
"Aku tidak menyangka ibu mu akan setega itu, Mas. Padahal semua ini terjadi karena ulahnya,"
Laila marah, ia kecewa dengan sikap suaminya yang terlampau lemah ketika menghadapi ibunya. Harusnya bukan karena dia orang tua jadi bisa bertindak semena-mena terhadap mereka.
Laila melangkah ke dalam kamarnya, ia menangis tersedu-sedu.
"Dia sudah membunuh anak kita, sekarang dia justru membuat kesalahannya menjadi beban kita. Belum hilang rasa sedih ini, ibu mu sudah menambah masalah baru untuk kita,"
Laila kembali merasakan perihnya kehilangan bayi, seakan baru kemarin semua itu ia alami. Sakit jiwa dan raga yang kini tengah ia rasakan.
"Maafkan aku Laila, aku harus bagaimana? Haruskah aku membentak ibu ku? Haruskah aku membunuhnya seperti dia membunuh bayi kita?"
Alif bingung bagaimana harus bersikap, selama ini dia memang lebih memilih mengalah jika berkaitan dengan ibunya. Hal itu bahkan berhasil memporak-porandakan pernikahannya dengan Rania sebelumnya.
"Kamu sudah dewasa Mas, tidak seharusnya aku mengajari lagi tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada mu. Jika kamu selalu begini, seribu wanita pun kamu nikahi hasilnya akan tetap sama," jawab Laila.
Alif mematung, ia berusaha mencerna kata-kata istrinya. Namun sekeras apapun ia berpikir, ia masih belum menemukan jalan keluar dari semuanya.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
Ting tong... ting tong...
"Mbak, tolong buka pintunya ya. Aku mau menyusui Naya dulu," pinta Rania.
"Baik, Bu,"
ART itu bergegas turun dan membukakan pintu. Ternyata Laila yang datang bersama Akila.
"Silahkan duduk dulu, saya panggilan ibu dulu di atas,"
Mbak langsung naik ke tempat Rania berada.
"Jadi ini tempat tinggal kak Alisa ya, bagus dan besar sekali,"
Akila memandang sekeliling dengan penuh rasa takjub. Bahkan itu di rasakannya sejak mulai berada di halaman rumah.
"Iya Sayang, kita harus tetap bersyukur walau rumah kita sederhana. Masih banyak yang hidupnya jauh lebih sulit dari kita,"
__ADS_1
Laila memberi pengertian kepada putrinya.
"Iya Bu, aku sudah cukup bahagia kok punya orang tua yang lengkap,"
Akila memandang ibunya dengan perasaan bahagia. Ia merasa bersyukur mempunyai ayah sambung yang baik kepadanya, seperti Alif.
"Laila, sama
"Laila, apa kabar?"
Rania memeluk Laila, sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir bertemu saat Rania menjenguk Laila di rumah sakit ketika dia keguguran.
"Baik, Mbak," jawab Laila.
"Alhamdulillah, ayo kita ke atas saja,"
Mereka duduk di ruang keluarga di lantai dua.
"Hai Akila, sudah lama tidak bertemu. Sebentar tante panggilkan kak Alisa ya, duduk dulu,"
Rania pergi ke kamar Alisa yang baru saja selesai mandi bersama Bintang. Mereka senang sekali mengetahui kedatangan saudara tirinya itu. Mereka segera menghampirinya.
"Ayo Akila, kita ke kamar ku," Keduanya melangkah ke kamar Alisa dengan perasaan bahagia.
"Laila, aku turut prihatin dengan kejadian uang menimpa mu tempo hari. Kamu yang sabar ya," Rania memegang tangan Laila untuk menguatkannya.
"Terima kasih ya Mbak, maaf sekali waktu itu aku tidak dapat mengontrol emosi. Semua terjadi secara tiba-tiba membuat aku begitu sedih dan terpukul," balas Laila.
"Aku mengerti, aku salut dengan mu yang begitu kuat. Sekarang bagaimana kehidupan kalian? Apa kamu masih tinggal di sana?" tanya Rania.
Akhirnya Laila menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Walaupun mereka tidak ada hubungan darah, namun mereka terlihat sangat akrab. Mungkin karena Rania pernah ada dalam keluarga itu, sehingga membuatnya mengerti apa yang tengah Laila alami sekarang.
"Astaga, keterlaluan sekali ibunya Mas Alif. Bukannya minta maaf, dia malah mempersulit hidup kalian," ucap Rania menanggapi cerita yang Laila sampaikan.
"Maaf ya Mbak, bukannya aku ingin membuka aib dalam keluarga. Hanya saja aku merasa nyaman bercerita kepada Mbak Rania,"
Rania mengerti sekali dengan perasaan Laila karena dia juga merasa nyaman bercerita dengan Laila. Ia seperti menemukan saudara baru dari diri masing-masing.
"Laila, jika kamu butuh bantuan jangan segan-segan mengatakannya ya,"
__ADS_1
Sebenarnya Rania ingin membantu Laila. Uang 10 juta bukan hal berarti baginya. Namun ia tidak ingin melukai harga diri Laila sehingga ia mengatakan demikian.
"Iya Mbak, terima kasih sekali atas pengertiannya ya. Hati ku lega bisa berbagi dengan Mbak,"
Rania memeluk Laila dengan erat.
"Jika kamu butuh pinjaman untuk membayar itu semua, atau untuk membuka usaha aku tidak keberatan membantu. Jangan pikirkan tentang pembayarannya karena aku tulus ingin membantu," ucap Rania akhirnya.
Setelah sedikit memaksa, Laila akhirnya mau menerima bantuannya. Namun wanita itu hanya meminjam 3 juta untuk modal usaha. Rania juga memberikan 2 paket skincare agar bisa Laila pasarkan. Laila senang karena sebentar lagi dirinya bisa membantu suaminya mencari nafkah.
Setelah beberapa di sana akhirnya ia berpamitan.
☆☆☆
"Laila, kalian dari mana saja?" tanya Alif saat istrinya baru saja datang.
"Tadi ada urusan sebentar, Mas," jawab Laila.
"Apa kamu masih marah pada ku? Aku janji akan membayar semua uang yang ibu minta dan tidak akan merepotkan mu," Laila tersenyum masam.
"Sudahlah Mas, aku lelah ingin beristirahat,"
Laila berbaring di kamarnya, Alif mengekor di belakangnya.
"Maaf ya Laila, sampai sekarang aku belum bisa membuat diri mu bahagia. Aku juga tidak tahu mengapa ibu ku suka membuat keributan, namun aku selalu tidak berdaya," Alif menggenggam tangan istrinya.
Lagi-lagi itu yang selalu suaminya katakan. Padahal seharusnya dirinya bisa bersikap lebih tegas. Kita harus berani meluruskan perbuatan tidak baik orang yang kita sayang agar bisa segera sadar. Jangan mengatas namakan ketidak berdayaan sebagai alasan untuk membenarkan.
"Berani berbuat maka harus berani menanggung resikonya. Setiap apa yang kita tanam itu juga yang kita tuai, Mas. Aku tidak ingin berdebat lagi karena kita sudah sama-sama dewasa,"
Laila memunggungi suaminya. Ia lelah terus berharap. Mungkin sebaiknya ia mulai berusaha mandiri. Apa saja bisa terjadi dengan pernikahan mereka nanti.
"Laila... Jangan pernah tinggalkan aku. Berjuanglah bersama ku," pinta Alif.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu dalam kondisi begini. Tapi tolong jangan terlalu berharap banyak dari ku Mas, aku takut tidak bisa bertahan," ucap Laila.
"Jangan berkata begitu, aku akan berjuang sekuat mungkin. Aku yakin kita bisa melewati ini semua,"
Alif berkata seolah ia mampu menyelesaikan semua. Ia berkata begitu karena tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai, terserah jika Laila memandangnya egois. Ia hanya tak ingin pernikahannya hancur untuk kesekian kali. Apalagi untuk alasan yang sama, yaitu sikap ibunya yang selalu tidak bersahabat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu sampai kapan akan bertahan Mas. Tapi aku akan berusaha hingga aku tak mampu lagi," ucap Laila.