Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 47 Ke Sekolah Alisa


__ADS_3

"Hei, apa yang kamu lakukan kepada adik ipar ku,"


"Rangga, Rania... apa yang kalian lakukan?"


Suara kakak ipar Rania menyadarkan mereka berdua. Mereka segera bangkit dan berdiri dengan normal. Kedua orang tua Rangga menatap tajam ke arah putra mereka.


"Maaf, tadi Rania terjatuh jadi aku reflek menangkapnya," ucap Rangga.


"Maafkan anak saya ya Pak, dia pasti tidak sengaja," ucap ayah Rangga.


"Apa kalian saling mengenal?"


"Iya, bahkan mereka akan segera menikah setelah masa iddah Rania selesai,"


Ibu Rangga menjawab penuh keyakinan, sedangkan Rangga dan Rania hanya bisa saling pandang.


"Wah Rania, aku tidak menyangka kamu akan segera menikah lagi. Aku turut bahagia untuk kalian berdua ya, kenapa Tiara tidak cerita masalah ini ya," ucap kakak iparnya


"Tapi Mas, ini..."


"Ya sudah ayo kita kesana Pak, para anggota sudah tidak sabar ingin bertemu,"


Belum juga menyelesaikan kalimatnya, ayah Rangga sudah mengajak kakak iparnya pergi.


"Rangga, kenapa kamu hanya diam saja? Harusnya kamu jelaskan semua kesalah pahaman ini," ucap Rania.


"Aku harap ini bukan kesalah pahaman, aku berharap hal itu segera menjadi nyata Rania," jawab Rangga.


"Menikah tidak sesederhana itu, apalagi aku seorang janda dengan dua anak. Aku juga masih trauma dengan pria, aku takut..."


"Kamu takut aku akan bersikap seperti mantan suami mu? Apa menurut mu aku seperti Alif, Nia?"


Rania tidak bisa menjawab, ia tahu Rangga berbeda dengan Alif. Dari dulu sampai sekarang mereka bertemu kembali, pria itu selalu menunjukkan tanggung jawab dalam apapun. Hanya saja dia merasa ini terlalu cepat untuk membicarakan tentang pernikahan, karena dia baru saja bercerai.


"Katakan Nia, apakah menurut mu aku akan menjadi seperti Alif?" tanya Rangga lagi.


"Tidak Rangga, kamu bukan dia. Aku tahu kamu orang yang baik, tapi aku butuh waktu untuk berpikir. Tolong jangan paksa aku memutuskan secepatnya, aku mohon mengertilah,"


"Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku dan orang tua ku ya,"


Rania mengangguk dan tersenyum.


"Rangga, kesini dulu," panggil ayahnya.


"Iya Yah, sebentar," jawab Rangga.


"Nanti kita bicara lagi ya, aku kesana dulu," pamitnya.

__ADS_1


Rania hanya mengangguk sembari tersenyum. Pria itu lalu sibuk berbicara dengan orang penting lainnya, sementara dia kembali membantu kakaknya.


"Jadi kamu kenal dengan pria itu ya? Apa benar hubungan kalian sudah sedekat itu sehingga merencanakan pernikahan?" tanya Tiara.


"Dulu dia teman sekolah ku, kami bertemu di pengadilan saat mengurus perceraian. Karena dia seorang pengacara. Itu hanya salah paham Kak, mana mau dia dengan janda seperti ku," jawab Rania.


"Tapi sepertinya dia memang mencintai mu, terlihat dari sorot matanya saat melihat mu. Orang tuanya juga merestui, dan sepertinya... kamu juga memiliki perasaan terhadap pria itu," ucap Tiara.


"Kakak bicara apa sih, entahlah aku jalani saja seperti air mengalir. Aku tidak ingin terlalu berharap karena takut sakit hati jika tidak kesampaian. Sudahlah kita bicara yang lain saja, Kak,"


"Wah rona wajah mu jadi merah, berarti benar kamu memang menyukainya ya, hahaha..." Tiara berhasil menggoda adiknya.


Karena adzan magrib berkumandang, semua hadirin yang beragama muslim shalat bersama di masjid tepat di depan rumah Tiara. Namun ada sebagian tamu yang pamit pulang terlebih dahulu.


"Kak, selepas isyak aku pulang ya. Besok di sekolah Alisa ada acara, mungkin dia akan berlatih nanti," ucap Rania.


"Iya tidak apa-apa, jangan lupa bawa makanan dan kue. Itu masih banyak sekali di belakang," balas Tiara.


Rangga melihat Rania berdiri di depan rumah tetangga sebelah kakaknya, pria itu menghampirinya.


"Rania," sapanya.


"Om Rangga,"


Tiba-tiba Alisa datang dari dalam rumah itu lalu berlari memeluk pria itu.


"Halo Sayang, kok kamu ada di sini? Sama siapa?" tanya Rangga.


Melihat putrinya sangat bahagia bertemu Rangga membuat rasa iri di hatinya. Alisa bahkan tidak menolehnya, mungkin dia masih marah padanya.


"Rangga, besok di sekolah Alisa ada acara dan mengundang wali murid. Aku sudah mengajak Mas Alif tapi dia tidak bisa, Alisa menginginkan kedua orang tuanya hadir. Jika kamu tidak sibuk maukah kamu besok..."


"Tentu saja aku mau datang ke sekolah Alisa, menemani mu,"


"Hore, jadi besok ibu akan datang dengan Om Rangga. Orang tua ku lengkap, seperti teman ku yang lain,"


Alisa bersorak dengan gembira, rasa bahagia membuncah di hati Rania melihat kebahagian putrinya.


"Ya sudah besok pagi aku jemput ya. Sekarang Om pulang dulu, karena masih banyak pekerjaan,"


"Iya Om, terima kasih ya sudah mau menemani ibu. Sampai ketemu besok,"


"Iya Sayang, sama-sama. Aku pulang dulu ya, Nia,"


Mereka mengantar kepergian pria itu, sedangkan orang tuanya tampaknya sudah pulang terlebih dahulu karena tidak terlihat lagi.


☆☆☆

__ADS_1


Keesokan harinya.


Pagi ini Rania sedikit sibuk, setelah menyerahkan pengelolaan rukonya kepada karyawannya Rania kembali ke rumah. Ia segera mempersiapkan dirinya dan Bintang untuk ke sekolah Alisa, sementara putrinya tadi sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.


"Ibu cantik," puji Bintang.


"Benarkah Sayang?"


Bintang mengangguk lalu tertawa, semakin hari Bintang semakin pandai berbicara. Bahkan terkadang bicaranya pun layaknya orang dewasa membuat Rania terkekeh menahan tawa.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," Rania membukakan pintu.


"Wah, kamu cantik sekali Nia," puji Rangga.


"Kamu dan Bintang sama-sama suka gombal, pagi-pagi sudah membuat orang terbang ke langit," kelakar Rania.


"Tapi memang benar kan Sayang, ibu cantik ya?"


"Iya, ibu ku cantik Om,"


Keduanya kompak menggoda Rania. Setelah menutup jendela dan mengunci semua pintu, mereka segera berangkat ke sekolah Alisa. Hanya sekitar 10 menit mereka telah sampai di tujuan.


Rangga segera membukakan pintu untuk Rania, membuat wanita itu terharu. Banyak pasang mata menatap mereka saat masuk ke dalam aula.


"Ibu..."


Alisa segera memeluk ibunya dan juga Rangga. Gadis itu merasa sangat bahagia. Acara pun segera di mulai. Alisa kembali bersama teman-temannya.


"Alisa, apa itu ayah baru mu? Dulu perasaan ayah mu tidak seperti itu?" tanya temannya.


"Ayah ku sedang sibuk bekerja, jadi Om Rangga yang menemani ibu ku," jawab Alisa.


"Oh, aku kira dia ayah tiri mu. Kan kata mu orang tua mu sudah berpisah. Kalau ayah tiri itu sejahat ibu tiri tidak ya?" tanya temannya lagi.


"Aku tidak tahu, tapi Om Rangga sangat baik. Bahkan lebih baik dari ayah ku sendiri,"


Anak-anak memang sering berkata apa adanya, itulah yang memang Alisa rasakan saat ini.


Rangga terlihat duduk di samping Rania dengan rasa gembira. Mereka melihat penampilan yang di suguhkan pihak sekolah.


"Eh itu kan bu Rania ya, dia kan baru saja bercerai. Hebat ya, baru saja beberapa hari sudah dapat yang baru, mana lebih tampan dan kaya lagi,"


Ucapan nyinyir seorang ibu terdengar jelas di telinganya, membuat hatinya sakit mendengarnya. Apakah begini nasib seorang janda, selalu di pandang sinis oleh orang lain?

__ADS_1


"Sudah, tidak perlu di dengarkan. Bahkan seorang Nabi Muhammad pun banyak yang memandang buruk, yang tahu bagaimana diri kita hanya kita sendiri dan Tuhan,"


Ucapan Rangga berhasil menentramkan perasaan Rania yang sempat kalut karena nyinyiran orang lain.


__ADS_2