Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 107 Mengunjungi Laila


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Kenapa Mas terlihat suntuk sekali?"


Rania memijat punggung suaminya yang terlihat sangat lelah.


"Aku lelah Sayang, kasus kali ini sangat menguras tenaga dan pikiran ku,"


Rangga semakin menegakkan tubuhnya, pijatan istrinya membuatnya lebih nyaman.


"Memang kasus apa, Mas?" tanya Rania penasaran.


"Pembunuhan seorang istri pejabat. Sudahlah Sayang, jangan membicarakan pekerjaan. Oh ya bagaimana kabar pak Alif dan istrinya, sudah lama tidak mendengar kabar mereka?" Rangga membaringkan tubuh nya di ikuti istrinya.


"Kasihan sekali Laila, ibu mertuanya sudah tega mencelakai dia dan bayinya, justru memintanya membayar biaya rumah sakit waktu itu dan acara waktu mereka menikah. Totalnya 10 juta rupiah," jelas Rania.


"Kenapa tidak di laporkan saja, itu tindakan kriminal. Apalagi jika sampai sudah terencana," ucap Rangga.


Rania menghela napas panjang. Ia tahu jika wanita itu tidak akan di laporkan, mana mungkin Alif tega seperti itu. Menurutnya Alif bukan sosok suami dan anak yang baik. Ia membiarkan ibunya terus berbuat jahat dengan ketidak tegasannya. Ia justru kasihan kepada Laila, mungkin saja ia takkan bertahan selama dirinya jika terus seperti ini.


"Aku tidak ingin terlalu ikut campur, Mas. Aku hanya kasihan kepada Laila, nasibnya justru lebih parah dari ku hingga harus kehilangan bayinya. Aku ingin membantu ia agar tidak kesulitan masalah uang itu, tapi aku takut dia tersinggung,"


Rania diam sejenak.


"Sebulan lalu dia kemari, aku mengajaknya berjualan skincare. Dia meminjam uang 3 juta untuk modal usaha. Aku ingin memberikannya, tapi dia kukuh untuk mengembalikannya nanti," imbuhnya.


"Katakan saja itu untuk Akila, dia kan masih saudara anak kita walau hanya saudara tiri,"


Rangga mencoba memberi saran.


"Benar juga Mas, ide yang bagus. Aku kan sudah selesai masa nifas, bolehkah besok mengunjungi mereka. Mumpung hari minggu," ucap Rania.


"Boleh dong, besok kita kesana,"


Rania memeluk suaminya dengan erat. Sebenarnya ia sudah sangat rindu dengan belaian suaminya, namun melihat Rangga sepertinya sangat lelah ia hanya terus memijatnya.


☆☆☆


"Laila, ini uang untuk kebutuhan kita. Maaf ya aku ambil 500 ribu untuk mencicil hutang kepada ibu,"


Alif memberikan uang 1,5 juta kepada istrinya. Laila menerimanya tanpa berkata apapun.


"Semoga nanti aku dapat tambahan, jadi bisa aku beri lagi," imbuh Alif.


"Iya, Mas. Terima kasih," jawabnya singkat.


Laila memang tidak ingin terlalu membahas masalah nafkah. Berapa pun suaminya memberi insyaallah dia ikhlas. Apalagi sekarang ia sudah bisa mencari uang sendiri dengan bantuan modal dari Rania waktu itu.

__ADS_1


Walaupun bisnis skincare tidak terlalu bisa ia pasarkan, namun ia tidak kehilangan akal. Ia tahu pabrik tempatnya bekerja dulu para pekerjanya sangat membutuhkan makanan. Jadi dia memutuskan untuk menitipkan nasi bungkus dan segala macam sayur, lauk pauk serta aneka gorengan di kantin pabrik. Walaupun lelah, alhamdulillah hasilnya lumayan.


Laila memang tidak sepandai Rania dalam berbisnis, karena latar belakang pendidikan keduanya juga berbeda. Namun keduanya sama-sama pekerja keras dan ulet. Tidak suka merepotkan orang lain.


"Kalau kamu lelah, sebaiknya tidak perlu jualan,"


Alif memijat punggung istrinya, sebelum subuh wanita itu sudah bangun untuk menyiapkan jualannya. Alif sebenarnya tidak tega, namun Laila bersikeras untuk tidak berpangku tangan.


"Aku tidak apa-apa kok, Mas jangan kuatir. Sebelum kita menikah aku juga kan bekerja," Laila tersenyum kepada suaminya.


Mereka tidur saling berpelukan. Sementara Akila sudah tidur sejak tadi di kamarnya.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Alisa dan Bintang senang sekali mendengar mereka akan mengunjungi ayah mereka. Itu berarti mereka akan bertemu dengan Akila. Mereka senang dengan saudara tirinya itu, karena Akila adalah anak yang baik. Mereka selalu rukun jika bertemu.


"Bu, aku boleh memberikan beberapa baju ku yang sudah tidak kuat kepada Akila tidak?" tanya Akila.


"Apa masih bagus, Sayang?" tanya Rania.


"Masih Bu. Ibu, Papa, Oma dan Opa juga sering membelikan ku baju sehingga banyak sekali di lemari yang tidak terpakai,"


Alisa dan Rania pun mulai memilih pakaiannya yang masih bagus, ia juga memberikan beberapa mainan mahalnya untuk saudaranya itu.


"Iya, Pa," jawab Alisa.


Rangga terkejut melihat ada dua tas besar di depan mereka.


"Itu apa, Sayang?" tanya Rangga.


"Itu baju dan mainan yang ingin Alisa berikan kepada Akila, Mas," jawab Rania.


"Putri ku baik sekali, nanti kita mampir beli oleh-oleh untuk mereka ya. Ayo berangkat,"


Rangga membawa tas besar itu. Sementara Rania menggendong Naya di susul Bintang dan Alisa.


☆☆☆


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum,"


Rangga dan keluarganya mengetuk pintu dan memberi salam.


"Waalaikum salam, Mbak Rania dan keluarga. Tidak menyangka kalian mau berkunjung kesini, mari masuk,"

__ADS_1


Laila senang sekali dengan kedatangan mereka. Akila bahkan langsung mengajak saudaranya itu ke dalam kamarnya.


"Bu, ini aku bawa ke kamar Akila ya. Aku ingin menunjukkannya," ucap Alisa.


"Iya Sayang, itu kuenya juga kamu berikan kepada Akila ya,"


Alisa menuruti ucapan ibunya itu. Mereka langsung bermain di kamar Akila.


"Mbak, kenapa repot-repot pakai bawa-bawa segala sih. Aku sudah senang sekali kalian mau berkunjung ke rumah ku yang sederhana ini," ucap Laila.


"Tidak apa-apa, Laila. Bagaimana pun Akila itu kan saudaranya anak ku. Jadi sudah sewajarnya,"


Rania menyerahkan makanan dan kue yang mereka bawa. Tidak lupa beberapa keperluan rumah dan juga buah-buahan. Laila sangat terharu dengan kebaikan mereka.


"Mbk Rania, Pak Rangga silahkan di minum,"


"Iya Laila, terima kasih. Itu apa yang di dapur? Apa kamu jualan?" tanya Rania.


"Astaga sampai lupa. Itu aku titip di kantin tempat ku bekerja dulu, Mbak,"


Laila memasukkan semua jualannya ke dalam keranjang.


"Aku tinggal mengantar ini dulu di pabrik dekat sini ya Mbak. Tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?"


Laila sebenarnya tidak enak ada tamu malah ia tinggal, namun makanan sudah terlanjur di buat jadi sayang jika tidak di jual.


"Ya tidak apa-apa, kamu naik motor?"


Rania merasa kasihan, wanita itu pasti kesusahan membawa barang sebanyak itu menggunakan motor. Ia jadi teringat perjuangannya dulu, harus membawa dan mengangkat berkardus-kardus barang serta berpanas-panasan demi membantu suaminya mencari nafkah.


"Sudah biasa kok Mbak, tenang saja,"


Rangga membantunya membawakan barang-barang itu ke dekat motornya.


Baru saja Laila berangkat, ada ojek online yang berhenti di depan rumahnya. Rangga dan Rania memperhatikan siapa yang datang.


"Itu kan ibunya Mas Alif Mas, untuk apa dia ke sini?"


"Iya, ini kesempatan kita untuk membuatnya jera Sayang,"


Rania memandang suaminya penuh tanda tanya.


"Membuat jera bagaimana maksud mu, Mas?"


Rangga tersenyum penuh arti.


"Kamu lihat saja nanti," jawab Rangga.

__ADS_1


'Semoga tidak dosa mengerjai orang tua,' batin Rangga terkekeh sendiri.


__ADS_2