
Dua bulan kemudian.
Sidang kedua telah selesai di laksanakan, namun keduanya masih tetap dengan pendirian masing-masing. Alif enggan untuk berpisah, setiap bulan ia tetap memberikan nafkah kepada istri dan anaknya walaupun Rania sudah berusaha menolak.
Bisnis Rania semakin sukses, dia telah menyewa ruko tidak berapa jauh dari kontrakannya untuk menata barang-barang dagangannya. Semua transaksi sekarang di lakukan di tempat itu, jadi kontrakannya sudah tidak sesak lagi dengan barang dagangannya. Ia kini berhasil merekrut dua orang karyawan suami istri yang masih berteman baik dengannya.
"Sayang, ayo bangun. Hari ini ibu akan mengajak kalian jalan-jalan ke kebun binatang," pinta Rania.
Alisa terlihat mengucek matanya yang masih mengantuk, sedangkan Bintang hanya menggeliat.
"Siapa yang mau naik gajah? Siapa yang naik perahu?"
Sekali lagi Rania mencoba, kali ini ternyata mereka membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Apa gajah boleh di naiki, Bu?" tanya Alisa.
"Kita lihat nanti ya, sudah lama sekali ibu tidak pernah kesana lagi. Makanya ayo cepat bangun, di sana banyak sekali hewan yang bisa kita lihat," jawab Rania.
"Baik Bu, aku mandi sekarang,"
Sembari menunggu Alisa selesai mandi, Rania bercerita tentang keindahan kebun binatang kepada Bintang. Ekspresinya yang bak pendongeng profesional membuat Bintang sangat bersemangat dan tidak lagi mengantuk.
Beberapa saat kemudian Setelah semuanya selesai, mereka segera berangkat. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di tempat tujuan. Karena hari libur, kebun binatang sangat ramai oleh pengunjung. Antrian masuk mengular panjang sekali. Mereka menunggu dengan sabar.
"Wah, lucu sekali itu Bu,"
Alisa tampak mengagumi gorila yang sedang bermain dengan anaknya. Mereka berkeliling dari tempat hewan satu ke hewan yang lainnya.
"Bu, itu kok seperti ayah ya?"
Alisa menunjuk ke arah kanan mereka. Benar saja ia melihat suaminya sedang bersama dengan seorang wanita dan anak perempuan mungkin sebaya Bintang. Entah mengapa hatinya terasa berdenyut, ada rasa sakit yang tidak dapat di ungkapkan.
'Siapa wanita dan gadis kecil itu?' batin Rania.
Ia segera meraih ponsel dan mencoba menghubunginya tanpa melepaskan pandangan dari pria itu. Sekali mencoba, tidak di angkat. Entah mengapa dirinya merasa kesal, apakah masih ada cinta di hatinya untuk suaminya itu? Ia mencoba sekali lagi.
__ADS_1
"Halo, ada apa Nia?" tanya Alif.
"Mas sedang ada di mana?" tanya Rania.
"Aku sedang bekerja," jawab Alif berbohong.
"Oh ya, kenapa suaranya ramai sekali?"
"Tumben kamu peduli dengan ku, biasanya tidak mau tahu lagi apa yang aku lakukan,"
Rania makin kesal.
"Jika tidak mau memberi tahu ya sudah, Mas,"
"Tunggu Nia. Aku memang sedang bekerja,"
Alif masih saja berbohong, Rania menjadi sangat kesal. Untuk apa dia berbohong jika memang tidak ada hubungan serius dengan wanita itu? Menurutnya Alif adalah pria yang sangat munafik. Di dalam sidang ia kukuh dengan pendiriannya untuk mempertahankan pernikahan mereka, namun di luar ia malah pergi bersama wanita lain padahal mereka belum resmi bercerai.
"Jangan berbohong Mas. Aku tahu kamu sedang di kebun binatang bersama seorang wanita dan gadis kecil. Aku dan anak-anak juga di sana,"
Alif terlihat mengedarkan pandangannya, ia mencoba mencari keberadaan istri dan anaknya. Ia berhasil menemukannya, sesaat pandangan mereka beradu. Detik kemudian Rania mengajak kedua anaknya pergi dari sana.
"Sayang, kita makan dulu ya. Nanti setelah makan kita naik perahu. Kalian mau makan apa?" tanya Rania lembut.
"Hore... aku mau mie ayam, Bu,"
"Mau bakso, Bu,"
Keduanya menjawab hampir bersamaan. Beruntung di sekitar sana ada penjual mie ayam yang juga menjual bakso, jadi mereka bisa makan di satu tempat.
"Pak, pesan bakso dua porsi, mie ayam satu porsi. Minumnya dua es jeruk sama satu es teh manis,"
Mereka kemudian duduk setelah memesan menu. Masih membayang dalam angannya bagaimana wanita itu bergelayut manja di lengan suaminya. Alif membiarkan semua itu seolah ia juga menikmatinya, cairan bening kembali jatuh tanpa bisa ia cegah.
"Ibu menangis ya? Apa karena ayah bersama wanita lain?"
__ADS_1
Alisa sangat peka, ia seolah tahu apa yang tengah Rania rasakan.
"Ibu baik-baik saja, hanya sedikit kecewa kepada ayah. Mungkin ayah sudah menemukan pengganti ibu,"
Walau berat kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Harusnya Alif tidak mempersulit proses sidang jika memang telah memiliki pengganti dirinya. Ia juga ingin segera bebas, ia tidak ingin memikirkan apapun lagi tentang suaminya itu.
"Nia... kalian di sini rupanya, aku mencari mu kemana-mana,"
Mereka menoleh ke arah Alif secara bersamaan. Semua hanya diam tanpa menanggapi. Alif segera duduk bergabung dengan mereka, namun Rania mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf Nia, aku tidak bermaksud berbohong pada mu. Aku hanya takut kamu sakit hati," ucap Alif.
"Jika kamu sudah memiliki pengganti diri ku, mengapa kamu masih mempersulit proses sidang. Tolong segera lepaskan aku, jangan menjadi pria yang serakah Mas," balas Rania sembari menatap tajam.
"Nia kamu salah paham, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ibu memang ingin aku dekat dengan wanita itu, tapi aku tidak bisa karena masih mencintai mu," sanggah Alif.
Rania tersenyum sinis. Bagaimana mungkin dia bilang masih mencintainya sedangkan ia biarkan tubuhnya di jamah wanita lain di depan umum. Sedangkan dulu saat ia makan dengan Rangga saja ia sudah menuduhnya selingkuh.
"Jangan bicara omong kosong Mas, aku tadi melihat bagaimana kalian bergandengan dengan begitu mesra. Kamu terlihat menikmati semuanya. Jangan menjadi orang yang munafik. Aku tidak keberatan jika kamu dekat dengan perempuan lain, toh kita akan segera bercerai. Aku hanya minta kamu jujur dan jangan mempersulit proses sidang,"
Rania bangkit dan menuju ke arah penjual bakso, ia malas berbicara dengan Alif lagi. Ia tidak suka dengan kebohongan, karena dengan satu kebohongan maka akan tercipta kebohongan-kebohongan lainnya.
Alif tampak mengobrol bersama kedua anaknya. Entah beralasan apa dia kepada wanita itu sehingga bisa berlama-lama di sini. Rania mulai muak dengannya, ia baru sadar jika suaminya pandai bersilat lidah.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, nanti wanita itu mencari mu," ujar Rania.
"Apa kamu cemburu padanya, Nia?"
Alif menatap lekat kedua manik indah istrinya, mencoba memahami perasan wanita itu.
"Aku tidak cemburu, aku hanya kecewa kepada mu. Kamu tidak jujur dan kamu berani mendekati wanita lain sebelum kita resmi bercerai," jawab Rania.
Alif menghela napas dengan kasar, ia merasa sangat bersalah. Ini semua karena ibunya yang memaksanya pergi bersama mereka ke tempat ini.
"Nia, aku..."
__ADS_1
"Pergilah dari sini Mas, atau kami yang pergi,"