Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 76 Hamil


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Hari ini Alif berencana untuk mengenalkan Laila kepada keluarganya. Walaupun baru mengenal wanita itu kurang dari 2 minggu, namun ia sudah merasa cocok. Sifat mereka yang memiliki banyak kesamaan serta masih belum melihat kejelekannya membuat Alif yakin jika Laila wanita yang baik.


"Kamu kan belum resmi bercerai dengan Desi Lif, kenapa sudah terburu-buru mau mengenalkan wanita lain kepada kami," ucap bu Nani.


Sebenarnya ia masih berat kepada Desi, walaupun dirinya tahu wanita itu telah mengkhianati putranya. Apalagi hubungannya dengan keluarga Desi cukup baik, sehingga ia menyayangkan sekali Alif cepat-cepat memutuskan bercerai.


"Aku tahu Bu, aku juga menunggu putusan dari pengadilan baru memikirkan pernikahan. Hanya saja aku ingin kalian mengenalnya, dia wanita yang sangat baik dan mandiri," balas Alif.


"Semoga saja itu benar. Orang biasanya akan terlihat baik di awal, namun jika sudah di miliki maka akan ketahuan sifat aslinya," sindir bu Nani.


"Sepertinya Laila tidak begitu. Sejauh ini dia selalu bersikap baik," bela Alif.


"Hahaha... Kamu saja yang sedang di mabuk cinta. Memang kamu sudah kenal berapa lama? Baru kenal saja sok tahu sekali," cibir bu Nani.


"Sudah Bu, biarkan Alif membawanya kesini. Ibu jangan terlalu ikut campur lagi masalah Alif, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Cukup doakan yang terbaik untuknya," sahut pak Agus.


Mereka tidak bicara lagi. Karena enggan berdebat lagi, Alif segera pergi dari rumahnya untuk berangkat kerja. Ia tidak peduli dengan ucapan ibunya, karena ayahnya membelanya.


☆☆☆


Setelah kejadian di buntuti tempo hari, Rania selalu mengingatkan sopir untuk lewat jalan yang ramai. Walaupun terkesan cerewet namun itu untuk keselamatan bersama. Setelah mengantarkan Alisa sampai mobil, Rania kembali sarapan bersama suaminya.


"Sayang, kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya Rangga.


"Sepertinya aku kurang enak badan, dari semalam kepala rasanya pusing. Tadi pagi perut ku rasanya mual sekali saat membantu si mbak masak di dapur," jawab Rania.


"Kalau begitu lebih baik kita ke dokter, aku tidak ingin sampai kamu kenapa-kenapa,"


"Tidak perlu Mas, istirahat sebentar juga pasti baikan,"


Rangga terlihat sangat kuatir, namun ia tidak bisa memaksa istrinya untuk ke dokter.


"Ya sudah, hari ini kamu istirahat saja. Serahkan semua bisnis sama anak buah mu saja ya, Sayang,"


Rangga mengecup kening istrinya.


"Iya, Mas. Aku akan patuh pada mu, huek, huek..."


Rania berlari ke kamar mandi, ia memuntahkan sarapan yang ia makan barusan. Keringat mulai mengucur di wajahnya, ia terlihat tidak baik-baik saja. Rangga menyusulnya ke toilet dan memijat punggungnya dengan lembut.


"Sayang, sepertinya kamu harus ke dokter," ucap Rangga serius.


"Ya, nanti aku akan ke dokter," ucap Rania.

__ADS_1


"Tidak ada nanti, harus sekarang. Aku tidak tega melihat mu sakit begini," balas Rangga.


"Biarkan aku duduk sebentar, perut ku sakit dan kepala ku juga pusing,"


Rangga memapah istrinya untuk duduk di sofa. Ia memijat punggung istrinya dengan lembut. Pijatan suaminya membuat badannya terasa lebih nyaman.


"Aku sudah baikan, apa kita tidak usah ke dokter saja ya," ucap Rania.


"Kamu harus ke dokter,"


Rangga menggendong Rania sampai menuju mobil, wanita itu malu di perlakukan begitu. Para ART, security bahkan sopir pribadi mereka sampai senyum-senyum melihatnya seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi suaminya kukuh untuk tetap menggendongnya.


☆☆☆


"Istri saya sakit apa, Dok?" tanya Rangga.


Bukannya menjawab pertanyaannya dokter itu justru tersenyum dan menanyakan hal lain yang menurutnya tidak penting dan tidak ada kaitannya dengan sakit istrinya.


"Sudah berapa lama kalian menikah?"


Rania dan Rangga saling pandang.


"Kami baru menikah belum ada tiga minggu, Dok. Memangnya kenapa ya?" tanya Rania.


"Apa kalian tidak bisa menebaknya?"


"Maaf Dok, tolong langsung saja. Apa dokter tidak kasihan melihat kondisi istri saja yang sedang sakit," ucap Rangga tegas.


Rania mencoba menyabarkan suaminya.


"Maafkan suami saya ya, Dok," pinta Rania.


"Tidak apa-apa, saya maklum kok Bu. Itu tandanya suaminya sangat mencintai anda,"


"Sebenarnya bu Rania tidak sakit Pak, ini wajar sekali untuk kehamilan di usia muda. Bisa jadi ini akan terjadi untuk 3 bulan di awal,"


"Apa? Maksud Dokter istri saya sedang hamil?"


Rangga bertanya seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Dokter itu mengangguk dan tersenyum.


"Selamat ya, perkiraan usia kandungannya adalah 3 minggu terhitung dari terakhir kali ibu menstruasi. Usianya akan lebih akurat jika nanti kehamilannya sudah cukup besar jadi bisa di lihat melalui USG,"


Rangga merutuki dirinya sendiri yang tidak paham dengan kode dari dokter, ia merasa malu karena telah berbicara sedikit keras tadi.


Ia merasa bahagia sekali hingga memeluk dan mencium kening istrinya di depan dokter itu. Wajahnya yang tadi ketus sekarang berubah berbinar.

__ADS_1


"Maafkan sikap saya tadi ya, Dok. Saya tidak peka dengan arah pembicaraan dokter tadi," ucap Rangga.


"Tidak apa-apa, saya maklum kok. Tolong jaga bu Rania dengan baik ya, ibu hamil perasaannya biasanya lebih sensitif. Walaupun ini bukan kehamilan pertamanya namun tetap harus di perhatikan juga,"


Setelah mengucapkan terima kasih mereka segera pulang ke rumah. Hari ini Rangga sengaja tidak berangkat ke kantor, ia ingin mendampingi istrinya. Kata orang, ibu hamil terkadang suka mengidam hal-hal aneh. Rangga tidak sabar ingin istrinya mengalaminya. Akan dia lakukan apapun untuk memenuhi keinginan istrinya itu.


☆☆☆


Sore harinya.


Sepulang kerja, Alif sengaja ke rumah Laila. Ia ingin membawanya ke rumahnya untuk lebih mengenal keluarganya.


"Mas, apa ini tidak terlalu cepat? Kamu kan masih belum resmi bercerai?" tanya Laila.


"Tapi aku berniat serius dengan mu, aku ingin kamu mengenal keluarga ku. Insyaallah jika aku sudah resmi bercerai, kita akan segera menikah," jawab Alif.


"Baiklah, aku ganti baju sebentar ya,"


Laila yang masih mengenakan seragam kerjanya segera berganti pakaian dengan yang lebih rapi dan sopan. Ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sehingga Alif menunggu agak lama.


"Laila, kamu cantik sekali," puji Alif.


Wanita itu memang terlihat cantik walaupun penampilannya sederhana. Justru itu yang di sukainya dari sosok Laila, wanita yang apa adanya.


"Terima kasih, Mas,"


Pipinya merona karena malu.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di rumah Alif.


"Assalamualaikum," keduanya memberi salam.


"Waalaikum salam," Nelly membukakan pintu.


"Nelly, kenalkan ini Laila,"


Mereka bersalaman. Nelly memperhatikan Laila dengan seksama, dari penampilannya jauh lebih sopan dari Desi.


"Aku panggil ibu dan Ayah dulu ya,"


Alif meninggalkan mereka berdua untuk memanggil orang tuanya.


"Oh, jadi ini yang namanya Laila,"


Bu Nani menatap Laila dengan tatapan menghina. Laila berdiri dan ingin menyalaminya, namun di tolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


"Aku pikir dia lebih dari Desi, apa kamu tidak salah pilih Lif?"


Laila merasa terhina sekali dengan ucapan ibunya Alif itu.


__ADS_2