Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat


__ADS_3

Dokter Hendro segera merawat luka Michelle, wanita itu sudah mencoba mengakhiri hidupnya dengan menyayat nadinya dengan pecahan kaca. Beruntung dia segera di temukan dan dapat perawatan yang tepat sehingga bisa selamat.


"Bagaimana keadaannya, Dok? Kata petugas Michelle mencoba bunuh diri?"


Anto terlihat cemas sekali. Walaupun mulutnya berkata sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu, nyatanya perasaannya tidak dapat di bohongi. Hatinya masih mengharapkan cintanya.


"Alhamdulillah dia masih bisa di selamatkan. Sejak tadi dia mengingau nama Anda, dia sangat mengharapkan kedatangan Anda," jawab dokter Hendro.


"Apa benar begitu? Atau dokter hanya ingin aku peduli terhadap dirinya lagi?" tanya Anto ragu.


"Pak Anto bisa tanyakan kepada dokter yang tadi membantu saya menanganinya jika tidak percaya," jawabnya.


Anto terlihat masih ragu, namun yang terpenting saat ini adalah melihat keadaannya.


"Boleh saya menemuinya, Dok?" tanya Anto.


"Silahkan. Tapi tolong jaga perasaannya agar dirinya tidak depresi lagi,"


Dokter Hendro meninggalkan Anto yang masih tertegun. Detik kemudian pria itu masuk ke ruangan Michelle. Melihat wanita itu tergolek tak berdaya di kasur membuat rasa cinta dan iba menyeruak menjadi satu.


"Kenapa kamu nekad melakukan ini?"


Kedua manik Anto mengembun menatap orang yang di cintainya terbaring lemah. Tanpa sadar air matanya menetes jatuh ke wajah Michelle.


"Mas Anto..." panggil Michelle lirih.


"Kamu sudah sadar? Mengapa kamu berbuat seperti ini?" tanya Anto.


"Aku baru sadar jika kehadiran mu sangat berarti, Mas. Aku mulai menyayangi mu, aku tidak bisa hidup tanpa mu,"


Air mata Michelle mulai tumpah membasahi kedua maniknya. Sorot penyesalan terlihat dari tatapan matanya.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku tidak sanggup kehilangan orang yang aku cintai lagi, jadi lebih baik aku mati," imbuh Michelle.


Hati Anto trenyuh mendengarnya, dengan lembut Anto menggenggam tangannya dan duduk di dekatnya.


"Mengakhiri hidup bukan jalan yang baik. Masih banyak solusi lain yang bisa kita pilih. Aku minta maaf sudah terlalu keras pada mu,"


Anto mengusap pucuk kepala Michelle dengan lembut.


"Mas tidak salah, justru aku yang salah,"


Michelle mencoba bangkit, dengan perlahan.


"Jangan turun dulu, kamu harus istirahat," cegah Anto.


Michelle tidak mendengarkan, ia tetap turun dari kasurnya.


"Aku sayang kamu, Mas. Jangan tinggalkan aku,"

__ADS_1


Michelle memeluk Anto dengan erat. Wanita itu baru sadar akan perasaannya saat Anto tidak lagi mengunjunginya tadi pagi. Apalagi sebelumnya pria itu terlihat kecewa terhadap dirinya. Penyakitnya mulai kambuh, ia begitu takut kehilangan. Segala perlakuan baik pria itu telah berhasil meluluhkan hatinya.


"Iya, aku juga sangat menyayangi mu,"


Anto membalas pelukannya.


☆☆☆


"Mas, aku takut," Nelly makin mempererat pegangannya di tangan suaminya.


"Tenang, aku yang akan hadapi orang tua ku,"


"Assalamualaikum, Ma, Pa,"


Ferry mencium tangan keduanya, Nelly melakukan hal yang sama dengan wajah sedikit menahan rasa takut. Ia kembali berada di belakang suaminya setelah menyalami mertuanya.


"Kenapa kamu masih membawa dia, Ferry?" tanya ibunya ketus.


"Aku mencintai dia, Ma. Tolong jangan buat keributan lagi. Dia adalah sumber kebahagiaan ku. Kita juga menikah belum terlalu lama, lagi pula soal anak itu rejeki dari Allah. Tolong jangan bahas itu lagi," jawab Ferry.


"Kita sudah tua, sampai kapan harus menunggu kalian memberi kami cucu? Lebih baik kamu menikah lagi dengan Dina, dia janda beranak satu. Jadi sudah terbukti dia subur,"


Wanita itu menatap menantunya dengan sinis, membuat Nelly makin tertunduk.


"Ini tentang perasaan, aku hanya mencintai Nelly. Mama dan Papa sebaiknya doakan saja kami segera bisa memberi keturunan. Jangan menambah masalah lagi, kami juga lelah,"


Ferry merangkul pinggang istrinya untuk membuktikan keseriusan kata-katanya.


"Tenang saja, kita datang hanya untuk berpamitan sekalian berkemas. Kami akan tinggal di rumah kami sendiri,"


Ferry menarik tangan istrinya menuju kamar mereka.


"Ferry jangan pergi, kamu harus tinggal di rumah ini,"


Ibunya mencegah dan menahan langkahnya.


"Jika kalian tidak bisa menerima istri ku, itu berarti kalian juga tidak menerima ku. Tenang saja, sewaktu-waktu kita pasti datang berkunjung,"


Mereka terus melangkah menuju kamar.


"Pa, anak kita akan meninggalkan rumah ini. Semua karena wanita itu,"


Suaminya menghibur istrinya yang tengah menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah Ma, Ferry sudah dewasa jadi biarkan saja. Hubungan darah lebih kental dari apapun, dia tidak mungkin melupakan orang tuanya,"


Mereka hanya bisa menonton saat keduanya mengemas barang mereka dan membawanya pergi.


☆☆☆

__ADS_1


"Sayang, kita ke rumah sakit sebentar ya. Menjenguk Michelle, sekalian mengucapkan selamat terhadap hubungan mereka," ajak Rangga.


"Ke rumah sakit jiwa, Mas? Hubungan mereka siapa maksudnya?" tanya Rania bingung.


"Apa aku belum cerita ya?" Rangga berusaha mengingat.


Dahi Rania makin berkerut karena tidak mengerti.


"Jadi Anto pernah bilang kalau dia punya perasaan terhadap Michelle. Selama ini dia selalu menjenguknya setiap hari. Barusan ia telepon jika Michelle sudah bisa menerimanya, bahkan sampai nekad bunuh diri karena dia berniat melupakannya," jelas Rangga.


"Benarkah? Jadi Michelle jatuh cinta kepada Anto, dan sebaliknya?"


Rangga mengangguk.


"Iya, kamu mau ikut menjenguk kan?"


"Iya Mas, aku siap-siap dulu ya,"


Mereka segera bersiap-siap menuju rumah sakit.


☆☆☆


"Aku tidak masalah berada di tempat ini, asal Mas selalu datang menjenguk ku," ucap Michelle.


Anto tersenyum mendengarnya.


"Kamu akan keluar setelah sembuh. Kasihan ibu mu pasti sangat membutuhkan diri mu. Kamu harus berjuang agar segera pulih. Masih banyak orang yang peduli dan menyayangi mu,"


Michelle kembali memeluk pria itu, menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya.


"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah tulus menyayangi ku," ucap Michelle.


"Ehem... ehem..."


Rangga yang baru datang bersama istrinya tidak menyangka akan di suguhkan pemandangan manis seperti ini. Anto dan Michelle segera melepaskan pelukan mereka.


"Maaf ya kedatangan kita sudah mengganggu kalian," ucap Rangga.


"Tidak kok, kita hanya sedang mengobrol. Silahkan duduk," Anto tampak tersipu malu.


Michelle tertunduk melihat orang yang pernah ia sakiti datang. Ia merasa malu dan sangat menyesal dengan tindakannya tempo hari.


"Bagaimana keadaan mu, Michelle?" tanya Rania.


Michelle tersenyum, ia tidak menyangka wanita itu akan bersikap ramah padanya setelah apa yang telah terjadi.


"Aku baik. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat kepada kalian,"


Cairan bening mulai mengembun di matanya. Ia benar-benar menyesal.

__ADS_1


"Yang sudah lalu biarlah berlalu, toh kamu bukan sengaja melakukannya. Itu terjadi karena saat itu mental mu tidak stabil. Aku senang sekarang kamu jauh lebih baik. Aku harap kamu segera sembuh total agar bisa terus melanjutkan hidup," ucap Rania tulus.


Michelle berlari memeluk Rania. Kedua pria yang tadinya kuatir karena takut Michelle masih ingin menyakiti Rania pun tersenyum melihat keduanya berpelukan.


__ADS_2