
Amoera pun masuk kedalam ruangan dokter , dokter menyuruh amoera untuk berbaring di atas pembaringan . Sementara marvin duduk menunggu di depan meja dokter . Dokter pun masih sibuk memeriksa amoera .
" nona kau boleh turun " pinta dokter . Ia turun dan duduk di meja dokter dan berdampingan dengan marvin .
" kapan nona terakhir kali haid ? " tanya dokter . Amoera terdiam dan mengingat ingatnya .
" saya lupa dok " ucap amoera dengan menggelengkan kepalanya .
" apa bulan lalu andai haid ? " tanya dokter kembali , amoera mengernyitkan dahi dan mencoba mengingatnya kembali .
" ehmm saya rasa tidak dok , tapi bulan sebelumnya saya haid . memangnya kenapa dok ? " tanya amoera .
" anda sekarang tengah hamil dan perkiraan usia kandungan anda memasuki 4 minggu . Selamat ya nona .. tuan " ucap dokter sembari menepiskan senyumnya .
Deg
Deg
Deg
Deg
Amoera pun terkesiap mendengar pernyataan dari dokter baru saja , Serasa Bagai disambar petir . Jantungnya seakan berhenti berdetak . Begitu juga marvin , ia juga terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh dokter .
" tidak mungkin " gumam amoera lirih . Nafasnya tersengal sengal , ia tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa dirinya tengah mengandung anak dari laki laki yang di anggap bajingan olehnya .
Lagi lagi ia harus menelan pil pahit ,
Tengkuk amoera seakan terhantam benda berat hingga dirinya tiba tiba terjatuh dari duduknya.
" amoera " teriak marvin , ia menghampiri amoera dan hendak mengangkat tubuhnya .
" tuan lebih baik kau letakan istri anda diatas pembaringan " pinta dokter .
" tidak usah dok saya akan membawa dia pulang ! Terimakasih " kata marvin seraya mengangkat tubuh amoera .
" tapi tuan .. " ucap dokter . Namun marvin tak menghiraukannya , ia berlalu menggendong tubuh amoera menuju mobilnya , ia memasukan amoera kedalam mobil dan melajukan mobil tersebut dengan sangat kencang
" ini tidak mungkin " gumam marvin , sembari kedua matanya melihat ke arah amoera yang tengah tak sadarkan diri .
" aku harus bagaimana , dia .. dia .. tengah hamil anakku , ini tidak mungkin " gumamnya lagi .
__ADS_1
* Di rumah marquez
Tok .. Tok .. Tok .. (alice mengetuk pintu kamar amoera)
" amoera " panggil alice seraya tangannya tak henti mengetuk pintu yang tengah ada di hadapannya namun tidak ada sautan sama sekali dari dalam kamar amoera , alice pun terpaksa masuk kedalam kamar .
Ceklek (pintu kamar terbuka)
Alice pun masuk namun tidak terlihat amoera di dalam kamar itu .
" amoera .. " teriak alice
" amoera where are you ? " teriaknya lagi .
Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar amoera . Terlihat pintu kamar mandi itu tertutup .
" amoera .. Apa kamu di dalam ? " panggil alice . Ia mencoba mengetuk pintunya
Tok .. ( baru satu ketukan , pintu kamar mandi itu sudah terbuka sendiri )
" dimana amoera ? Di kamar mandi juga tidak ada ,di luar juga tidak ada " gumam alice , ia hendak keluar dari kamar amoera namun kedua matanya melirik ke arah meja yang ada secarik kertas yang tertindih vas bunga di atasnya .
Alice pun meraih kertas itu , kertas itu tak lain ialah sebuah surat . Alice pun mulai membacanya . Matanya terbelalak melebar saat membaca isi dari surat itu .
" Kakkaaakkkkkkk " teriak alice
" kak marquez " teriaknya kembali . Marquez , albert dan elsa yang kalah itu tengah menikmati sarapan di dapur , saat mendengar teriakan alice , mereka pun langsung menghampirinya .
" alice ada apa kau berteriak ? " tanya marquez .
Dear :
Alice
Tuan albert
Tuan marquez
Aku pamit pergi dari rumah kalian aku tidak bisa terus menerus merepotkan kalian disini , terimakasih sudah mau menerima ku dengan baik , aku akan sangat merindukan kalian
Amoera
Surat itu bukan amoera sendiri yang menulisnya , melainkan marvin .
Karna saat sebelum menyuruh pesuruhnya menculik amoera dari kamarnya . Ia menyuruh pesuruh itu untuk meletakan surat tersebut diatas meja bermaksud agar orang rumah tidak curiga .
__ADS_1
" alice .. Ini sudah menjadi pilihan amoera " ucap marquez
" tidak .. Alice mau amoera , tolong cari dia kak " pinta alice memohon . Air matanya masih menderas , terlihat jelas jika alice sangat menyayangi amoera karna selama ini dirinya tidak mempunyai teman maupun saudara perempuan , bahkan meskipun dirinya mempunyai calon kakak ipar . Tapi alice merasa kedua calon kakak iparnya sangat berbeda dengan amoera .
" alice .. kita tidak mungkin memaksa amoera " saut albert
" kakak .. Alice mohon cari amoera , alice mau amoera " pinta alice kembali sembari mengatupkan kedua tangannya .
" alice " ucap marquez lirih , ia mencoba membuat adik perempuannya untuk mengerti .
" kakak alice mohonnn " pintanya lagi .
" baiklah .. Kakak akan mencarinya tapi kau harus makan dulu " pinta marquez , alice pun mengiyakannya
Sementara amoera , ia mengerjapkan kedua matanya kini ia tengah sadar dan mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar .
Dan ia melihat marvin sedang duduk di atas kursi yang ada di dalam kamar tersebut .
Melihat amoera sadar , marvin pun menghampirinya .
" aku dimana ? " tanya amoera .
" aku menyewa sebuah rumah untuk sementara waktu kau tempati " ucap marvin . Amoera mengingat ingat kembali saat dirinya belum sadarkan diri . saat dirinya mengingat kembali semuanya , ia langsung begitu histeris .
" tadi aku .. aku tidak mungkin hamil " gumam amoera .
" tidak mungkin " teriak amoera dengan histeris
" amoera tenanglah .. " teriak marvin .
" aku tidak mungkin hamil , kau sudah menghancurkan hidupku , aku membencimu aku tidak mau anak ini " teriak amoera .
Marvin memejamkan mata dengan kebingungan .
" aku akan menggugurkan anak ini " ucap amoera , ia beranjak dari tempat tidurnya . Marvin mencengkram bahu amoera
" kalau kau berani menggugurkan anak itu . Kau akan tau apa akibatnya ! Kau harus melahirkan anak itu baru aku akan melepaskanmu " teriak marvin .
" aku tidak mau .. aku tidak peduli ! Aku tidak sudi mengandung anak dari bajingan seperti dirimu , aku tidak sudi " teriak amoera tangisannya semakin menjadi jadi . kedua tangan marvin mencengkram lengan amoera dengan begitu erat .
" kau berani berbicara seperti itu lagi aku akan membunuhmu ! " teriak marvin
" bunuh saja aku ! aku sudah berkali kali bilang kepadamu bunuh aku ! lebih baik aku mati dari pada aku harus mengandung anak dari bajingan seperti dirimu " teriak amoera
PLAKK (satu tamparan tangan marvin mendarat di pipi amoera )
Amoera tak berkutik saat marvin menamparnya , ia menjatuhkan dirinya duduk di bawah lantai dan menangis sejadi jadinya , baru saja ia hampir terlepas dari marvin dan menghirup udara kebebasan . Namun kini lagi lagi takdir harus menahannya di lingkaran yang sama .
__ADS_1