, ibu mu sengaja menjegal kaki ku sehingga aku jatuh!" teriak Laila, membuat semua mata tertuju padanya.
"Laila, kamu jangan bilang begitu. Aku tahu kamu sedih, tapi jangan sampai menyalahkan orang lain," ucap Alif, lembut.
"Itu benar, aku melihatnya sendiri Yah,"
Alisa tertunduk dan tidak berani menatap siapapun.
__ADS_1