
Tak lama kemudian, perawat tadi kembali lagi dengan dua orang dokter dan sangat terburu - buru masuk ke dalam ruangan Amoera.
"Kakak... apa Amoera akan baik-baik saja?" suara Alice di campuri dengan tangisan yang terisak - isak.
"Kita berdoa saja," tutur Marquez memeluk erat adiknya tersebut supaya tenang.
"Alice, ayo kita duduk." Clarissa merengkuh bahu Alice dan menggiringnya untuk duduk di kursi tunggu.
"Tolong selamatkan, Nona Amoera, Tuhan. dia gadis baik. dia sudah banyak menderita, saya sudah menganggapnya seperti anak saya. tolong kasihanilah saya." Bi Lian, menangis di ujung sana sembari bibirnya tak henti berdoa. Demi Tuhan, Bi Lian juga merasa ngilu saat melihat Amoera yang terluka seperti itu.
Sementara, Marvin tak henti mondar-mandir di depan ruangan Amoera.
ia begitu cemas menantikan kabar tentang kondisi Amoera yang tidak tau bagaimana nasibnya di dalam sana. Marquez mendekati adik laki - lakinya itu dan menepuk bahunya. membuat kaki Marvin yang mulanya berjalan ke sana - kemari tiba - tiba terhenti.
"Kenapa kau tidak memberi tau Kakak kalau Amoera sedang hamil?" tanya Marquez. namun Marvin yang di landa kecemasan tak bisa menjawab dengan ramah setiap pertanyaan Kakaknya tersebut.
"Apa Kakak bisa tidak menanyakan hal semacam ini di saat seperti ini?" seru Marvin dengan kesal.
"Kakak benar - benar sudah tidak mengenalimu, Marvin. seherusnya kau memberi tau Kakak." Marvin hendak menyauti perkataan Kakaknya. namun, ia mengurungkannya saat melihat Dokter keluar dari ruang operasi. Marvin dengan tubuh gemetar menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana Amoera dan anak saya, Dok?" tanya Marvin dengan panik.
"Tuan, kami minta maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan anak anda. karna bayi Nona Amoera terlalu banyak menelan air ketuban," ucap Dokter. Marvin begitu terkesiap. tubuhnya melemas seketika. seakan saat ini ada seseorang yang sedang menarik jiwanya keluar dari raganya.
"Anak saya tidak bisa di selamatkan?" Marvin mengeluarkan suaranya seolah tak bertenaga.
__ADS_1
"Iya, Tuan. kami sudah berusaha. tapi anak anda tidak bisa kami selamatkan, kami minta maad," ucap Dokter. Marvin mengusap kasar wajahnya seraya memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana dengan Amoera?" Alice menyautinya.
"Nona Amoera--"
"Amoera bagaimana, Dok? Dia baik - baik saja, kan, Dok?" tukas Marvin.
"Maaf, Tuan. kami tidak bisa memastikan kondisi Nona Amoera. Karna benturan yang cukup keras dan luka di kepalanya yang cukup lebar membuat Nona Amoera kehilangan banyak darah, hingga membuat kondisi Nona Amoera mengalami penurunan dan sedang dalam masa kritis, untungnya rumah sakit kami masih mempunyai banyak stok di bank darah," tutur Dokter. tubuh Marvin semakin melemas
"Maksud dokter Amoera--"
"Iya, Nona. Nona Amoera koma." Alice belum menyelesaikan perkataannya dokter dengan cepat menukasnya.
"Marvin, Amoera akan baik - baik saja." Marquez memeluk adiknya tersebut mencoba menenangkannya.
"Apa saya bisa menemuinya, Dok?" Marvin segera mengusap matanya yang semakin banyak mengeluarkan cairan bening di sana.
"Hanya satu orang saja, yang bisa melihatnya."
"Kakak, aku mau melihat Amoera..."
"Alice!" Marquez menhentikan adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Alice ingin menemui Amoera, Kak." Alice berbicara dengan sesenggukan.
"Nanti, bergantian. biar Kak Marvin yang masuk." tutur Marquez. Alice menganggukan kepalanya dengan menyeka setiap air matanya yang mengalir.
***
"Amoera?" Marvin menatap wanita yang sedang berbaring tak berdaya itu dengan perasaan yang penuh luka. bahkan air matanya semakin membanjiri wajahnya. bukankah, selama dia hidup tidak pernah menangis seperti ini. kecuali saat kematian, Ayah dan Ibunya beberapa waktu yang lalu? kini ia harus kehilangan anaknya, dan sekarang dia melihat wanita yang setiap hari mengganggu hatinya itu terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Amoera, tolong bangunlah," ucap Marvin.
"Amoera maafkan aku, tolong bangunlah. ku mohon bangunlah..." Marvin mencium tangan Amoera hingga tangan itu terlihat basah akan cairan yang sedari tadi keluar dari kedua matanya.
"Amoera ayo bangunlah. Ku mohon bangunlah!" rasanya suara Marvin terbuang sia-sia dan tak mengubah keadaan Amoera. yang ia dengar di dalam ruangan itu hanyalah suara monitor detak jantung yang berdenging di telinganya.
Ceklek
Pintu terbuka, seroang perawat terlihat masuk ke dalam sana.
"Permisi, Tuan Marvin. jenazah bayi Nona Amoera sudah bisa di makamkan," ucap perawat yang tiba - tiba mendekati Marvin. Marvin menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Aku akan mencarikan tempat istirahat ternyaman untuk anak kita. tunggulah di sini, aku akan segera kembali," bisik Marvin kepada Amoera seraya mencium keningnya. rasa sakit itu tak bisa terbendung. Marvin mengusap kedua matanya yang basah dan berlalu keluar dari ruangan Amoera untuk mengambil jenazah bayinya.
__ADS_1