Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Rasa geram~ Amoera


__ADS_3

"Berani sekali, kau keluar tanpa seizinku?" teriak Marvin. Marvin berjalan menghampiri Amoera, dan menjauhkannya dari Danny. ia hendak menarik Amoera untuk membawanya pulang ke rumah. namun Danny menghentikan laki - laki itu.


"Lepaskan Amoera!" teriak Danny dengan begitu geramnya.


"Siapa kau berani - beraninya memerintahku?" seru Marvin.


"Lalu, kau sendiri siapa? hingga berani - beraninya melarang Amoera bertemu dengan siapapun, menyekapnya layaknya tahanan. kau bukan siapa - siapanya!" seru Danny.


"Kau tidak berhak ikut campur urusanku!" teriak Marvin dengan menggigil geram.


"Jelas aku berhak! Amoera temanku ... Kau tidak pernah tau bagaimana menderitanya Amoera sejak dirinya kecil. dan sekarang, kau semakin membuat hidupnya menderita. laki - laki macam apa kau ini? bahkan kau tidak pantas di sebut sebagai seorang laki - laki!


bukankah kau hanya menginginkan anakmu saja kan? setelah Amoera melahirkan anakmu, aku akan membawanya pergi darimu dan menikahinya!" seru Danny dengan penuh penekanan. Amoera begitu terkejut mendengar perkataan Danny. dan Marvin seketika itu  mengepalkan tangan kanannya nya  dan langsung  melayangkan kepalan tangan  itu tepat di wajah Danny. sontak Danny juga membalasnya. hingga membuat perkelahian antar Laki - laki itu. dan saat Marvin hendak memukul Danny lagi, Amoera melerainya.


"Marvin, aku mohon hentikan." Amoera menahan tubuh Marvin.


"Minggir," teriak Marvin, ia hendak endorong tubuh Amoera.


"Marvin, aku mohon jangan. aku mohon" Amoera mengatupkan kedua tangannya dengan sesenggukan karna menangis.


"Danny, tolong pergilah dari sini," pinta Amoera.


"Tapi, Amoera--"


"Danny, aku mohon, pergilah! jangan ikut campur masalah kehidupanku!" Amoera memerintah dengan setengah berteriak. dan sebelum Danny pergi dari sana. Marvin terlebih dulu menarik tangan Amoera dan mengajaknya kembali ke dalam rumah. bahkan suara teriakan Danny yang memanggil nama Amoera, masih terdengar begitu jelas. namun, Danny tidak bisa menghentikannya. karna ia takut jika Marvin akan memperlakukan Amoera dengan buruk.

__ADS_1


Marvin mengajak Amoera masuk ke dalam rumah. lalu, ia menutup dan mengunci rapat - rapat pintu rumah yang baru saja ia buka. ia menarik tangan Amoera masuk ke dalam kamar, lalu, ia menghempaskannya  dengan begitu  kasar, hingga membuat Amoera hampir saja terjatuh. ia mendekati Amoera dan mencengkram erat lengan Amoera.


"Marvin, lepaskan. tanganku sakit," pinta Amoera denga meronta. Marvin seketika itu langsung melepaskan tangannya dari Amoera.


"Wanita murahan! Aku sudah bilang berkali - kali, jangan keluar rumah dan bicara dengan siapapun, terutama dengan laki - laki itu!" teriak Marvin.


"Aku murahan di mananya? Danny hanya temanku. lagi pula, Kau tidak berhak melarangku, kau bukan siapa - siapaku," seru Amoera dengan wajah yang berderai airmata. Marvin pun semakin murka, ia mengepalkan tangannya dengan menahan rasa geram.


"Jelas aku berhak! karna kau sedang bersamaku. jadi kau harus menuruti apapun itu perintahku," teriak Marvin. hati Amoera begitu sesak.


"Aku akan menuruti semuanya, apapun itu yang kau mau aku akan menurutinya! dan setelah aku melahirkan anak ini, aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu."


"Aku berharap, di kehidupan selanjutnya, Tuhan tidak pernah mempertemukanku dengan orang sepertimu lagi." Amoera. berlalu meninggalkan Marvin dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Marvin hanya terdiam melihat wanita itu menangis di atas sana. Marvin memejamkan matanya dengan begitu bingung. ia keluar dari kamar Amoera. lalu, pergi ke dapur menyuruh Bi Lian untuk membawakan anggur untuknya.


Marvin pun duduk di sofa ruang tamu sembari menikmati anggur yang baru saja di sajikan oleh Bi Lian untuknya.


Bagaimana tidak? Marvin dengan begitu jelas melihat Amoera memeluk laki - laki itu. bahkan perkataan Danny begitu terngiang di telinganya. Marvin yang sedang memegang gelas anggur. kini ia menggenggamnya dengan begitu erat hingga membuat gelas anggur  tersebut hancur di tangannya. bahkan tak sedikit dari serpihan gelas itu melukai telapak tangan Marvin.


"Kenapa aku harus marah?" Marvin menahan teriakannya.


"Tuan, makan malamnya sudah siap." Bi Lian tiba - tiba menghampirinya.


"Bagaimana dengan dia?" tanya Marvin.


"Nona masih di dalam kamar, Tuan. saya sudah menyuruhnya untuk makan malam. tapi, Nona hanya diam saja," ucap Bi Lian. Marvin pun mengiyakannya dan menyuruh Bi Lian untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Marvin beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya pergi ke kamar Amoera. ia melihat Amoera sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Amoera langsung memalingkan pandangannya saat melihat Marvin masuk di dalam kamarnya tersebut.


"Makanlah," perintah Marvin. namun Amoera hanya diam saja.


"Amoera, cepat makanlah," perintah Marvin kembali.


"Nanti saja, aku masih belum lapar," saut Amoera tanpa melihat Marvin. Marvin pun kesal, ia berlalu hendak pergi dari kamar Amoera. dan Amoera meliriknya.


"Marvin tunggu," panggil Amoera. ia dengan cepat beranjak dari duduknya dan menghampiri Marvin.


"Ada apa?" tanya Marvin.


"Kenapa tanganmu? kenapa bisa  terluka seperti ini?" tanya Amoera seraya melihat telapak tangan Marvin yang masih mengeluarkan darah di sana.


"Bukan urusanmu," seru Marvin. ia menyaut tangannya dari Amoera.


"Kemarilah, aku akan mengobatinya," kata Amoera.


"Tidak perlu!" seru Marvin. namun Amoera memaksanya. ia menarik tangan laki - laki itu dan mendudukannya di tepi tempat tidur.


"Tunggulah di sini," kata Amoera. ia keluar dari kamar dan mencari kotak P3K. lalu, Amoera terlihat kembali ke kamar dengan membawa kotak obat tersebut.


Ia mendudukan tubuhnya di samping Marvin dan mulai mengobati lukanya yang masih basah. Marvin tak henti memperhatikan wajah wanita yang saat ini sedang sibuk mengobati lukanya. entahlah, kenapa ia begitu merasakan kekacauan yang berkecamuk di dalam dirinya.


"Apa kau akan menikah dengan laki - laki itu?" pertanyaan Marvin menghentikan aktivitas Amoera. kedua matanya yang sendu sejenak menatap Marvin.

__ADS_1


 


 


__ADS_2