Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 36 Peringatan Keras


__ADS_3

Rangga segera memutar arah, sementara Rania tetap mengawasi gadis berseragam itu. Mereka duduk agak ke dalam sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas, ia sangat berharap itu benar putrinya.


"Nia, kamu tenang dulu ya jangan terbawa emosi. Takutnya itu bukan Alisa," ucap Rangga.


"Maaf Rangga, aku terlalu takut tidak bisa menemukan putri ku,"


"Alisa pasti ketemu, kamu yang kuat ya,"


Setelah memarkirkan mobil, semua melangkah mendekati anak itu. Napas Rania memburu, hatinya sangat berharap dugaannya benar.


"Mas Alif!"


"Rania... maaf tadi aku tidak sengaja lewat sekolah Alisa jadi aku ajak makan sebentar. Maaf ya, aku lupa mengabari mu,"


Dengan tanpa rasa berdosa ia berkata penuh ketenangan. Mata Rania menatap nyalang ke arah suaminya, dadanya tiba-tiba terasa panas seolah akan meledak.


Plakkk...


Dengan kekuatan penuh Rania berhasil membuat tanda merah di pipi kanan Alif. Semua pengunjung reflek menoleh ke arah mereka. Semua terperangah dengan apa yang baru saja terjadi.


"Rania, tenang,"


Rangga berusaha menenangkan Rania yang sedang dalam keadaan sangat emosi.


"Biarkan Rangga. Dia tidak tahu betapa hancur hati ku saat aku tidak menemukan putri ku di sekolah. Betapa rasanya aku mau mati saat semua orang tidak tahu anak ku ada di mana dan bersama siapa. Aku bahkan nyaris kehilangan akal dan berpikiran buruk karena tidak menemukan putri ku di mana-mana,"


Rania berteriak sambil menangis memukul dadanya dan menunjuk-nunjuk muka Alif dengan geram. Rangga dan Alif berusaha memenangkannya namun di tepisnya dengan kasar. Alisa merasa bersalah dan juga ketakutan melihat ibunya yang sedang histeris.


"Nia, aku minta maaf. Aku memang salah, aku mohon maafkan aku. Aku benar-benar lupa memberi kabar karena terlalu asyik mengobrol dengan Alisa,"


"Aku menghubungi kamu puluhan kali Mas, tapi tidak sekali pun kamu angkat. Kamu tidak tahu betapa paniknya aku,"


Rania masih sangat emosi, bahkan ia lupa jika sedang berada di tempat umum.


"Maaf Nia, ponsel aku silent dan belum sempat aku normalkan kembali,"

__ADS_1


Alif benar-benar menyesal, ia tidak menyangka akan menjadi segawat ini. Dia hanya rindu kepada putrinya, kebetulan tadi tidak sengaja ada urusan di dekat sana.


"Ini peringatan untuk mu Mas, jika sampai kamu membawa anak-anak tanpa izin dari ku, aku akan minta pengadilan untuk tidak mengizinkan diri mu bertemu anak-anak sama sekali," ucap Rania tegas.


"Alisa, ayo pulang,"


Rania menggandeng tangan kedua anaknya menuju mobil, Rangga segera mengikutinya. Sementara Alif masih terpaku di tempatnya, ia merasa sangat menyesal sekali. Baru pertama kalinya ia melihat istrinya histeris seperti ini.


☆☆☆


Di dalam mobil suasana sunyi senyap, tak ada seorang pun yang buka suara. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Alisa menunduk, ia tidak berani melihat ke arah ibunya.


Sesampai di rumah Rania mempersilahkan Rangga masuk dan membuatkan pria itu minum.


"Alisa Sayang, lain kali jika mau kemana saja dan mau pergi sama siapa, izin dulu sama ibu ya. Ibu sayang sekali sama Alisa, ia sangat sedih jika Alisa tidak ada kabar. Kamu jangan takut ya, ibu mu tidak akan marah, ia hanya sedikit kecewa," ucap Rangga sembari mengelus rambut gadis itu.


"Iya Om, aku tahu aku salah. Aku janji tidak akan seperti itu lagi, aku akan meminta maaf kepada ibu,"


"Anak, baik,"


"Rangga di minum dulu,"


Rania meletakkan segelas teh hangat di depan pria itu.


"Terima kasih Nia, harusnya tidak perlu repot-repot,"


Rangga segera meminum teh itu, terasa pas di lidahnya.


"Alisa masuklah, ganti seragam mu,"


Alisa segera menuruti perintah ibunya, ia tahu ibunya masih marah kepadanya. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf.


"Rangga, terima kasih sekali atas bantuan mu. Aku tidak tahu suami ku bisa seceroboh itu, aku benar-benar frustasi tadi," ucap Rania.


"Aku mengerti kok, kamu adalah seorang ibu jadi wajar begitu kuatir. Jangan marahi Alisa ya, dia sangat ketakutan tadi apalagi saat melihat diri mu begitu histeris di tempat itu. Jangan sampai perpisahan kalian membuatnya merasa adanya perbedaan,"

__ADS_1


Kata-kata Rangga bagaikan paku yang menusuk jantungnya. Ia merasa jadi yang paling kuatir dan yang paling tersakiti tanpa tahu perasaan putrinya. Mungkin putrinya merasa bahagia bisa pergi dengan ayahnya sehingga keduanya lupa memberi kabar. Kenyataan yang lupa ia pikirkan karena terlalu tersulut emosi.


"Terima kasih sudah mengingatkan ku, sepertinya aku memang terlalu terbawa emosi," ucap Rania.


"Ya sudah aku tinggal ya, mungkin kamu butuh waktu bersama Alisa. Tetap semangat dan jangan lupa beri kabar pada ku,"


Rangga tersenyum menatap Rania, ia menghabiskan minumannya hingga tandas lalu bangkit dan pamit pulang.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Ibu, maafkan aku ya. Aku tahu ibu marah, aku tidak bermaksud membuat ibu kuatir. Aku hanya terlalu senang ayah datang hingga lupa memberi kabar ibu,"


Pagi ini Alisa bangun sendiri tanpa perlu Rania bangunkan. Gadis itu tampaknya merasa sangat bersalah. Rania mendekat dan mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Maafkan ibu juga ya Sayang, ibu terlalu terbawa emosi sehingga tidak memikirkan perasaan mu. Ibu tidak marah, hanya sedikit kecewa saja. Lain kali jangan di ulangi ya cantik. Ibu tidak masalah jika kamu ingin pergi bersama ayah, tapi izin dulu supaya ibu tidak kuatir ya,"


Rania berkata dengan lemah lembut, Alisa segera memeluk ibunya. Gadis itu kembali menampakkan senyumnya yang sempat hilang di telan rasa bersalah.


"Bu, apa benar ibu tidak akan memperbolehkan ayah bertemu aku dan Bintang lagi seperti kata ibu kemarin?" tanya Alisa.


"Tidak Sayang, ibu mengatakannya karena emosi. Ibu juga akan menghubungi ayah mu untuk meminta maaf,"


Rania meraih ponselnya, ia akan meminta maaf kepada suaminya karena sudah terlalu kasar kemarin.


"Halo, Mas,"


"Rania... aku kira kamu sudah tidak mau menghubungi ku lagi. Aku benar-benar minta maaf Nia, aku tidak bermaksud membuat kamu kuatir. Saat itu aku sungguh lupa memberi kabar karena Alisa bercerita banyak hal, kami terlalu asyik menikmati kebersamaan,"


Alif menjelaskan dengan sungguh-sungguh, Rania tahu pria itu sedang tidak berbohong.


"Iya Mas, aku mengerti. Aku ingin meminta maaf karena kemarin kasar pada mu, aku terlalu terbawa emosi,"


Demi apapun Alif begitu bahagia mendengar ucapan istrinya, ternyata Rania masih sama seperti dulu yang memiliki sifat pemaaf.

__ADS_1


__ADS_2