Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Menyesuaikan ~ Amoera


__ADS_3

Malam harinya. Albert keluar dari ruangan Amoera. ia sejenak pergi ke ruangan Marvin untuk melihat sahabatnya tersebut.


Tak lama setelah Albert keluar dari sana. tiba-tiba kedua mata Amoera mengerjap. mata sayu yang masih merekat sempurna itu mencoba terbuka dengan sendirinya. matanya yang sudah lama terpejam, kini, masih menyesuaikan dengan cahaya sekitar yang menyorotinya dari atas.


Amoera memberi jeda Kelopak matanya untuk berkedip.


hening seketika.


ia melihat ke sekitar. namun, dirinya tak mendapati siapapun di sana kecuali dirinya sendiri yang masih terbaring di tempat yang sama.


Amoera tak bergeming dari tempatnya. ia masih memperhatikan dan  menatap ruangan asing itu.


"Marvin," bibir Amoera tiba-tiba  berucap dengan suara rendah. hanya nama laki-laki itu saja yang pertama kali ia ingat. bahkan, ia menyebut nama Marvin tanpa mengeluarkan tenaga.


Kepalanya masih berdenyut hebat, kepalanya terasa sakit jika di gerakan. Amoera menahan kepalanya agar tetap di posisi yang sama seperti saat ini.


Ia menelan ludahnya yang sudah mengering di tenggorokannya, "Aku haus," ucap Amoera. kedua mata Amoera melirik ke arah Panic Button yang ada di dekat pembaringannya. tangan kirinya perlahan  bergerak hendak menyentuh tombol merah itu.


Ceklek


Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Amoera menjauhkan tangannya dari tombol itu. terlihat Albert di sana. kedua mata laki-laki itu  membulat dengan sangat sempurna saat dirinya melihat Amoera yang sudah sadarkan diri.


"Amoera..." Albert masih berdiri di ambang pintu seakan tak percaya.

__ADS_1


"Aku haus," ucap Amoera. suaranya masih terdengar lemah. Dengan langkah cepat, Albert segera melangkahkan kakinya mendekati pembaringan wanita itu.


"Amoera, kau benar-benar sudah sadar?" Albert memastikan kembali. namun, Amoera hanya diam menatap Albert dengan kedua mata yang tak berkedip.


"Aku haus." bibir Amoera berucap. kali ini ia berucap dan sama sekali tak mengeluarkan suara.


"Tunggu... tunggu di sini," Albert segera berlari keluar dari ruangan Amoera dan memanggilkan dokter. tak lama kemudian, laki-laki itu kembali dengan seorang dokter dan juga dua orang perawat.


Dokter segera memeriksa keadaan Amoera.


"Haus," Amoera memejamkan kedua matanya sembari menelan ludah di tengorokannya yang saat ini benar-benar mengering.


"Suster, tolong air mineral!" perintah Dokter. salah satu perawat itu mengambilkan gelas yang sudah berisi penuh air putih. ia meletakan sebuah sedotan putih ke dalam gelas itu. perawat lainnya membantu Amoera untuk duduk dan membantu meminumkan air itu. Amoera dengan cepat menghabiskan air putih itu dengan menggunakan sedotan. seusainya, ia menghela napas dengan lega. akhirnya air itu mampu membasahi tenggorokannya yang begitu kering. perawat itu kembali membantu Amoera untuk membaringkan tubuhnya.


"Nona Amoera, apa kepalamu masih sakit?" tanya Dokter. Amoera mengangguk, tangannya dengan reflek menyentuh bagian kepalanya yang ia rasa sakit.


"Tiga," ucap Amoera.


"Bagaimana, Dok. bagaimana keadaan Amoera?" tanya Albert.


"Tidak apa-apa, Tuan. Nona Amoera sudah sadarkan diri dari komanya. sekarang hanya tinggal tunggu pemulihan saja," ujar Dokter


Albert tersenyum lega, " Marvin pasti akan sangat senang."  Albert tersenyum sambil bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Nona Amoera, buatah istirahat!  besok, kami akan melakukan  CT scan pada bagian kepala Nona yang masih terasa sakit," ujar Dokter. Amoera mengangguk.


"Tuan, tolong temani Nona Amoera. jika ada sesuatu yang darurat, anda bisa tekan panic button," tutur Dokter kepada Albert. Albert mengiyakannya. Dokter dan perawat itu segera pergi dari ruangan Amoera.


"Amoera... akhirnya kau sadar," ucap Albert. laki-laki itu masih belum percaya.


"Di mana Marvin?" tanya Amoera.


"Marvin sedang beristirahat. selama kau koma dia selalu menunggumu. dia tidak mau meninggalkanmu sama sekali," kata Albert. ia terpaksa berbohong kepada Amoera. Amoera hanya diam saja.


"Aku koma?" tanya Amoera dengan pandangan polosnya.


"Iya, kau koma! kau koma selama 35 hari," ucap Albert. Amoera begitu tak peracaya. 35 hari bukanlah waktu yang pendek.


"Lama sekali?" ucap Amoera.


"Amoera, jangan banyak bicara. ayo istirahatlah!" perintah Albert. Amoera menganggukan kepalanya. ia kembali memejamkan kedua matanya sambil mengingat-ingat sebelum dirinya koma. tiba-tiba kedua matanya terbuka. tangannya bergerak menyentuh perutnya.


"Kau kenapa Amoera? kau membutuhkan sesuatu?" tanya Albert. Amoera menggeleng pelan kepalanya.


"Amoera, istirahatlah. aku mau menemui Marquez sebentar untuk memberitau bahwa kau sudah sadar." Amoera mengangguk. Albert segera beranjak berdiri dan pergi dari sana.


"Bukankah aku hamil? apa aku sudah melahirkan?" tanya Amoera. pertanyaan itu membuat tubuh Amoera lelah hingga wanita itu tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2