
Setelah bayi Clarissa dirasa cukup tenang oleh perawat , perawat itu pun mengajaknya untuk keluar dari ruangan dan membawanya ke ruang bayi . Marquez masih memperhatikan bayi mungil itu hingga tak terlihat dari pandangan matanya , kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali kepada Clarissa .
" Beritau aku dimana suamimu berkerja ? " tanya Marquez .
" Dimana dia bekerja itu bukan urusanmu ! seperti aku yang tidak ikut campur masalah kehidupanmu , jadi ku mohon jangan ikut campur masalah kehidupanku " ucap Clarissa . marquez terdiam sejenak .Marquez mencengkram erat lengan Clarissa kembali .
" Tatap mataku dan katakan kepadaku apa benar kau sudah menikah ? " tanya Marquez seraya menatap kedua mata Clarissa secara bergantian . Clarissa mempercepat hela'an nafasnya karna ia bingung kenapa Marquez mempertanyakan hal ini .
" Kenapa kau diam saja ? kenapa semua teman - temanmu bilang kau belum menikah ? siapa ayah dari bayi itu ? " seru Marquez . Clarissa melelehkan air matanya ketika mendengar pertanyaan terakhir dari mulut Marquez . hati kecil Clarissa meronta dan berteriak memberitaukan bahwa ayah dari anak itu ialah Marquez . namun mulut Clarissa seolah membisu dan sulit untuk mengatakan semuanya .
" Marquez sakit , lepaskan tanganku " pinta Clarissa .
" Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau menjawab pertanyaanku ? " ucap Marquez . Namun Clarissa tak bergemming dan hanya menangis . Marquez dengan kasar menghempaskan tangan Clarissa
" Baiklah jika kau tidak ingin memberitahunya , aku akan mencari tau sendiri kebenarannnya ! " seru Marquez .
" Kebenaran apa ? kebenaran tentang suamiku ? atau kebenaran tentang anakku ? apa yang sebenarnya kau inginkan Marquez ? setelah kau mengetahui kebenarannya kau mau apa ? jika kau masih menaruh dendam atas kematian ayahmu , kau boleh membalasnya kepadaku aku rela menggantikan nyawanya untuk menebus semua kesalahan yang telah dilakukan oleh kakakku ! tapi aku mohon jangan mengusik kehidupanku ! " teriak Clarissa . tangisannya semakin memecah . rasanya ia begitu sakit berbicara seperti itu . Marquez hanya bisa memperhatikan Clarissa yang kini tengah menangis di hadapannya , ia mencoba menelan ludahnya dengan susah payah . entah lah Marquez harus menjawab apa .
__ADS_1
Tanpa berkata Marquez pun pergi meninggalkan Clarissa dengan pikiran yang masih penuh dengan pertanyaan - pertanyaan konyol .
Pertanyaan yang seharusnya tak ia tanyakan , untuk apa ia bertanya ? untuk apa ia sebegitu ingin tau tentang kebenaran suami Clarissa , tentang kebenaran anak yang baru saja wanita itu lahirkan .
Dada Marquez terasa begitu sesak dan kepalanya serasa penuh memikirkan ini semua . ia semakin mempercepat langkah kakinya menuju ke dalam mobil miliknya , kini Marquez sudah berada didalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil tersebut dan ia melajukan nya dengan kecepatan maksimal .
" Aku harus mencari tau apa benar dia sudah menikah , dan anak itu-- ? yatuhan " gumam Marquez ia mengusap kasar wajahnya dengan sedikit berteriak .
Amoera tengah sibuk berada di dapur karna pagi itu rasanya ia ingin sekali membuat kue kelapa , karna sudah lama sekali ia tak membuat kue itu kue kesukaan ayahnya , dulu waktu ayah Amoera masih ada , ia selalu membuat kan ayahnya kue kelapa setiap hari . Amoera membuat adonan dengan menepiskan senyumannya mengingat ingat masa masa saat bersama ayahnya meskipun hidup dengan kekurangan namun itu tak membuat Amoera merasa menderita , justru ia begiu bahagia . namun tiba tiba wajah Amoera bersedih saat kenangan bersama ayahnya berakhir begitu saja . setelah kepergian ayahnya , hari - hari yang Amoera lewati setiap hari nya terasa begitu suram dan menyakitkan . terlihat jelas ia menahan air yang tengah bersarang di kedua matanya tersebut .
" Nona biar bibi bantu " pinta bi Lian . suara bi Lian membuyarkan lamunan Amoera .
__ADS_1
" Tidak usah bi , Amoera ingin membuat kue ini sendiri " ucap Amoera seraya menepiskan senyum di wajah cantiknya .
" Baiklah nona " saut bi Lian . kemudian bi Lian berpamitan kepada Amoera untuk mencuci baju di belakang rumah , dan Amoera pun mengiyakannya .
Saat Amoera tengah di sibukan dengan memanggang adonan kue tersebut tiba tiba ada dua tangan yang melingkar di perutnya hingga membuat Amoera begitu terkejut . Amoera pun membalikan badannya . dan ia tersenyum saat tau sang pemilik tangan ialah Alice .
" Alice , kau kemari .. kau mengagetkanku saja " ucap Amoera .
" Iya , aku sangat merindukanmu " ucap Alice , kedua mata Amoera melihat ke arah Marvin yang baru saja datang dan berdiri di belakang tubuh adiknya .
" Lezat sekali , bau apa ini ? " tanya Alice , ia mengendus dengan indra penciumannya .
" Aku membuat kue kelapa " ucap Amoera .
" Kau membuatkannya untuk kakakku ? " tanya Alice dengan begitu riangnya .
" Eh-hm , tidak aku hanya ingin membuatnya sendiri " ucap Amoera .
__ADS_1
" Aku kira kau membuatkan kue kelapa untuk kak Marvin , karna kak Marvin dari kecil sangat suka sekali dengan kue kelapa " seru Alice . Marvin pun kini memandang Amoera begitu juga Amoera . mereka berdua sejenak beradu pandang , namun Amoera terlebih dulu mengakhiri pandangan itu dan mempersilahkan Alice untuk duduk .