Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Melanjutkan ~ Amoera


__ADS_3

Clarissa dan Marquez melepaskan pelukannya. Marquez memandangi wajah Clarissa yang masih menangis dan terlihat membengkak. jelas sekali, Clarissa masih merasakan sesak di hatinya.


"Aku akan segera menikahimu, kita tinggal bersama nanti di rumahku," tutur Marquez. kedua mata Clarissa yang sembab menatap Marquez. lalu, ia mengiyakan dan menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Sudah jangan menangis lagi," tutur Marquez seraya menyeka air mata Clarissa yang masih menderas di sana.


Clarissa, mengajak Marquez untuk melihat anaknya di dalam kamar. anaknya terlihat masih tertidur pulas. Marquez mencoba menggendong bayi tersebut. ia memandanginya dengan begitu seksama. ia benar - benar tak percaya bahwa dirinya sudah memiliki seorang anak.


ia tersenyum dan mengecup pipi anaknya itu. hingga bayi itu tersenyum dalam tidurnya.


"Kau sudah memberinya nama?" tanya Marquez.


"Aku belum memberinya nama. aku bingung," kata Clarissa.


"Kita beri nama Florencia saja," ujar Marquez.


"Iya, nama yang bagus," Clarissa tersenyum. dan menghapus air matanya karna terharu. ia benar - benar tidak menyangka akan adanya hari ini. sejak hari itu, ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk bisa hidup dengan Marquez. yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya agar bisa hidup berdua dengan putri kecilnya.


"Apa saudaramu bisa menerimaku?" tanya Clarissa. Marquez sejenak menatap Clarissa.


"Mereka pasti akan menerimamu," ujar Marquez seraya membelai lembut kepala Clarissa.


"Rissa," suara Nenek Tiny terdengar dari luar.

__ADS_1


"Iya, Nek." Clarissa menyautinya.


"Nenek sudah pulang, aku akan ke depan," pamit Clarissa. Marquez mengiyakannya.


Clarissa keluar dan ia melihat Nenek Tiny sedang membawa barang belanjaan. Clarissa sesegera mungkin membantu Nenek Tiny membawakan barang belanjaan tersebut.


"Maaf, ya, Nek. Rissa jadi tidak bisa membantu Nenek pergi ke pasar," ucap Clarissa dengan tidak enak hati.


"Tidak, apa - apa, Nak. ayo masuk," ajak Nenek Tiny. namun kedua mata Nenek Tiny terkesiap saat Melihat  Marquez yang baru saja keluar dari kamar Clarissa dengan menggendong anaknya.


"Rissa?" Nenek Tiny menunjuk Marquez. kedua matanya  memandang Clarissa dan Marquez secara bergantian. ia masih bingung melihat pemuda itu berada di rumahnya. apa kah Rissa sudah baikan? pikirnya seperti itu.


"Iya, Nek." Clarissa menganggukan kepalanya. Nenek Tiny mengerti apa yang telah di maksud oleh Clarissa. seketika itu, senyuman bahagia tertepis di guratan wajah wanita tua itu.


"Terimakasih banyak, Nenek. terimakasih sudah mau membantu Clarissa selama di sini. saya tidak bisa membalas budi baik, Nenek." Marquez menimpalinya.


"Tuhan yang mengirimkan Clarissa kemari, Nak. jadi sudah sewajarnya, jika Nenek membantunya," Nenek Tiny tersenyum.


***


Marvin pulang ke rumahnya. ia langsung menemui Elsa di kamarnya, karna waktu di tempat Amoera saat Elsa menelponnya . Elsa memberi tau bahwa dirinya sedang tidak enak badan. jadi, itu sebabnya Marvin buru - buru pulang dari tempat Amoera.


di kamar, Elsa terlihat sedang berbaring dengan balutan jaket tebal di tubuhnya. kedua matanya yang terpejam kini terbuka. saat ia melihat Marvin masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kak Marvin?" Elsa seketika langsung beranjak duduk. Marvin mendekati Elsa dan duduk di sampingnya.


"Kenapa bisa sakit?" tanya Marvin seraya menjulurkan tangannya di dahi Elsa.


"Tidak demam," imbuhnya.


"Entahlah, semalam kepalaku pusing sekali dan suhu badanku tinggi, tapi ini sudah turun," kata Elsa dengan suara melemas. ia menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya tersebut.


"Ayo kita ke dokter," ajak Marvin.


"Tidak, sayang. aku sudah lebih membaik daripada semalam. lebih baik aku istirahat saja di rumah," ucap Elsa dengan begitu manjanya.


"Kenapa semalam kau tidak menelponku kalau kau sedang sakit?" tanya Marvin.


"Aku sudah menelponmu di nomer biasanya, tapi, tidak ada yang mengangkat teleponnya." Elsa melingkarkan tangannya di tubuh Marvin dan bergelayutan dengan manjanya. Marvin ingat. semalam dirinya sedang menghabiskan malam dengan Amoera. jadi ia tidak dengar jika ada telepon. dan Bi Lian? mungkin Bi Lian semalam sudah tidur.


"Lebih baik kita ke dokter," ajak Marvin.


"Tidak usah, sayang. cukup melihatmu saja, aku sudah lebih membaik," Elsa menjauhkan tubuhnya.


"Sayang, bisakah kau mengambil cuti? temani aku di rumah selama beberapa hari ini, aku sangat kesepian," pinta Elsa dengan memelas. Marvin terdiam sejenak. ia memandang wajah Elsa. dan menyibakan rambut wanita itu.


"Iya, aku akan di rumah menemanimu," ucap Marvin. tiba - tiba pikirannya menangkap bayangan Amoera dengan sangat jelas. namun, jiwa Marvin mencoba menyangkalnya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang." Elsa memeluk erat tubuh Marvin. namun Marvin tidak membalas pelukan itu. ia menyuruh Elsa untuk beristirahat. dan ia berlalu meninggalkan Elsa sebentar. untuk pergi ke kamar Alice.


__ADS_2