Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 82 Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Nenek..."


Alisa berlari ke arah neneknya yang baru turun dari mobil.


"Alisa, Sayang,"


Keduanya saling berpelukan. Lalu Bintang dan Rania juga. Setelah menyalami kedua orang tuanya, Rania membawa mereka masuk.


"Subhanallah, rumah kamu besar sekali. Dalamnya seperti di film orang kaya di tv, Nak," puji ayahnya.


"Iya Pak, aku kira cuma besar saja ternyata mewah sekali," sahut ibunya.


Keduanya sangat takjub, baru kali ini mereka menginjakkan kaki ke dalam rumah sebesar dan semewah ini.


"Alhamdulillah Pak, Bu. Mas Rangga memberi kami rumah yang lebih dari cukup, dan yang paling penting kami semua merasa bahagia hidup di sini bersamanya," balas Rania.


"Alhamdulillah, ibu juga ikut bahagia. Setelah bertahun-tahun kamu hidup menderita, sekarang kamu bahagia karena mendapat pasangan yang tepat. Semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan,"


"Amin,"


Rania kemudian mengajak kedua orang tuanya makan dulu sebelum mereka beristirahat. Keduanya sungguh tidak menyangka putrinya mendapatkan pria yang sangat kaya, karena selama ini Rangga tidak pernah memamerkannya. Sifatnya juga terlihat biasa, sehingga mereka menyangka dirinya adalah pria mapan yang berkecukupan saja. Tapi ternyata lebih daripada itu.


"Aduh, bagus sekali kamar kita Nak. Apa kamu tidak salah membiarkan kita tidur di kamar ini?" tanya bu Arum.


"Tidak Bu, Ibu dan Bapak tidur di sini. Semua kamar di rumah ini rata-rata hampir sama, semua begini,"


Bu Arum melihat ke sekeliling kamar. Ia masih merasa kagum. kamar ini sepertiga dari rumahnya di desa. Kasurnya, lampu, dan semuanya begitu indah dan tertata rapi membuat dirinya sayang untuk menempatinya.


"Ibu dan Bapak istirahat saja dulu, nanti kita bicara lagi. Kalau mau apa-apa jika aku tidak ada, ibu minta tolong kepada mbak saja ya,"


Rania meninggalkan kedua orang tuanya agar bisa beristirahat. Mereka pasti lelah setelah perjalanan jauh.


☆☆☆


Malam harinya.


"Oma..."

__ADS_1


Alisa memeluk oma dan opanya yang baru saja datang. Mereka akan menginap karena besok akan ada selamatan empat bulanan calon cucu mereka.


"Mama dan Papa langsung istirahat dulu ya, capek sekali. Tadi dari kantor langsung ke sini," ucap Bu Rahmi.


"Ya ampun Ma, harusnya istirahat saja. Ini kan hanya acara empat bulanan. Lebih penting kesehatan Mama dan Papa, yang penting doa kalian, itu sudah cukup," sahut Rania.


"Tidak bisa begitu Sayang, ini cucu yang sangat kami nantikan jadi kami harus hadir," jawab bu Rahmi sembari mengeluh perut menantunya.


Setelah menyalami besan mereka langsung menuju kamar untuk beristirahat.


☆☆☆


Di kediaman Alif.


Hari ini Alif sudah resmi bercerai dengan Desi. Pengadilan sudah mengabulkan gugatan cerainya. Ia berencana untuk segera menikahi Laila. Dirinya sudah mantap untuk membangun mahligai rumah tangga bersama wanita itu. Menurutnya Laila adalah wanita yang pantas untuk mendampinginya.


Walaupun sifatnya sangat mirip dengan mantan istrinya Rania, jujur ia tulus mencintainya. Benih-benih cinta di hatinya mulai tumbuh subur dalam beberapa bulan mengenalnya. Ia bertekad untuk mendapatkannya seberapa keras pun usaha yang harus di lakukannya.


"Yah, aku ingin segera menikahi Laila. Bisakah kita segera bertemu orang tuanya untuk membicarakan masalah ini?"


Alif sangat berharap ayahnya setuju dengan keinginannya.


Alif terpaku, ucapan ayahnya memang ada benarnya. Namun hatinya kali ini sudah mantap, berbeda ketika akan menikah dengan Desi waktu itu. Desi baginya hanya pelarian, dia tidak pernah mencintainya. Namun Laila, ia tulus menyayanginya dan ingin menjadikannya pendamping hidupnya.


"Tapi ini berbeda Yah, aku benar-benar mencintai Laila dengan apa adanya dia. Sedang dengan Desi, aku tidak pernah punya perasaan terhadapnya,"


Alif berusaha jujur kepada ayahnya, berharap dia akan mengerti dan mau menyetujuinya.


"Ya terserah kamu saja. Jika kamu memang sudah mantap, aku tidak bisa menghalangi. Tapi pesan ayah, jangan mudah untuk menceraikan istri mu. Jadikan apa yang menjadi kegagalan di masa lalu mu sebagai perbaikan untuk masa depan mu,"


Mereka terus saja berbicara tentang kapan waktu yang tepat untuk datang kepada orang tua Laila. Walau pun ibunya seperti tidak setuju, Alif tidak peduli. Bahkan dia dengan tegas mengultimatum bu Yani agar berbuat baik kepada Laila.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Sinar mentari pagi bersinar sangat cerah. Secerah perasaan Rania dan Rangga hari ini. Kehadiran orang tua dan juga mertua begitu membahagiakan mereka. Meja makan hari ini terisi penuh, mereka sarapan dengan gembira.


Beberapa saat kemudian, kerabat yang lain mulai berdatangan. Tiara dan suaminya juga datang, begitu juga sebagian keluarga Rangga yang tinggal masih satu kota dengannya serta para undangan juga sudah tiba.

__ADS_1


"Selamat ya Nia, maaf aku baru bisa berkunjung lagi setelah pernikahan kalian. Maklum aku tidak bisa menyetir, hahaha..."


Tiara datang bersama suaminya, mereka menyalami semua orang.


"Selamat ya Nia, semoga anak dan ibunya sehat dan lancar sampai persalinan,"


"Maaf ya Mbak, aku mengajak ayah. Beliau ingin ikut,"


Nelly merasa tidak enak karena ayahnya memaksa ingin ikut ke acara empat bulanan mantan menantunya itu.


"Tidak apa-apa, aku senang ayah masih peduli walaupun aku bukan menantu Ayah lagi. Terima kasih ya, Yah,"


Rania memeluk mantan mertuanya itu, selama ini pria inilah yang kerap kali membelanya walaupun terkadang kalah oleh bu Yani.


Semua orang sudah berdatangan, acara pengajian dan doa akan segera di mulai. Acara berjalan dengan khidmat. Banyak doa di lantunkan untuk ibu dan calon bayinya.


☆☆☆


"Mas Alif, mau bicara apa?" tanya Laila.


"Aku kan sudah resmi bercerai, jadi sebaiknya kita segera menikah. Aku sudah bicara kepada ayah, beliau setuju kapan pun ingin meminta mu kepada orang tua mu," jawab Alif.


"Oh begitu ya,"


Laila lalu terdiam, sepertinya ia tidak senang.


"Hanya begitu tanggapan mu, Laila?"


"Lalu aku harus merespon bagaimana, Mas?"


Keduanya beradu pandang, tatapan mereka saling bertemu. Hati mereka saling bertanya dalam diam. Beberapa menit mereka larut dalam kebisuan.


"Apa kamu tidak menginginkan aku untuk menjadi pendamping mu? Katakan saja yang sejujurnya, Laila. Bukankah kita sudah sepakat untuk berlapang dada apapun keputusan kita nanti,"


Sejujurnya Alif tidak ingin bertanya. Namun ia tidak ingin menduga, ia tidak ingin berharap dalam kepalsuan. Ia menginginkan kepastian, walau pahit itu akan lebih baik daripada menjalani hubungan dalam keterpaksaan. Ia tidak ingin Laila menerimanya hanya karena rasa kasihan.


"Laila, katakanlah pendapat mu," pinta Alif.


"Selama ini aku nyaman bersama mu, Mas. Banyak kesamaan di antara kita. Namun maaf, aku tidak bisa,"

__ADS_1


Laila tertunduk sedih.


__ADS_2