Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 112 Bunuh Diri


__ADS_3

"Lepaskan, Michelle!"


Anto melepaskan tangannya lalu berbalik memandang wanita itu.


"Tadinya aku datang ingin memberi tahu mu kabar gembira, dokter Hendro sudah mengizinkan kamu keluar besok. Tapi ternyata, justru kenyataan pahit yang aku terima," ucap Anto sembari tersenyum sinis.


"Apa?"


Michelle tidak menyangka, pria itu benar-benar menuruti keinginannya.


"Aku menjadi seperti ini karena dia, sangat tidak mudah untuk ku melupakan dirinya," Matanya mulai berkaca-kaca.


Anto memandang gadis itu datar.


"Tapi jujur, kehadiran mu mampu membuat ku sedikit melupakannya. Kebaikan mu, kepedulian mu, perhatian mu mampu memudarkan rasa itu," ucap Michelle.


"Cukup Michelle, aku sudah tidak percaya lagi,"


Anto menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin lemah lagi. Ia tidak ingin terjebak ke dalam permainan wanita itu lagi.


"Aku serius mengatakannya, entah mulai kapan tapi aku berani bersumpah jika perasaan ku tidak bohong. Aku mulai menyukai mu, Mas Anto,"


Cairan bening mulai turun membasahi wajahnya. Ia menatap sayu ke arah pria di depannya.


"Aku tidak akan tertipu lagi," ucap Anto dengan suara bergetar.


Hatinya bergetar kala wanita itu memanggilnya Mas Anto, panggilan yang selama ini sangat ia harapkan. Namun apa yang telah ia dengar tadi membuat rasa percayanya hilang kepadanya.


"Jangan pergi Mas, aku tidak bohong,"


Anto tetap mantap melangkah pergi, tak peduli lagi saat Michelle berlari menyusulnya. Sampai akhirnya petugas mengamankan Michelle.


"Dok, keluarkan Michelle sesuai keinginan dokter, karena aku tidak bisa menjaganya,"


Anto keluar dari ruangan dokter Hendro tanpa menoleh lagi, meninggalkan sang dokter yang masih terpana dan berusaha mencerna ucapan pria itu.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Assalamualaikum,"


Fery suami Nelly, mendatangi rumah istrinya.


"Waalaikum salam,"


Nelly terkejut saat membuka pintu, ternyata suaminya yang datang. Ia masuk ke dalam tanpa mempersilahkan suaminya masuk.


"Siapa tamunya, Nel?" tanya bu Nani.


Nelly tidak menjawab, namun bu Nani sudah melihat jika menantunya yang datang.

__ADS_1


"Ternyata kamu. Kenapa kamu membiarkan putri ku di perlakukan tidak baik oleh orang tua mu? Aku menyerahkan dia agar bisa bahagia bukan justru menderita," bu Nani mulai mengomel.


Pak Agus yang mendengar suara keributan segera keluar kamar.


"Sudah Bu, biarkan mereka berbicara berdua dulu. Kita jangan ikut campur dulu," ia mengajak istrinya naik ke lantai atas.


Nelly dan Ferry duduk di ruang keluarga.


"Kenapa kamu pergi dari rumah? Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?" tanya Ferry.


"Aku lelah Mas, aku tidak sanggup hidup di sana lagi. Setiap hari orang tua mu menyiksa jiwa dan raga ku," jawab Nelly mulai menangis tersedu-sedu.


"Kita bisa membicarakannya lagi, kamu tidak boleh sampai pergi ke rumah orang tua mu seperti ini,"


Ferry mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Sudah berkali-kali kita bicara, tapi Mas tidak pernah percaya. Mas selalu membela mereka. Untuk apa lagi aku di sana jika suami ku saja tidak mendengarkan ku," ucap Nelly sedikit terbawa emosi.


Ferry menghela napas panjang. Ia merasa serba salah. Sikapnya sedikit mirip Alif yang karena rasa hormat kepada orang tuanya, menjadi tidak mudah percaya kepada orang lain dan menganggap orang tuanya selalu benar.


"Aku minta maaf, aku sangat mencintai mu. Aku tidak ingin kehilangan diri mu,"


Nelly menatap manik suaminya, ia mencari kesungguhan dari kata-katanya.


"Maaf Mas, tapi aku tidak ingin kembali ke sana lagi," ucap Nelly.


"Kalau begitu kita tinggal sendiri saja, aku akan berbicara kepada orang tua ku agar mereka mengerti,"


"Bagaimana jika mereka tidak bisa mengerti? Bagaimana jika mereka makin membenci ku?" tanya Nelly serius.


Setelah di bujuk beberapa lama akhirnya Nelly luluh juga. Bagaimana pun rasa cinta mereka masih begitu kuat. Mereka segera berbicara dengan kedua orang tua Nelly. Setelah di nasehati mertuanya panjang lebar, Ferry segera memesan tiket untuk mereka pulang.


☆☆☆


"Dok, ini makan siang bu Michelle bagaimana? Dari tadi pintunya di kunci dari dalam, saya tidak masuk," lapor petugas itu.


"Kenapa tidak kalian dobrak saja," ucap dokter Hendro.


"Apa kita lihat dari CCTV dulu saja, Dok?" tanya petugas itu.


"Tidak perlu, langsung dobrak saja jika dia tidak mau membuka. Aku kuatir dia nekad, ayo!"


Dokter Hendro bergegas ke ruangan Michelle, ia mengetuk pintu mengajak wanita itu berkomunikasi.


"Michelle cepat buka pintunya, ini sudah saatnya kamu makan siang," ucap dokter Hendro.


"Aku tidak lapar. Kalian pergi saja, aku ingin sendiri," teriak Michelle.


"Baiklah, aku akan meletakkan makanan mu di depan pintu. Kita akan pergi,"


Mereka meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


"Dia masih bisa menjawab, berarti dia baik-baik saja. Tetap awasi, karena tidak biasanya dia bersikap seperti ini," pesan dokter Hendro.


"Baik, Dok,"


Dokter Hendro kembali ke ruangannya.


"Apa ini ada kaitannya dengan pembatalan pak Anto untuk mengeluarkan Michelle dari sini ya? Aku harus memberi tahunya,"


Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi Anto.


"Ada apa, Dok?" tanya Anto datar.


"Siang ini Michelle mengunci ruangannya dari dalam, ia juga menolak makan siang," jawab dokter Hendro.


"Itu tugas Dokter, aku sudah tidak peduli lagi dengannya," ucap Anto ketus.


"Saya tidak tahu apa masalah kalian berdua. Tapi demi rasa kemanusiaan, saya mohon anda bisa bersikap lebih baik. Selama ini kehadiran Anda sudah memberi pengaruh positif. Jika seperti ini terus penyakitnya justru akan semakin parah,"


Dokter Hendro berusaha membujuk Anto. Pria itu sebenarnya masih menyayangi Michelle, namun rasa percaya terhadapnya sudah tak ada lagi.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Anto.


"Terima kasih," senyuman dokter Hendro pun mengembang.


☆☆☆


"Dok, kami mendengar barang pecah dari kamar ibu Michelle," lapor petugas yang di suruh mengawasi kamar Michelle.


"Barang apa?"


Petugas itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak tahu, mungkin vas bunga atau semacamnya,"


Dokter Hendro berlari kecil menuju ruangan Michelle di ikuti petugas tadi.


"Michelle, kamu sedang apa? Buka pintunya!"


Dokter Hendro menggedor pintu itu, tidak ada jawaban dari dalam.


"Michelle buka pintunya, atau kita dobrak!" ancamnya.


Lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam.


"Suruh petugas melihat CCTV di ruangannya, dan panggil beberapa orang untuk mendobrak pintu ini," titah dokter Hendro.


Ia terus memanggil Michelle dan membujuknya keluar. Bahkan ia mengatakan jika Anto akan segera datang namun tetap tidak ada pergerakan dari dalam. Ia semakin kuatir. Beberapa orang pun datang dan membantunya mendobrak pintu.


"Dok, ia menyayat pergelangan tangannya," lapor petugas CCTV.


"Apa? Cepat dobrak!"

__ADS_1


Setelah beberapa kali hentakan mereka berhasil masuk.


"Astaga Michelle..."


__ADS_2