
Dan saat Danny sudah pergi dari sana. Amoera merasa ketakutan. ia takut jika Marvin akan marah kepadanya dan berbuat kasar kepadanya. karna terlihat jelas sekali. Marvin begitu marah akan kedatangan Danny.
"Marvin?" Amoera memanggilnya dengan pelan seraya mengusap air matanya yang mentes dengan jarang. Marvin menatapnya dengan tatapan murka. ia menarik tangan Amoera dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Marvin, lepaskan tanganku." Amoera memohon. Marvin melepaskan tangan Amoera dan menghentakannya dengan kasar.
"Apa selama dua hari ini aku tidak di sini kau menemui laki - laki itu?" teriak Marvin. Amoera menangis dan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Aku tidak menemuinya, Marvin, aku bersumpah." air mata Amoera semakin menderas.
"Kau jangan membohongiku!" teriak Marvin. Amoera hanya bisa menangis melihat Marvin berteriak seperti itu kepadanya. tapi, bukankah dia sudah terbiasa melihat amarah laki - laki itu.
"Aku sama sekali tidak menemuinya. sekalipun aku menemuinya, kau tidak berhak marah seperti ini kepadaku." Amoera mencoba memberanikan diri berbicara seperti itu.
"Aku sudah bilang kepadamu. jika kau bersamaku kau harus mengikuti semua perintahku!" Marvin semakin mengeraskan suaranya.
"Kalau dia masih berani menemuimu lagi. aku tidak akan segan melukainya," imbuh Marvin.
"Jangan melukainya, Marvin. dia temanku. aku mohon." Amoera mengatupkan kedua tangannya bahkan air matanya mengalir jatuh dari dagunya dan membasahi tangannya tersebut.
"Kau memohon sampai seperti itu? sebegitunya kau menyukai laki - laki itu?" tanya Marvin. Amoera menggeleng - gelengkan kepala. namun, tiba - tiba Amoera mengernyitkan dahinya. ia merasakan perutnya begitu kencang.
"Marvin," Amoera mencengkram erat lengan Marvin menahan perutnya yang semakin mengencang.
"Amoera kau kenapa?" tanya Marvin ia begitu panik. Amoera memejamkan matanya semakin mencengkram erat lengan Marvin.
"Amoera, apa kau baik - baik saja?"
__ADS_1
"Bi Lian ..." teriak Marvin.
"Bi Lian cepat kemarilah."
"Amoera jangan membuatku takut seperti ini, kau kenapa?" tanya Marvin.
"Perutku." Amoera menelan ludahnya seraya memejamkan matanya. ia masih mencengkram erat lengan Marvin. hingga membuat Marvin merasa kesakitan. namun, Marvin tak mempedulikannya. Bi Lian pun datang menghampiri Amoera dan Marvin.
"Nona Amoera kenapa, Tuan?" tanya Bi Lian sembari ikut memegangi Amoera. tiba - tiba rasa sakit itu sirna. Amoera perlahan membuka kedua matanya dan melepas cengkraman tangannya.
"Amoera ayo kita ke dokter," ajak Marvin. Amoera masih mengatur napasnya.
"Aku baik - baik saja, perutku tadi rasanya kencang sekali," ucap Amoera.
"HPL Nona Amoera masih beberapa bulan lagi , Tuan. kemungkinan ini hanya kontraksi kecil," tutur Bi Lian.
"Aku baik - baik saja, aku mau istirahat." Amoera berjalan menuju ke kamar dan Marvin mencoba membantunya.
"Aku bisa jalan sendiri," Amoera menepis tangan Marvin.
"Bi Lian ..." Amoera memanggil Bi Lian. ia memegang tangan wanita paru baya itu. dan Bi Lian membantu Amoera berjalan masuk ke kamar. dan ia membantu Amoera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Marvin pun mengikutinya.
"Kaki Nona bengkak," Bi Lian mengambil bantal dan meletakan kaki Amoera di atas bantal itu.
"Saya akan membuatkan teh untuk Nona," Bi Lian berlalu meningalkan kamar Amoera. Marvin duduk di samping Amoera.
"Apa perutmu masih sakit?" tanya Marvin seraya menyentuh perut Amoera.
__ADS_1
"Sudah tidak," jawab Amoera.
"Maafkan, aku. tidak seharusnya aku berteriak seperti itu kepapamu," ucap Marvin.
"Marvin ... tolong jangan melukai Danny," pinta Amoera. Marvin memejamkan matanya dan menghembuskan nafas dengan rasa geram.
"Jangan membahas itu lagi!" seru Marvin. Amoera seketika membungkam.
"Tunggulah di sini." Marvin berlalu meninggalkan Amoera dan pergi ke dapur menemui Bi Lian. di sana Bi Lian terlihat sedang sibuk membuat teh hangat untuk Amoera.
"Bi Lian, tolong pergilah ke pasar belikan Amoera beberapa baju yang cukup besar untuknya," perintah Marvin seraya menyodorkan beberapa lembar uang kepada Bi Lian.
"Baik, Tuan." Bi Lian menerima uang yang di berikan oleh Marvin. Marvin mengambil alih pekerjaan Bi Lian. Dan saat Bi Lian hendak berangkat ke pasar. namun, ia melupakan sesuatu untuk berbicara kepada Marvin.
"Tuan Marvin. Sudah dua hari ini, Nona sulit makan. Bahkan, makanannya selalu tersisa banyak," ujar Bi Lian.
"Kenapa dia tidak mau makan, Bi?" tanya Marvin.
"Entahlah, Tuan. mungkin karna tidak ada Tuan. karna, dari kemarin Nona selalu menanyakan, Tuan." ucap Bi Lian.
"Menanyakan saya?" tanya Marvin seolah tidak percaya.
"Iya, Tuan. dari kemarin Nona menanyakan Tuan Marvin." Marvin pun terdiam sejenak.
"Selama 2 hari ini, teman laki - laki Amoera apa kemari, Bi?" tanya Marvin.
"Iya, Tuan. kemarin teman Nona kemari. Tetapi, Nona tidak mau menemuinya. Jadi saya yang menemuinya dan bilang kalau Nona Amoera sudah tidak tinggal di sini, Tuan. Tapi rasanya pemuda itu tidak percaya.
__ADS_1
"Ya sudah, Bi. Terimakasih," ucap marvin. Bi Lian kembali melanjutkan perintah Marvin untuk pergi ke pasar.