Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Merindukan ~ Amoera


__ADS_3

Marvin membawa nampan yang di atasnya berisi teh, air putih dan juga makanan. Ia membawa nampan itu masuk ke dalam kamar Amoera


Lalu, ia mendudukan tubuhnya di samping wanita itu.


"Minumlah," Marvin membantu memberikan teh kepada Amoera. dan Amoera meminum teh tersebut.


"Ayo makan. Aku akan menyuapimu." Marvin mencoba menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Amoera.


"Aku tidak mau makan." tolak Amoera. rasanya ia ingin mual saat melihat makanan itu.


"Sedikit saja, buka mulutmu!" perintah Marvin.


"Marvin aku tidak mau. nanti saja aku makan," Amoera menolaknya kembali. Namun, Marvin tetap saja memaksanya hingga Amoera terpaksa membuka mulutnya dan memakan makanan itu. Amoera mengunyah dengan menahan rasa mual. dan saat hendak menelannya. Ia langsung menggembungkan mulutnya dan hendak memuntahkan makanan itu.


Amoera hendak turun dari tempat tidur karna ingin pergi ke kamar mandi. namun Marvin menahan tubuh Amoera.


"Buanglah saja di sini," Marvin meletakan makanan itu di atas meja dan menadahkan tangannya agar Amoera membuang makanan tersebut di tangan Marvin. Amoera menggelengkan kepalanya. ia semakin merasakan mual.


"Tidak apa-apa, jangan turun dari tempat tidur. Kakimu masih bengkak," tutur Marvin. Amoera yang tak kuasa menahan rasa mualnya. Seketika itu pula ia langsung memuntahkan makanan tadi di tangan Marvin.


"Marvin, maaf."


"Tidak apa - apa, tunggu di sini. Aku akan ke kamar mandi." tanpa rasa jijik Marvin beranjak berdiri dan ia membuang muntahan itu ke dalam sampah dan lekas mencuci tangannya. Lalu, ia kembali menghampiri Amoera.


"Aku tidak mau makan lagi Marvin. tolong jangan memaksaku," pinta Amoera.


"Kenapa kau tidak mau makan?" tanya Marvin.


"Kata Bi Lian, kau juga tidak mau makan dari kemarin." imbuhnya.


"Aku kemarin makan, nanti kalau aku lapar aku pasti makan," ucap Amoera.


"Ya sudah istirahatlah," perintah Marvin. Amoera pun mengiyakannya dan merebahkan tubuhnya yang ia rasa begitu lelah.

__ADS_1


***


Malam harinya, Amoera memakai baju yang sempat di belikan oleh Bi Lian di pasar. Baju itu terlihat kedodoran di tubuh Amoera. Namun, setidaknya, ia begitu nyaman mengenakan baju itu daripada baju lamanya.


"Ini sedikit lebih nyaman," Amoera bediri di depan cermin dan melebarkan baju yang sudah ia kenakan tersebut.


"Amoera..." Marvin terlihat masuk ke dalam kamar Amoera dan membawakan mangkuk yang berisi sup untuknya.


"Marvin, kau masih di sini?" tanya Amoera.


"Iya, ayo kemarilah. makan sup ini." tangan kiri Marvin memegang sup itu dan tangan satunya menarik tangan Amoera untuk menggiringnya duduk di atas tempat tidur.


"Ayo, aku akan menyuapimu." Marvin duduk di samping Amoera.


"Aku akan makan sendiri," Amoera mengambil alih sup itu dari tangan Marvin dan mulai memakannya. Amoera memakan sup itu menggunakan sendok bebek, sesuap demi sesuap. Kedua mata Marvin tak lepas memandangi Amoera hingga membuat wanita itu tak nyaman.


"Alu sedang makan jangan memandangiku," pinta Amoera seraya memakan sup itu. Marvin pun tersenyum.


"Aku tidak memandangimu," kata Marvin sembari merapikan rambut Amoera yang berantakan.


"Ada di laci," ucap Amoera. Ia masih sibuk memakan sup itu. Marvin beranjak membuka laci dan meraih salah satu ikat rbut yang terletak di dalam sana. Ia pun mengikat rambut Amoera dengan sembarangan. Amoera pun tak menghiraukannya ia masih sibuk menikmati sup itu hingga habis.


"Apa aku boleh meminta supnya lagi?" pinta Amoera dengan penuh harap.


"Tentu saja. Tunggulah di sini aku akan mengambilkannya lagi untukmu." Marvin beranjak berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambilkan Amoera sup lagi. Tak lama kemudian, Marvin kembali lagi dengan membawa mangkuk yang sudah berisi sup di tangannya.


"Mau aku suapi?" tanya Marvin.


"Tidak, aku makan sendiri saja." Amoera megambil mangkuk sup itu dan memakannya dengan cepat hingga membuatnya tersedak.


"Hati - hati makannya, kau seperti anak kecil saja, " Marvin mengambil gelas air minum dan membantu Amoera untuk minum. Amoera melanjutkan kembali makannya hingga habis.


"Aku sudah kenyang." Amoera memberikan mangkuk sup yang sudah kosong itu kepada Marvin. Marvin tersenyum gemas sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana tidak kenyang. Kau sudah menghabiskan dua mangkuk sup," ucap Marvin. Ia mengembalikan mangkuk itu ke dapur. lalu, ia menemui Bi Lian di dalam kamarnya


"Bi Lian, nanti jika ada telepon dari Elsa. tolong bilangkan jika saya tidak ada," perintah Marvin.


"Tuan Marvin mau pergi?" tanya Bi Lian.


"Tidak, saya akan di sini menemani Amoera," ucap Marvin.


"Baiklah, Tuan." Bi Lian mengiyakan perintah Marvin dan Marvin kembali lagi ke kamar Amoera.


Marvin masuk ke dalam kamar Amoera dan menutup pintunya. ia melihat Amoera sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Marvin mendudukan tubuhnya di samping wanita itu.


"Kau kenapa masih di sini? Kau tidak pulang?" tanya Amoera sembari beranjak duduk dan Marvin mencoba membantunya.


"Kau tidak ingin aku temani di sini?" tanya Marvin sembari menatap kedua mata Amoera secara bergantian. Namun, Amoera hanya diam dan menatap Marvin.


"Kalau kau tidak ingin aku temani aku akan pergi," kata Marvin. Ia hendak beranjak berdiri.


"Jangan pergi!" Amoera menarik tangan Marvin. Marvin pun tersenyum dan mengurungkan niatnya.


"Yasudah, ayo tidurlah, aku akan menemanimu." Marvin mengajak Amoera untuk tidur dan ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Amoera seraya memeluk Amoera dengan sangat erat seakan ia menemukan kenyamanan saat dengan wanita itu. Amoera mencari posisi ternyamam. hingga kini dirinya tidur saling berhadapan dengan Marvin.


"Apa Elsa tidak mencarimu?" tanya Amoera dengan tatapan sendunya.


"Tidurlah!" perintah Marvin. Entahlah, saat bersama Amoera. Ia kehilangan selera jika mendengar nama Elsa. Marvin memejamkan kedua matanya tanpa menjawab pertanyaan Amoera. Amoera memperhatikan wajah Marvin dengan seksama.


"Kapan kau akan menikah dengan Elsa?" tanya Amoera lirih. namun. Marvin hanya diam saja.


"Marvin?" panggil Amoera.


"Jangan banyak bertanya cepat tidurlah!" seru Marvin tanpa membuka matanya.


Amoera pun mengiyakannya. Ia tidur dengan menenggelamkan wajahnya di dada Marvin. bahkan, aroma khas tubuh laki - laki itu tercium sangat tajam di indera penciumannya. Dan di posisi inilah amoera merasa sangat nyaman untuk tidur. Marvin membuka kedua matanya dan memperhatikan Amoera yang kini sudah tertidur dalam dekapannya.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa merindukan dia seperti ini?" gumam Marvin dalam hati. Ia semakin mempererat pelukannya seraya mencium kening Amoera.


__ADS_2