Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Membuntuti ~ Amoera


__ADS_3

Elsa bersiap - siap dan segera keluar menemui Bobby di jalanan dekat pasar, di mana tempat setiap kali dirinya dan laki - laki itu berjanjian untuk bertemu.


saat melihat mobil Bobby, Elsa segera masuk ke dalam sana.


"Kita mau ke mana?" tanya Bobby.


"Ke tempat kerjanya Marvin. aku mau memastikan dia di sana." Bobby mengiyakannya, ia segera melajukan mobilnya menuju ke alamat yang baru saja Elsa sebutkan.


 


 


***


Mobil Bobby berjalan perlahan, karna ia sudah mendekati alamat di mana tempat Marvin bekerja.


"Apa ini tempat kerjanya?" tanya Bobby. Elsa mengiyakannya. kedua matanya mengawasi sekitar tempat itu.


"Mana dia?" tanya Bobby.


"Entahlah," Elsa masih mencari kekasihnya itu di dalam mobil tersebut.


"Sudahlah, Elsa. untuk apa kau mengharapkan laki - laki itu. dia tidak mungkin bekerja." Bobby mencoba menghasut pikiran Elsa.


"Diamlah!"


Kedua mata Elsa dari kejauhan menangkap Marvin yang baru saja keluar dari tempat itu dan sedang berbincang dengan seorang laki - laki berpakaian rapi.


"Itu dia, dia benar - benar pergi bekerja." Elsa menghela napas dengan sangat lega. Bobby seakan tak senang melihatnya.


"Ayo kita kembali!" ajak Elsa.

__ADS_1


"Tunggu, Elsa. dia sepertinya mau pergi." Bobby mencoba membaca gerak - gerik Marvin yang hendak mengakhiri percakapan dengan laki - laki itu. dan perkataan Bobby benar. Marvin berlalu mengakhiri percakapannya dengan laki - laki itu dan  berjalan menuju ke arah parkiran mobil.


Tak lama kemudian, terlihat mobil Marvin keluar dari sana, "Mau pergi ke mana dia, Elsa? lebih baik kita mengikutinya." Elsa dengan cepat mengiyakan perkataan Bobby. Bobby segera mengikuti mobil Marvin dengan jarak 10 meter di bekalangnya.


Kini mobil Marvin yang sedari tadi di ikuti oleh Bobby terhenti di depan sebuah rumah kuno bertingkat dua lantai.  Bobby menjauhkan mobilnya agar tidak terlihat oleh Marvin.


"Rumah siapa ini, Elsa?" tanya Bobby sembari memperhatikan bangunan rumah itu.


"Entahlah, aku tidak tau." Elsa hanya menggeleng kepalanya. ia juga sama dengan Bobby memperhatikan bangunan rumah yang asing di kedua matanya itu.


"Aku akan turun!" Elsa melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil itu.


"Jangan bodoh! tunggu di sini dan kita pastikan dulu!" Bobby menahan tubuh Elsa. Elsa mengurungkan niatnya dan mengikuti perintah Bobby untuk tetap berada di dalam mobil dan mengawasi Marvin dari kejauhan.


 


 


***


Amoera terlihat sedang duduk di meja rias sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk berwarna putih.  Amoera menghentikan aktivitasnya saat melihat pantulan tubuh Marvin di cermin itu.


"Bagaimana tidurmu semalam? apa nyenyak?" tanya Marvin sembari memegang kedua pipi mulus Amoera. Amoera hanya mengangguk tanpa bersuara. ia menghindari Marvin dan duduk di atas tempat tidur sambil menyisir rambutnya yang baru saja ia keringkan.


"Amoera?" Marvin duduk mendekati Amoera dan memegang bahunya.


"Marvin, aku sedang hilang minat untuk berbicara. tolong jangan banyak bicara." Amoera menjauhkan bahunya dari Marvin.


"Baiklah, aku tidak akan banyak bicara hari ini." Marvin menunjukan wajah sedikit kecewa akibat sikap Amoera terhadapnya. kedua matanya memperhatikan Amoera yang sedang sibuk menyisir rambutnya.


 

__ADS_1


"Permisi, Nona Amoera, Tuan Marvin. Bibi mau ke pasar. apa ada sesuatu yang mau di  beli?" tanya Bi Lian yang tiba - tiba menongol begitu saja di ujung pintu.


"Tidak ada, Bi." Amoera dan Marvin menyautinya secara bersama.


"Baik, Bibi pamit pergi ke pasar dulu." Bi Lian segera pergi meninggalkan tempat itu. tiba - tiba Amoera membayangkan lezatnya memakan  sebuah coklat. ia menelan ludahnya seakan sedang menikmati coklat lezat tersebut.


"Marvin, apa aku boleh meminta uang?"


"Tentu saja." Marvin mengambil dompet miliknya yang terselip di dalam saku celana dan mengambilkan Amoera beberapa lembar uang dari dalam dompet itu.


"Terimakasih, sebentar aku ke depan. aku ingin titip sesuatu kepada Bi Lian." Amoera dengan langkah kaki yang sudah mulai memberat, berusaha  berjalan cepat untuk mengejar Bi Lian. untung saja Bi Lian masih ada di depan halaman rumah.


"Bi Lian..." Bi Lian segera menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Amoera memanggilnya.


"Nona? ada apa, Nona?" tanya Bi Lian.


"Bi, saya titip coklat." Amoera memberikan Bi Lian uang yang sempat di berikan oleh Marvin tadi.


"Nona Amoera, saya kira ada apa. ternyata mau titip coklat." Bi Lian tersenyum dan mengusap bahu Amoera.


"Iya, Bi saya ingin sekali memakan coklat."


"Baiklah, Nona. saya akan membelikannya nanti. saya tinggal dulu ya, Nona." Amoera mengiyakannya dan Bi Lian melanjutkan kembali perjalannya.


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2