Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 78 Ngidam


__ADS_3

Di rumah Laila.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum, Laila,"


Wanita itu mendengar suara yang sangat di nantikannya selama 2 hari ini. Ia memang sengaja tidak membalas pesan atau telepon dari Alif. Ia ingin tahu sejauh mana pria itu akan mempertahankan dirinya. Seulas senyum penuh makna tersungging di sudut bibirnya.


"Waalaikum salam, ada apa Mas datang kemari?"


Laila masih bersikap sedikit ketus.


"Laila, aku tahu kamu tersinggung dengan sikap ibu ku. Aku minta maaf pada mu, aku mohon kamu jangan menghindari ku,"


"Masuk, Mas,"


Laila tidak menjawab, ia menyuruh Alif masuk agar tidak terdengar tetangga. Alif menurut, ia duduk di ruang tamu. Pintu rumah di buka lebar, ia tidak ingin ada yang salah paham dengan keberadaan mereka di dalam rumah.


"Mungkin kita belum berjodoh Mas, seperti ibu mu bilang aku memang tidak pantas bersanding dengan diri mu," ucap Laila.


"Kamu bicara apa Laila, kamu wanita yang baik. Tolong jangan dengarkan ibu ku, dia memang begitu," balas Alif.


"Lalu sebenarnya apa yang Mas inginkan dari ku?"


"Tentu saja aku serius, aku ingin melangkah lebih jauh dengan mu. Aku hanya menunggu proses perceraian ku selesai, setelah itu kita bisa menikah,"


Alif berusaha meyakinkan Laila.


"Tapi ibu mu tidak menyukai ku, Mas?"


"Kamu jangan kuatir, aku pasti akan selalu melindungi mu,"


Alif menatap lekat kedua manik Laila. Namun kata-katanya tidak mampu membuat Laila percaya begitu saja.


"Apa jaminannya Mas akan selalu melindungi ku? Aku sudah tahu semua kisah cinta mu Mas. Aku tidak mau nasib ku sama dengan mbak Rania, hidup menderita karena kamu selalu membela ibu mu walaupun dia salah,"


Alif terdiam, ia teringat pernikahannya dengan Rania yang telah kandas. Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Menyia-nyiakan wanita yang begitu berharga karena keegoisannya sendiri. Ia tidak yakin akan mampu membuat Laila percaya kepadanya kini.


"Aku tahu, aku memang salah sehingga membuat rumah tangga ku dengannya kandas. Tapi aku sangat menyesal dan berjanji untuk memperbaiki segalanya,"


Alif menghela napas dalam-dalam.


"Aku memang bukan manusia sempurna, tapi kerasnya hidup sudah memberi ku banyak pelajaran. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya, aku pasrah jika memang kamu tidak bisa mempercayai ku,"


Laila menatapnya begitu dalam, sorot matanya di penuhi kesedihan. Sepertinya dia memang serius dengan ucapannya itu.


"Baiklah Mas, kita coba jalani saja. Aku tidak akan menghindar lagi. Aku akan menyakinkan diri ku sendiri. Jika setelah kamu cerai aku yakin, kita bisa melangkah lebih jauh lagi,"

__ADS_1


Keduanya sudah melakukan kesepakatan untuk menjalani semua seperti air mengalir. Mereka juga berjanji akan berlapang dada apapun keputusan mereka nanti.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Mas, bangun Mas,"


Rania membangunkan suaminya di pagi buta. Bahkan adzan subuh baru saja berkumandang.


"Kenapa Sayang? Apa perut mu sakit?" tanya Rangga yang melihat istrinya menggigit bibir bawahnya.


"Bukan Mas, itu... ehm, aku ingin itu..."


"Apa? Sepagi ini kamu ingin bercinta Sayang?"


Ucapan Rania yang ambigu membuat suaminya salah paham. Mendengar istrinya berkata ingin itu, membuatnya semangat 45.


"Apa sih Mas... Aku ingin makan seblak, pakai telur, ceker ayam, dumpling ayam, pokoknya lengkap,"


Rania terlihat menelan salivanya membayangkan kelezatan makanan yang ia inginkan itu.


"Apa, seblak? Jam segini, apa ada yang jual?"


Wajah Rania yang tampak sedih membuat suaminya tidak tega.


Rangga segera berganti pakaian. Ia mulai melajukan mobilnya tidak tentu arah. Dia mulai berkeliling memperhatikan penjual makanan yang sudah buka namun tidak ada penjual seblak. Ia segera meminta bantuan saudara, teman, karyawannya, semua ia kirimi pesan. Bahkan ia membuat story di semua akun media sosialnya.


Rangga begitu frustasi. Ternyata menuruti istri yang sedang ngidam tidak semudah yang di bayangkan. Semua aplikasi sudah ia buka, namun tidak ada satu pun menu yang istrinya inginkan. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo Rangga, kamu serius sedang cari seblak jam segini?"


"Ya mau bagaimana lagi, istri ku sedang ngidam. Dia ingin sekali makan seblak, Gus,"


"Oh, pantesan. Ya sudah kamu ke rumah ku sekarang ya, biar istri ku buatin. Kebetulan dia juga punya cafe yang ada menu seblaknya, jadi pasti ada stok bahannya di rumah,"


"Serius kamu? Ya sudah, aku otw kesana,"


Rangga begitu girang, rumah Bagus temannya tidak jauh dari sana apalagi di pagi buta seperti ini pasti jalanan masih cukup lengang. Setelah 15 menit dia sudah sampai.


"Ayo masuk saja, sebentar lagi selesai kok,"


Bagus ternyata sudah menyambutnya di depan rumah. Mereka adalah teman kuliah di luar negeri. Bagus adalah seorang pengusaha sukses di bidang otomotif, sedangkan istrinya berbisnis di bidang kuliner.


"Tapi istri ku ingin seblak yang ada telur, ceker, dumpling ayam, lalu apa lagi tadi ya, aku lupa," ucap Rangga.


"Tenang, semua ada kok,"

__ADS_1


☆☆☆


Sudah hampir satu jam suaminya pergi namun belum juga kembali, Rania merasa bersalah telah membuatnya berkeliling. Ia tahu tidak akan ada penjual seblak yang berjualan di pagi buta. Tapi ia sangat menginginkan makanan itu.


"Assalamualaikum, Sayang aku datang,"


Rania segera memeluk suaminya.


"Mas, maaf ya sudah merepotkan. Aku tidak masalah kok jika memang tidak ada," ucap Rania.


"Siapa bilang tidak ada, ayo cepat makan mumpung masih hangat," balas Rangga.


"Serius, Mas bisa mendapatkan seblaknya?"


Manik Rania berbinar, ia merasa senang sekali hingga melompat kegirangan.


"Sayang jangan begitu, ingat kamu sedang hamil,"


Rania mencium pipi suaminya, ia terharu dengan perjuangannya. Rangga segera membuka seblak yang ia bawa, semua lengkap dan tinggal makan saja.


"Hmmm... enak Mas, Mas beli di mana?"


Rania mengunyah dengan lahap sembari terus berbicara.


"Pelan-pelan makannya. Ada deh, rahasia pokoknya,"


"Nyam, nyam, nyam... Ini seblak terenak yang pernak aku makan. Lain kali harus mengajak ku ke tempatnya langsung ya,"


Entah memang karena rasanya selezat itu atau karena bawaan bayinya istrinya jadi begitu. Yang jelas ia senang sekali melihat kebahagian dari raut wajah istrinya. Ia rela walaupun harus setiap hari seperti ini, yang penting istri dan bayi di dalam perutnya merasa senang.


"Huek... huek..."


Baru saja selesai makan, Rania kembali memuntahkan semua makanan itu. Rangga sangat panik karena yang istrinya keluarkan bahkan lebih banyak dari yang barusan ia makan. Rania lemas, perutnya sakit, mual, kepalanya juga sedikit pusing.


"Sayang, kamu membuat ku kuatir. Sebaiknya kita ke dokter saja ya?"


Rangga cemas menatap istrinya yang terkulai lemas di tempat tidur.


"Sepertinya aku tidak kuat keluar rumah, Mas"


Rangga teringat dengan dokter kenalannya, semoga saja bisa membantu.


"Selamat pagi, Dok. Maaf sudah mengganggu pagi-pagi begini,"


Rangga segera menjelaskan maksudnya. Dokter Dila bersedia membantu, ia akan tiba dalam waktu setengah jam.


"Sayang, sabar ya... Sayang ... Sayang bangun,"

__ADS_1


Rangga terkejut saat menoleh, istrinya sudah dalam keadaan mata terpejam.


__ADS_2