Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Jadi sampai mana persiapan pernikahan mu, Lif?" tanya ayahnya.


"Kita memutuskan tidak ada pesta kok, Yah. Hanya selamatan biasa, yang penting sah secara acara dan hukum," jawab Alif.


"Apa Laila tidak keberatan?"


"Justru ini keinginannya Yah, dia tidak ingin memberatkan aku. Menurutnya lebih baik uangnya di tabung untuk keperluan setelah menikah daripada untuk pesta semalam,"


"Sepertinya dia memang gadis baik, seperti Rania. Semoga saja kalian berjodoh sampai kakek nenek,"


"Iya Yah, amin,"


"Tapi Lif..."


Ayahnya diam, tidak jadi meneruskan ucapannya.


"Tapi kenapa, Yah?" tanya Alif.


"Tidak apa-apa,"


Ayahnya mengalihkan pandangannya, ia tidak berani menatap putranya karena takut ketahuan jika sedang menyembunyikan sesuatu.


"Jangan bohong, aku tahu Ayah merahasiakan sesuatu. Katakan saja, bukankah kejujuran lebih baik walaupun pahit,"


Pria itu tampak berpikir, ia ragu untuk mengatakannya.


"Sebenarnya ibu mu tidak suka kamu dengan Laila. Aku hanya takut ia akan mengganggu pernikahan mu nantinya. Kamu tahu sendiri kan apa yang telah di perbuatnya kepada Rania dulu,"


Akhirnya ayahnya mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Aku tidak akan membiarkannya terjadi, Yah. Cukup aku kehilangan Rania dan kedua anak ku, aku tidak akan membiarkan ibu melakukannya lagi. Laila adalah wanita baik, mengapa ibu harus tidak menyukainya? Apa sebenarnya yang ibu inginkan? Apa ibu ingin membuat ku menderita?"


Banyak tanda tanya dalam hatinya, mengapa bu Nani selalu menyakiti orang yang dia cintai? Namun sampai sekarang ia belum tahu jawaban pastinya.


"Aku pasti selalu mendukung mu, hanya saja kadang aku tidak berdaya menghadapi ibu mu itu. Yang penting sekarang, kamu harus bisa bersikap tegas kepada ibu mu itu,"


Keduanya terus membahas masalah pernikahan Alif yang ke-3 kalinya. Mereka tidak tahu jika bu Nani mencuri dengar apa yang tengah mereka bicarakan.


☆☆☆


"Bagaimana keadaan Dona, Mas?" tanya Rania.


"Aku tidak pernah ke sana, tapi kata Anto sih sudah mulai membaik," jawab Rania.


"Syukurlah, aku selalu mendoakan untuk kesembuhannya. Kasihan ibunya yang selalu mengharapkan kesembuhannya,"

__ADS_1


"Ya, kamu benar Sayang. Tapi kita sebaiknya tidak terlalu ikut campur lagi. Aku tidak mau sampai peristiwa seperti waktu itu menimpa keluarga kita lagi,"


Mereka berdua berpelukan. Masalah dengan Dona tempo hari membuat cinta mereka semakin kuat.


"Mas, kemarin Mas Alif mengirimi aku pesan. Dia mengundang kita semua ke pernikahannya beberapa hari lagi, apa kita akan datang?" tanya Rania.


"Oh ya, apa dia akan menikah lagi?"


Rania mengangguk.


"Tentu saja Sayang, kita dan anak-anak akan pergi ke sana. Tapi cepat sekali ya, aku saja belum tahu kalau dia sudah bercerai lagi dengan istri keduanya,"


Rania sebenarnya tahu tentang masalah yang menimpa mantan suaminya itu, karena Nelly sering bercerita padanya. Namun ia tidak pernah mengatakan kepada Rangga karena takut suaminya salah paham. Apalagi dia sudah tidak ingin mencampuri urusan pria itu lagi. Ia hanya ingin menghargai Nelly yang bercerita padanya, makanya ia mendengarkan.


☆☆☆


Beberapa hari kemudian.


Hari ini adalah pernikahan Alif dan Laila. Acaranya sederhana dan hanya mengundang keluarga dekat saja. Walaupun ini pernikahan ketiganya, Alif terlihat sangat gugup sekali.


Semua tamu undangan telah hadir, pak penghulu juga telah siap menikahkan mereka. Dari seluruh yang hadir, hanya wajah bu Nani yang tampak tidak senang. Sedangkan kedua anak Alif terlihat biasa saja.


Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Alif Darmawangsa Bin Agus Supriyanto dengan anak saya yang bernama Laila Mirnasari dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, uang tunai senilai dua ratus lima puluh ribu rupiah, dan cincin perhiasan seberat 2 gram dibayar tunai,"


Dengan suara yang sangat tegas ayah Laila mulai menjabat tangan Alif untuk memulai ijab kabul.


Dengan sedikit gugup namun lancar Alif berhasil melakukan ijab kabul dalam satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?"


"Sah..."


Momen yang sangat di tunggu-tunggu Alif akhirnya datang juga, ia bahagia sekali telah berhasil menjadikan Laila istrinya. Kedua anaknya memeluk dan memberikan selamat kepadanya dan juga Laila.


"Semoga ayah bahagia seperti kami ya," ucap Laila.


"Terima kasih ya Sayang untuk doa tulus kalian. Kamu dan Bintang tetap anak ayah, sekarang kalian bersaudara dengan Akila. Dan kamu punya ibu baru, namanya ibu Laila,"


Keduanya tampak tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. Orang tua dan kerabat mereka mulai memberikan selamat satu persatu kepada pengantin baru itu, termasuk juga Rania dan Rangga.


"Selamat ya Mas, semoga kalian selalu di beri kebahagian," ucap Rania tulus.


"Amin, terima kasih ya Nia. Terima kasih juga pak Rangga, kalian sudah datang dan membawa anak-anak kemari. Terima kasih juga atas doa dan hadiah yang kalian beri,"


Alif berharap kehidupan rumah tangganya dengan Laila akan selalu harmonis seperti halnya dengan pernikahan Rangga dan Rania yang terlihat sangat bahagia.


"Sayang, apa kita pulang saja?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Rania bingung.


"Aku kasihan melihat mu yang sepertinya berat membawa anak kita,"


Rania tertawa mendengar jawaban suaminya yang terdengar lucu.


"Mas ini ketiga kalinya aku hamil, aku sudah biasa kok. Kamu jangan terlalu kuatir ya,"


"Apa kamu yakin, Sayang?" Rangga tetap merasa waswas.


"Iya, ayo kita duduk di sana saja," ajak Rania.


Sebenarnya memang perutnya merasa sedikit tidak nyaman sejak tadi, namun ia merasa tidak enak untuk pergi saat acara masih berlangsung.


"Kalian duduk saja, biarkan anak-anak di sini bermain dengan Akila," ucap Alif.


Rangga membawa istrinya untuk duduk, ia tidak tega melihat kondisi istrinya.


Baru beberapa saat duduk, Rania merasa perutnya kontraksi.


"Akh..."


Ia mencengkeram tangan suaminya yang tepat berada di sampingnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rangga.


Ia panik melihat air muka istrinya yang terlihat menahan sakit.


"Tidak apa-apa, Mas,"


Namun sakit itu tiba-tiba hilang. Rania merasa lega. Tapi beberapa menit kemudian ia merasakan kontraksi lagi di perutnya dan ini lebih lama.


"Akh... Mas Rangga, perut ku sakit sekali,"


"Astaga kamu kenapa? Sebaiknya kita ke rumah sakit,"


Rangga segera membopong tubuh istrinya, ia tidak peduli dengan tatapan orang sekitar.


"Pak Alif titip anak-anaj dulu, aku harus membawa Rania ke rumah sakit," ucap Rangga.


Ia bergegas pergi dari sana, sementara Bintang menangis memanggil ibunya.


"Ibu kenapa, Yah?" tanya Alisa.


"Ayah tidak tahu, sepertinya ibu mu kesakitan. Kalian di sini dulu ya, nanti biar ayah antar menjenguk ibu setelah acara selesai,"


Alisa hanya mengangguk walaupun ia merasa sangat kuatir dengan keadaan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2