Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 44 Alif dan Desi


__ADS_3

Rania membeku mendengar pernyataan pria itu. Ia tidak menyangka sama sekali jika kesendirian pria itu hingga saat ini adalah karena dirinya. Ia bahagia karena ternyata dugaannya waktu itu jika Rangga telah melupakannya tidak benar adanya. Namun saat ini dirinya hanyalah seorang janda beranak dua, rasanya tidak pantas bersanding dengan pria terhormat seperti Rangga.


"Maaf Rangga, bukannya aku tidak peka, hanya saja aku tidak berani berharap kepada mu lagi. Dulu aku memang selalu berharap kamu kembali, tapi sekarang aku hanyalah seorang janda beranak dua. Tidak mungkin aku berani menginginkan lebih dari pada seorang sahabat dengan mu,"


Ada rasa getir di hati Rania kala mengucapkannya. Jujur di sudut hatinya masih ada tempat untuk pria itu, namun ia sadar diri ia bukanlah Rania yang dulu.


"Aku tidak peduli dengan status mu, aku mencintai mu apa adanya," ucap Rangga.


"Tolong jangan membahas masalah ini lagi sampai masa iddah ku terlewati, Rangga," pinta Rania.


"Baiklah, aku sudah menunggu mu selama belasan tahun, tidak masalah jika harus menunggu beberapa lama lagi,"


Rangga kembali melajukan mobilnya yang sempat terhenti. Suasana menjadi sunyi, tidak ada seorangpun yang berbicara. Semua hanyut dengan pikiran masing-masing.


☆☆☆


Malam harinya.


Alif berdandan rapi, ia menyemprotkan sedikit parfum ke sekujur tubuhnya. Ia memakai minyak rambut dan menyugar rambutnya ke belakang, persis anak muda yang mau apel ke rumah pacarnya.


"Wah wangi sekali Lif, mau kemana kamu?" tanya ayahnya.


"Mau jalan sama Desi, Yah," jawab Alif.


"Ingat Lif, jangan menjadikan wanita lain sebagai pelampiasan dari kekecewaan mu karena tidak berhasil mempertahankan pernikahan mu," pesan ayah Alif.


"Tidak Yah, aku juga mau melanjutkan hidup. Aku tidak mungkin mengingat masa lalu terus, aku juga harus memikirkan masa depan ku," jawab Alif.


"Sudahlah Pak, biarkan Alif melakukan apa yang dia mau. Dia itu sudah besar jangan di ceramahin terus," sahut bu Nani.


"Aku hanya kuatir dengan Alif, aku tidak ingin dia mengalami kegagalan lagi," ucap ayah Alif.


"Terima kasih Yah, insyaallah aku akan ingat semua. Alif pergi dulu ya,"


Alif kemudian berpamitan lalu berangkat menuju rumah Desi. Orang tua Desi masih ada hubungan saudara jauh dengan bu Nani. Sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak dulu, namun karena keduanya juga sudah sama-sama berkeluarga maka mereka jarang bertemu. Baru saat Alif dalam proses perceraian Bu Nani meminta putranya untuk mendekati Desi.

__ADS_1


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Orang tua Desi mengajak Alif untuk masuk karena Desi masih bersiap-siap.


"Bagaimana kabar orang tua mu, Lif?" tanya pak Sabar.


"Alhamdulillah baik, Paman. Mereka juga titip salam untuk paman sekeluarga," jawab Alif.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya Lif, apa kamu serius dengan Desi? Paman sebenarnya trauma dia dekat dengan pria lagi, takut akan di sakiti lagi. Tapi karena aku sangat mengenal keluarga mu makanya aku izinkan kalian saling mengenal lebih jauh,"


"Insyallah jika memang Allah meridhoi Alif serius, Paman. Sebenarnya aku juga masih ragu, makanya kita saling mengenal dulu. Aku tidak ingin gagal untuk kedua kalinya juga, Paman," jawab Alif.


"Paman berharap kalian berjodoh dan terus bersama sampai akhir hayat kalian,"


"Amin,"


Pembicaraan mereka terhenti ketika Desy keluar dengan pakaian seksinya.


Dengan bersungut Desi kembali masuk ke dalam kamarnya. Walau usianya sepantaran dengan Rania, Desi lebih manja dan kekanakan. Ini terjadi karena ia adalah anak tunggal jadi ibunya sangat memanjakannya.


"Desi itu sedikit manja dan kekanakan karena terlalu di manja oleh bibi mu, jadi kamu harus tegas kepadanya. Didik dia dengan benar jika kalian nanti berjodoh," ucap Pak Sabar.


"Iya Paman,"


Beberapa saat kemudian, Desi keluar dengan pakaian yang lebih sopan namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya. Setelah berpamitan mereka segera berangkat.


Baru beberapa menit berlalu, Desi merapatkan tubuhnya. Berusaha mengikis jarak antara dirinya dan Alif. Tonjolan di dadanya ia rapatkan ke punggung pria itu, sehingga membangunkan milik Alif di bawah sana. Pria itu yang sudah berbulan-bulan berpuasa merasakan benda miliknya menjadi mengeras.


'Oh Tuhan, kenapa wanita ini agresif sekali? Apa begitu jika dekat dengan wanita yang sudah janda?' tanya Alif di dalam batinnya.


"Des, kita mau jalan kemana?" tanya Alif.


"Terserah Mas Alif, aku menurut saja," jawab Desi.

__ADS_1


Tangan Desi mulai turun ke paha Alif, baru setahun menjanda sepertinya membuatnya sudah tidak tahan ingin di belai seorang pria. Alif makin blingsatan menerima perlakuan demikian, apalagi tangan wanita itu mulai merambah ke sela-sela pahanya.


Ciiittt...


Alif mengerem mendadak dan menghentikan motornya di pinggir jalan. Desi bukannya berhenti malah meremas barang pusakanya yang sudah benar-benar mengeras.


"Des, tolong hentikan itu. Kita tidak boleh melakukan hal seperti itu sebelum menikah. Aku memang seorang duda, tapi aku juga takut dosa,"


Alif menepis pelan tangan wanita itu, jujur sebagai seorang pria ia sangat menginginkannya namun logikanya mampu menyadarkannya.


"Apa aku tidak menarik Mas? Makanya Mas Alif menolak ku ya?" tanyanya dengan wajah sedih.


"Bukan begitu. Kamu cantik dan menarik, hanya saja kita tidak pantas melakukan hal itu sebelum..."


Ehm... ehm...


Belum selesai Alif berbicara, Desi dengan rakus mencium bibir pria itu hingga sulit bernafas. Alif benar-benar terjebak dan hanya bisa pasrah.


"Des, berhenti. Jangan membuat ku kehilangan akal," pinta Alif.


"Aku tahu Mas Alif juga menginginkan aku, buktinya b*r*ng mu sudah berdiri sejak tadi. Aku juga menginginkan mu Mas,"


Desi mendekat sampai Alif membentur motornya.


"Ayo kita ke hotel Mas, atau Mas ingin melakukannya di sini?"


Dengan pose menggoda Desi merayu Alif.


"'Ayo cepat naik Des, kita pulang saja. Kalau tidak akan aku tinggalkan kamu di sini," ancam Alif.


Pria itu lantas menyalakan mesin motornya, karena takut di tinggal di tempat sepi seperti itu akhirnya Desi ikut naik juga.


Desi yang sudah kehilangan akal karena dan tak ingin melepaskan Alif terus melakukan rangsangan kepada Alif, membuat pria itu tidak dapat mengontrol diri lagi. Apalagi di saat jalanan sepi dengan berani Desi membuka resleting celana Alif dan memegang apa yang seharusnya tidak boleh di jamah.


"Cukup Des. Jika itu yang kamu mau, baiklah akan ku turuti. Tapi jangan pernah salahkan aku, karena ini semua keinginan mu,"

__ADS_1


Alif segera melajukan kembali motornya. Mereka tidak jadi pulang, melainkan belok ke arah hotel kelas melati. Keduanya sudah benar-benar kehilangan akal. Lama tidak mendapatkan sentuhan dari lawan jenis sepertinya sudah mengaburkan pikiran mereka yang tertutup nafsu birahi.


__ADS_2