
Beberapa saat kemudian.
Beberapa jam beristirahat membuat tubuh mereka menjadi segar. Selepas ashar di saat matahari perlahan menuju tenggelam, mereka bersantai sembari minum teh di halaman belakang.
"Om, pengen berenang," ucap Alisa.
Sikap Rangga yang ramah dan sangat baik membuat gadis itu tidak merasa sungkan lagi.
"Boleh, ayo om temanin. Bintang juga mau?"
Bintang pun mengangguk. Mereka segera berganti pakaian dan bersiap berenang.
Rania tertegun kala di suguhi pemandangan yang membuatnya takut untuk memandang lebih lama. Rangga hanya mengenakan celana pendek pas badan di atas lutut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, apalagi dia bertelanjang dada menunjukkan otot-otot perutnya yang rata dan terbentuk. Jantungnya terasa berhenti berdetak tatkala mata elang itu menatapnya.
"Ibu, ayo ikut berenang," ajak Alisa membuyarkan lamunannya.
"Sama Om Rangga saja ya, ibu kan tidak bisa berenang. Sepertinya kolamnya dalam, ibu takut," jawab Rania.
"Kamu bisa naik pelampung seperti anak-anak kalau mau," ucap Rangga.
"Tidak perlu, tolong temani mereka saja ya,"
Rania memandangi mereka yang asyik bermain dari dekat kolam. Betapa bahagia jika kedua anaknya mempunyai keluarga yang utuh, sayang mereka telah kehilangan sosok ayah karena perceraian itu.
'Seandainya aku punya suami sebaik Rangga, pasti aku dan anak-anak akan sangat bahagia' batin Rania.
"Oh tidak, kenapa aku berpikir ke arah sana," Rania merutuki dirinya sendiri.
"Ibu, ibu..." teriak Bintang.
"Bintang,"
Byurrr...
Rania melompat ke dalam kolam karena melihat putranya hampir tenggelam. Nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya lupa jika dirinya tidak bisa berenang.
"Om, tolong ibu..." teriak Bintang.
Sebenarnya Bintang bukan tenggelam, kakinya hanya terantuk saat ia mencoba naik satu langkah di tangga kolam, sementara Rangga tengah mengajari Alisa berenang dengan gaya baru. Namun karena rasa panik seorang ibu, Rania tidak menyadarinya dan tanpa pikir panjang terjun ke dalam kolam.
Rangga segera membantu Rania, wanita itu pingsan dan menelan banyak air. Rangga segera memberinya napas buatan dan memompa dada wanita itu agar air yang tertelan bisa di muntahkan.
__ADS_1
"Rangga, Rania kenapa?"
Orang tuanya yang tidak sengaja mendengar teriakan segera berhamburan keluar. Mereka sudah melihat Rania memuntahkan banyak air dari mulutnya.
"Huek... huek..."
Alisa dan Bintang segera menghampiri ibu mereka.
"Ibu... hiks, hiks,"
Bintang menangis melihat kondisi ibunya, ia merasa bersalah karena dirinya ibunya menjadi seperti ini.
"Cup ya Sayang, sini sama oma. Ibu tidak apa-apa kok, kamu jangan kuatir ya,"
Ibu Rangga memeluk Bintang dan menghiburnya. Sementara Rania yang sudah tersadar masih merasa sedikit lemas.
"Bintang mana, apa dia tidak apa-apa?" tanya Rania.
"Dia baik-baik saja, kenapa kamu terjun ke kolam? Kamu kan Tidak bisa berenang?" tanya Rangga.
"Aku tadi melihat Bintang hampir tenggelam jadi aku reflek ingin menyelamatkannya. Maafkan aku sudah merepotkan ya," jawab Rania lirih.
"Tidak masalah Sayang, justru kamu adalah ibu yang luar biasa. Rela bertaruh nyawa demi anak-anak mu. Kalian cepat ganti baju semua, nanti masuk angin," ucap Ibunya Rangga.
"Wah Rania, pakaian itu sangat pas di badan kamu. Kamu memang cantik, sama seperti saat sekolah dulu," puji ibunya Rangga.
Sebelum pulang mereka makan malam dan mengobrol sebentar. Mereka berangkat sehabis isyak.
"Kalian tidur saja jika lelah," ucap Rangga saat mobil mulai melaju.
Karena kelelahan, Rania dan kedua anaknya benar-benar terlelap beberapa saat kemudian. Rangga melirik wanita yang sedang tertidur di kursi sebelahnya, ia masih ingat rasa bibirnya yang begitu manis. Karena panik ia tidak sempat menikmatinya tadi, namun melihatnya kembali membuat pria itu menelan salivanya.
Bagaimanapun Rangga adalah pria normal yang memiliki nafsu birahi, apalagi usianya memang sudah sangat matang. Melakukannya dengan orang yang di cinta membuat kenangan itu takkan mudah di lupakan, pun hanya memberi napas buatan seperti tadi.
Tiba-tiba mobil berhenti di daerah persawahan.
"Astaga, kenapa bisa mogok di tempat sepi begini sih," ucap Rangga kesal.
Ia mencoba menstater kembali, namun tetap tidak mau menyala.
"Mesinnya tidak ada yang putus dan bermasalah, kenapa mogok ya?"
__ADS_1
Akhirnya Rangga membangunkan mereka.
"Nia, bangunlah," pinta Rangga.
"Apa sudah sampai, maaf aku ketiduran," ucap Rania.
"Belum sampai, mobilnya mogok. Sudah ku periksa mesinnya tidak bermasalah, sepertinya kita harus mencari bengkel. Tidak aman meninggalkan kalian di sini, kita minta bantuan warga dulu ya,"
Rangga menggendong Bintang yang tertidur, sementara Alisa terpaksa di bangunkan. Sekitar 500 meter mereka menemukan rumah warga.
"Pak Maaf, mobil saya mogok di area persawahan sana. Kalau boleh tahu di mana ada bengkel yang bisa memperbaiki ya?" tanya Rangga.
"Wah mana ada bengkel jam segini Mas, kebanyakan mereka sudah tidur. Maklum di desa, besok saja Mas di perbaiki. Malam ini Mas dan keluarga menginap saja di rumah saya, kebetulan ada satu kamar kosong memang untuk tamu. Tapi tempatnya sederhana,"
Rangga dan Rania saling berpandangan, sepertinya solusi terbaik hanya itu untuk saat ini.
"Baik Pak kami mau, terima kasih sekali ya," ucap Rangga.
"Kalau begitu mobilnya kita dorong sama-sama, kan tidak terlalu jauh kesini. Biar istri dan anaknya tunggu di dalam saja," ucap bapak itu.
Ada rasa senang menyelusup di hati pria itu kala bapak itu menganggap mereka adalah keluarga.
"Bu, sini Bu. Ini ada tamu," panggil bapak itu.
"Iya Pak, tamu siapa?" tanya istrinya.
Setelah di jelaskan, istrinya segera mengajak mereka ke dalam. Sementara Rangga dan beberapa orang pria saling bahu-membantu mendorong mobilnya hingga di depan rumah tadi.
"Kalau belum ngantuk sini kita ngopi bareng Mas, kalau lelah lebih baik istirahat saja," ucap bapak tadi.
Karena menghargai bapak tadi, Rangga ikut ngopi bersama mereka. Namun karena lelah, setelah satu jam ia berpamitan untuk tidur lebih dulu.
"Kamarnya yang di dekat tv ya Mas, takutnya salah kamar," ucap bapak tadi sembari tertawa.
Sesuai petunjuk bapak tadi, ia masuk ke dalam kamar yang di maksud. Rania dan kedua anaknya sudah tertidur. Ia bingung harus tidur dimana, tidak mungkin ia tidur di ruang kosong di samping wanita itu. Akhirnya ia memilih tidur dengan posisi bersandar ke kasur.
"Rangga, kok dia tidur di situ?"
Rania yang terbangun segera bangkit. Ia sadar ini keadaan darurat, ia segera mengatur posisi tidur mereka. Rania, Alisa, Bintang dan Rangga bisa tidur di sebelah putranya. Ia tidak tega Rangga harus tidur terduduk begitu.
"Rangga, bangun. Tidur di atas ya," ucap Rania.
__ADS_1
"Apa tidak masalah kita tidur satu ranjang?" tanya Rangga.
"Kita kan tidak tidur bersama, kamu tidur di dekat Bintang,"