
"Apa-apaan kamu Michelle, lepaskan!"
Rangga mendorong wanita itu dengan kasar.
"Aku rela jadi yang kedua Rangga, asalkan bisa bersama mu. Aku mohon jangan menolak ku lagi,"
Michelle berusaha mendekat, namun Rangga menjauhinya. Wanita itu memang tidak tahu malu. Sudah tahu Rangga sudah berkeluarga masih saja mencoba merayunya.
"Michelle, kamu jangan gila ya. Dari dulu aku hanya menganggap diri mu teman, tidak lebih. Kamu seorang pengacara, jangan merendahkan diri hanya demi pria yang sampai kapan pun tidak akan pernah kamu miliki," ucap Rangga tegas.
"Aku tidak peduli, aku mencintai mu Rangga,"
Michelle berlari dan memeluk Rangga dengan erat.
"Astaga... kalian sedang apa di sini?"
Rania tidak dapat menahan keterkejutannya, ia tidak percaya dengan apa yang sedang ada di depannya.
"Sayang, aku bisa jelaskan,"
Rangga menepis tangan Michelle, namun wanita itu makin mempererat pelukannya.
"Aku akan menjadi istri kedua suami mu," wanita itu berkata dengan angkuh.
"Apa? Aku tidak mau di madu, Mas!"
Rania menatap tajam ke arah suaminya. Ia tidak ingin percaya, namun tadi ia melihat mereka berpelukan di dekat toilet.
"Jangan membuat masalah dalam rumah tangga ku Michelle, atau aku tidak akan pernah memaafkan mu," ancam Rangga.
Rangga mendorong Michelle dan segera menghampiri Rania.
"Ada apa ini kok ribut di sini?" Siska dan Jeremy menghampiri mereka.
"Tadi Michelle ingin menjebak ku. Dia mencoba mencium ku tapi ku dorong, lalu dia memeluk ku tiba-tiba. Istri ku melihatnya dan salah paham," jelas Rangga.
"Apa benar seperti itu, Mas?"
Rania tidak percaya begitu saja. Bagaimana pun Michelle adalah wanita yang cantik dan menarik, dia juga masih single. Apalagi mereka pernah kuliah bersama selama bertahun-tahun, mungkin saja ada rasa di antara mereka namun terlambat menyadarinya.
"Tentu saja Sayang, apa kamu meragukan diri ku?" tanya Rangga sedikit kecewa.
"Maafkan dia ya Rania, Michelle memang dari dulu menyukai Rangga tapi selalu di tolak. Michelle ayo kita pulang saja," Jeremy menarik tangan wanita itu.
"Lepaskan aku Jeremy, aku tidak mau pergi. Aku ingin bersama Rangga,"
Michelle meronta, ia menolak pergi.
Plakkk...
"Jangan membuat kita malu, Michelle! Kita ke sini karena ingin memberi selamat atas pernikahan serta kelahiran anak Rangga"
Jeremy menampar Michelle untuk membuat dirinya sadar.
__ADS_1
"Maaf ya Rangga, Rania. Sebaiknya kita pulang saja," ucap Siska yang melihat suasana mulai memanas.
"Kalian apa-apaan sih. Lepaskan, aku bisa jalan sendiri,"
Michelle berjalan mendahului, setelah kedua temannya melepaskan tangannya.
☆☆☆
"Kamu sudah gila ya, kenapa kamu tadi berbuat seperti itu?" tanya Jeremy saat perjalanan pulang.
"Sudah aku bilang aku mencintai Rangga, aku ke sini untuk dia," jawab Michelle.
"Apa kamu tidak malu jadi pelakor? Rangga itu sudah menikah, kamu harus sadar itu, Michelle," sahut Siska.
"Sudahlah, kalian jangan terlalu ikut campur urusan ku. Aku tidak meminta pendapat kalian, urus saja hidup kalian sendiri," teriak Michelle.
"Terserah kamu deh, yang penting kita sudah mencoba menyadarkan mu. Sekarang aku mau pulang ke rumah suami ku saja," ucap Siska, ia malas ikut campur lagi.
☆☆☆
"Rania Sayang, apa kamu sungguh meragukan cinta ku?"
Rangga mencoba membujuk istrinya.
"Kalian pernah bersama selama bertahun-tahun, bisa saja kalian memang saling suka. Apalagi tadi aku lihat kalian berpelukan," jawab Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Astaga Sayang, demi Tuhan aku tidak pernah mencintainya. Jika iya, pasti aku sudah lama menikahinya,"
Rangga memeluk istrinya dengan erat, ia menyeka air mata istrinya yang mulai berjatuhan.
Rania merasa tidak percaya diri, apalagi dirinya baru saja melahirkan.
"Aku tidak peduli bagaimana pun keadaan mu, di hati ku hanya ada kamu. Dari dulu hingga saat ini, cuma diri mu yang aku cinta,"
Rangga menatap lekat kedua manik indah istrinya. Di kecupnya kedua tangan istri kesayangannya itu.
"Maafkan aku ya Mas, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu,"
Rania memeluk suaminya, ia bersandar di dada bidang pemilik hatinya.
"Aku tidak akan membiarkan orang ketiga hadir dalam pernikahan kita, aku berjanji pada mu,"
Mereka akhirnya berbaikan kembali.
☆☆☆
"Kurang ajar," umpat Michelle.
Pyarrr... brukkk...
Ia melempar beberapa benda di kamarnya.
"Kenapa Rangga, kenapa kamu menolak ku lagi?"
__ADS_1
Michelle menatap fotonya bersama Rangga saat mereka kuliah dulu. Ia mulai menangis tersedu-sedu. Selama bertahun-tahun ia mencoba melupakan pria itu, namun justru rasa itu semakin dalam.
"Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan ku. Hidup ku sampai hancur demi berusaha melupakan kamu,"
Pyarrr...
Ia melempar foto itu ke lantai, sehingga membuat kaca piguranya pecah berserakan. Badannya mulai menggigil, emosinya mulai tidak stabil. Ia segera merogoh laci dan mengambil obatnya.
"Hah..." Michelle menarik napas panjang, kini ia mulai tenang.
"Aku tidak bisa begini terus, aku harus bisa mendapatkan dirinya. Bagaimanapun caranya," ia tersenyum licik ke arah pantulannya di kaca.
"Michelle..." panggil ibunya.
"Iya, Ma,"
"Apa-apaan ini, apa penyakit mu kambuh lagi?"
Ibunya melihat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.
"Sampai kapan kamu seperti ini terus Sayang? Karir mu hancur, hidup mu berantakan. Kapan kamu bisa berhenti bergantung kepada obat?"
Ibunya menatapnya dengan rasa iba. Tidak ada yang tahu jika Michelle pernah mengalami depresi berat dan nyaris bunuh diri. Dia harus minum obat dari dokter secara teratur agar penyakitnya tidak kambuh. Ia bisa merahasiakan semua ini, termasuk kepada kedua teman dekatnya itu, Siska dan Jeremy.
"Aku baik-baik saja kok Ma, jangan terlalu kuatir," ucap Michelle.
"Kamu tidak perlu berbohong, semua ini sudah memperlihatkan semuanya. Sebaiknya kamu menemui psikiater mu, jangan sampai penyakit mu bertambah parah," balas ibunya.
"Iya, nanti aku akan menemuinya," jawabnya untuk menyenangkan ibunya.
Ibunya segera membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai. Ia memungut foto putrinya bersama Rangga.
"Apa kamu menemui pria ini, Michelle?" tanya ibunya.
Wanita itu tidak menjawab, ibunya bisa menyimpulkan kediamannya.
"Dia sudah punya istri, untuk apa kamu menemuinya lagi? Jangan menyia-nyiakan hidupnya untuk pria yang tidak pernah mencintai mu, sadarlah,"
Ibunya merasa kecewa. Setelah selama ini ia membantu putrinya bangkit dari keterpurukan, sekarang putrinya justru menemui kembali sumber masalahnya itu.
"Aku hanya di ajak teman-teman ke rumahnya, mereka ingin mengucapkan selamat atas pernikahan serta kelahiran anaknya," jawabnya.
"Untuk apa? Untuk membuka luka hati mu? Iya?"
Michelle tertunduk, ia tidak berani menatap mata ibunya.
"Jangan pernah menemui dia lagi, kamu dengar Michelle,"
"Sudah Ma, cukup. Aku sudah besar, jangan mengatur ku lagi," teriak Michelle.
"Ini demi kebaikan mu, Michelle,"
"Pergi..."
__ADS_1
Brukkk... brukkk...
Michelle melempar barang ke arah ibunya, membuat wanita itu keluar menghindar.