Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 68 Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Tiga minggu kemudian.


Alif sudah benar-benar menutup hatinya untuk Desi. Ia telah memasukkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama. Keluarganya juga sudah pasrah dengan keadaannya karena apa yang di lakukan Desi memang sangat keterlaluan dan tidak dapat di maafkan.


Desi berusaha memperbaiki keadaan dengan mengemis cinta pria itu hingga datang ke rumahnya untuk bersujud. Namun bukannya menerima maafnya justru berbagai hinaan yang ia terima di sana. Ia pergi dengan tangan hampa.


"Jadi kamu sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan?" tanya Wanto.


Alif mengangguk dengan wajah lesu. Ia menatap dengan mata kosong.


"Sayang sekali ya, padahal baru saja aku menghadiri pesta pernikahan kalian. Ternyata mencari wanita baik-baik sekarang susah ya," ucap Wanto.


"Aku kira dia hanya melakukannya dengan ku, ternyata dia memang janda gatal," umpat Alif.


"Hahaha... Sudah bisa mengumpat rupanya diri mu sekarang,"


Wanto menertawai temannya itu, semenjak dengan Desi Alif memang lebih sering emosi dan mulai berkata kasar.


"Mengapa tidak kembali saja ke mantan istri mu, sepertinya memang hanya dia yang terbaik untuk mu," imbuh Wanto.


Alif menggeleng pelan.


"Dia sebentar lagi akan menikah dengan pria itu," jawab Alif.


"Pria yang mana? Yang pernah kita kira selingkuhannya itu ya?"


Alif mengangguk.


"Wah, jangan-jangan waktu itu mereka memang ada hubungan," Wanto mulai memprovokasi.


"Tidak, adik ku tahu semua cerita mereka. Aku sudah tidak ada harapan bersamanya. Kesalahan ku terlalu besar terhadapnya, mungkin ini adalah karma untuk ku karena selama bertahun-tahun telah membuatnya menderita,"


Alif menghela napas dengan kasar di ikuti oleh Wanto. Tatapan mereka menerawang jauh, bertarung dengan pikiran masing-masing.


☆☆☆


"Halo, Mbak Nia," sapa Nelly di seberang telepon.


"Iya Nel, ada apa?" tanya Rania.


"Aku mau ambil 4 paket skincare nya lagi ya, setelah ini uangnya langsung aku transfer,"


"Wah siap, sebentar lagi di antar kurir kesana ya,"


"Siap Mbak, aku tunggu ya. Terima kasih,"


"Ya Nel, sama-sama,"

__ADS_1


Rania segera menelepon kurir langganannya untuk mengantarkan paket. Ia mengirim 10 paket skincare sekalian kepada Nelly, karena setelah ini ia harus istirahat demi mempersiapkan hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari.


[Nel, aku kirim 10 paket sekalian ya. Bayar kalau sudah laku saja, karena takutnya aku sibuk beberapa hari ke depan.]


Pesan terkirim. Tidak begitu lama Nelly membalas di sertai bukti transfer krim yang tadi ia pesan.


[Ok Mbak, terima kasih banyak ya. Uang untuk 6 paket sudah aku transfer ya. semoga yang 4 segera ada yang beli juga.]


Rania sangat senang berbisnis dengan adik iparnya itu, dia sangat bertanggung jawab dan cepat sekali belajar. Kurang dari sebulan dia telah berhasil mengembalikan uang 10 juta yang pernah ia pinjamkan untuk modal kepadanya.


"Oh tidak, sudah jam segini,"


Rania melihat jam di dinding sudah menunjukkan waktu Alisa pulang sekolah. Ia segera mengajak Bintang menjemput putrinya itu.


"Sayang, ayo cepat ganti baju dan makan ya. Setelah ini ikut ibu dan Om Rangga ke butik, kita akan mencoba baju untuk pesta pernikahan nanti," ucap Rania.


"Kita juga pakai baju bagus, Bu?" tanya Alisa.


"Tentu saja, kalian akan mendampingi ibu dan Om Rangga nanti di pelaminan, baju kita harus sama bagusnya," jawab Rania.


"Hore..."


Kedua anaknya bersorak kegirangan. Tidak berapa lama Rangga juga sudah datang menjemput mereka. Mereka segera berangkat ke butik langganan Rangga.


☆☆☆


"Terima kasih, dia memang seorang bidadari. Bukan saja parasnya, tapi hatinya juga seperti malaikat,"


Rangga memandang istrinya dari kejauhan, kata-kata yang ia ucapkan tulus dari hatinya yang terdalam. Rania tampak anggun dengan desain gaun pernikahan khusus wanita berhijab, ukurannya juga sangat pas di tubuh wanita itu. Elegan dan tidak mempertontonkan lekuk tubuhnya berlebihan.


"Wah ibu cantik sekali, seperti princess di kerajaan-kerajaan yang ada di tv," puji Alisa.


"Terima kasih, Sayang,"


Rangga tidak bisa mengalihkan pandangannya, ia begitu mengagumi segala sesuatu yang ada pada Rania. Pemilik butik sampai tersenyum melihatnya yang tidak seperti biasanya. Ia dan keluarganya merupakan pelanggan tetap butik ini, jadi sedikit banyak ia mengetahui tentang kehidupan mereka.


"Ayo, di coba untuk berdekatan. Kami ingin memfoto kalian sebagai dokumentasi butik ini," ucap pemilik butik dengan ramah.


Mereka bekerja sama dengan baik. Mereka tampak seperti keluarga yang harmonis. Beberapa pose di ambil sebagai dokumentasi.


"Hasilnya boleh minta tolong di kirim juga ke nomor saya ya," pinta Rangga.


"Tentu Pak, akan segera kami kirim," ucap pemilik butik.


Merekapun segera berganti pakaian dan melanjutkan mengambil pesanan yang lain. Mereka memang sengaja mendatangi semua tempat sekarang, karena besok Rania sudah akan pulang ke desanya. Jadi apabila ada yang kurang pas masih ada waktu untuk memperbaikinya.


"Kita makan dulu ya, setelah itu baru ke tempat perhiasan,"

__ADS_1


Rangga segera memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Baru sekarang ia mengajak mereka kesini karena selama ini Rania tidak mau di ajak ke tempat begini karena menurutnya tidak sesuai dengan lidahnya.


"Sayang, kali ini kamu harus mencobanya. Aku yakin kamu dan anak-anak pasti menyukainya.


Mereka mulai memilih menu, dari penampilannya Rania dan anak-anaknya tidak begitu suka. Namun ternyata rasanya lumayan juga, dan mereka pun menyuksinya.


"Ah ternyata rasanya enak ya Om, berasa seperti di film-film drama korea makan seperti ini," ucap Alisa.


Setelah makan mereka lanjut ke toko perhiasan tempat mereka memesan cincin pernikahan.


"Wah ternyata pas sekali, jadi tidak perlu perbaikan," ucap Rangga.


"Oh iya Tuan, ini pesanannya yang lain juga sudah selesai,"


Penjaga toko menyerahkan dua buah kotak perhiasan kepada Rangga.


"Ok, terima kasih ya," ucap Rangga.


"Ayo kita pulang, kalian pasti sudah lelah,"


Ia melihat Bintang yang sudah mulai mengantuk. Benar saja, baru saja masuk mobil dan pendingin di nyalakan Bintang langsung tertidur.


"Sayang, tolong ambilkan kotak perhiasan tadi," pinta Rangga.


Rania segera mengambilnya.


"Yang ini ya?"


"Iya, kamu buka saja,"


Rania membuka kedua perhiasan itu, tampak dua buah kalung cantik di dalamnya. Satu dengan liontin huruf A, yang satunya dengan huruf R.


"Pakailah, satu untuk mu dan yang satunya untuk Alisa. Semoga kalian suka ya," ucap Rangga.


"Aku juga dapat Om? Terima kasih ya,"


Alisa mencium pipi Rangga dan memeluknya.


"Sayang, hati-hati Om Rangga sedang menyetir," tegur Rania.


"Maaf Bu, aku terlalu bahagia,"


Rania memakaikan kalung itu kepada putrinya. Alisa tidak berhenti tersenyum dan menatap kalung pemberian Rangga.


"Nanti untuk Bintang aku belikan mainan mobil atau motor yang bisa dia kendarai ya, agar dia senang," ucap Rangga.


Rania menatap pria itu dengan penuh rasa bahagia. Bukan karena pemberiannya yang mahal, namun lebih kepada perhatiannya yang adil kepada mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2