
Marvin mencoba menanyakan kepada kakaknya tentang apa yang sedang terjadi saat ini. namun dirinya sama sekali tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dan Marquez malah meninggalkannya begitu saja.
Marvin kembali masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. karna ia merasa begitu lelah. namun dirinya tiba - tiba teringat akan kekasihnya Elsa. Marqvin beranjak dari tidurnya dan keluar kamar dan mencari kekasihnya tersebut.
Ia menyelusuri setiap sudut ruangan yang ada di ruangan rumahnya itu, namun ia tidak juga melihat Elsa sama sekali. dan Bi Yona yang memperhatikan Tuannya seperti sedang kebingungan , ia tak segan untuk menegurnya.
" Tuan, kau sedang mencari apa ? " Tanya Bi Yona.
" Apa Bibi melihat Elsa? kenapa dia tidak ada di rumah ? " Tanya Marvin.
" Itu Tuan, Nona Elsa se-- ."
" Sayang kau sudah pulang ? " Tiba - tiba Elsa datang dan memotong perkataan Bi Yona. Bi Yona terlihat takut dan pamit kepada Marvin untuk kembali ke dapur, Dan Marvin mengiyakannya.
kini Marvin berjalan mendekati Elsa.
" Kau darimana ? " Tanya Marvin.
" Dari jalan - jalan. aku sangat jenuh di rumah, kau sudah tidak peduli denganku dan selalu meninggalkanku sendirian. " Seru Elsa seraya melipatkan kedua tangannya di atas perut.
Marvin menghela nafas dan memegang tangan Elsa.
" Maafkan aku sayang, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. ku harap kau bisa mengertikan posisiku. " Tutur Marvin .
" Iya tidak apa - apa , aku bisa mengertikan itu. kau bekerja juga demi masa depan kita. " Ucap Elsa. Marvin tersenyum dan seketika mendekap tubuh Elsa dan memeluknya dengan begitu Erat. namun lagi - lagi perasaan kacau itu menghantui pikiran Marvin.
" Aku terlalu sibuk dengan Amoera bahkan melupakan Elsa. Ya Tuhan.. aku tidak tau , apakah aku salah ? dan apa yang salah dengan perasaanku ? " Gumam Marvin dalam hati.
****
__ADS_1
Di rumah Amoera.
Amoera terlihat sedang duduk di depan ruang tamu dengan tangan yang di sibukan merajut sebuah syal, tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu rumahnya. Amoera seketika menghentikan aktivitasnya itu dan beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu rumahnya.
Ceklek (Pintu terbuka)
Amoera terkejut saat melihat seorang laki - laki tengah berdiri di hadapannya saat ini. laki - laki yang tak asing baginya, laki - laki tersebut tak lain ialah Danny, teman lama Amoera. yang sempat Amoera temui kembali di taman hiburan setelah bertahun - tahun lamanya tidak bertemu.
" Amoera. " Sapa Danny dengan menepiskan senyumnya. Amoera melihat sekeliling rumah memastikan tidak ada orang yang melihat kedatangan Danny.
Amoera menarik tangan Danny dan mengajaknya sedikit menjauh dari rumahnya tersebut.
" Danny, kau sedang apa disini? dan. bagaimana kau bisa tau tempat tinggalku ? " Tanya Amoera dengan sedikit takut.
" Aku hanya ingin bertemu denganmu, bukannya kau sendiri yang memberi tau kalau kau tinggal di belakang gereja? aku bisa menemukan tempat tinggalmu karna bertanya kepada orang. " tutur Danny.
" Danny, ku mohon pergilah. " Perintah Amoera raut wajahnya terlihat tak tenang dan kedua matanya masih mengawasi sekitar .
" Amoera, aku kemari karna aku ingin menanyakan tentang dirimu. dan laki - laki yang sempat ku lihat di taman kemarin . sebenarnya dia siapa ? " Tanya Danny.
" Danny , ku mohon pergilah jangan terlalu ikut campur masalahku. " Tutur Amoera.
" Amoera, bicaralah terus terang kepadaku sebenarnya ada apa? kau jangan takut . aku akan membantumu. " Kata Danny. namun Amoera tetap saja membungkam ia benar - benar takut kepada Marvin. ia ingat jelas bagaimana dulu laki - laki itu memperlakukannya dengan sangat kejam, jika Amoera melakukan kesalahan lagi ia takut jika Marvin akan melakukan hal yang sama seperti dulu terhadapnya.
" Amoera tolong bicaralah. apa kau sudah tidak menganggapku sebagai teman lagi ? " Tanya Danny.
" Bukan seperti itu aku hanya takut. " tutur Amoera hingga terlihat cairan bening menetes dari pelupuk matanya.
Danny menyeka air mata Amoera dengan kedua tangannya.
__ADS_1
" Kau takut kepada siapa ? apa kau takut dengan laki - laki yang bersamamu kemarin ? " Tanya Danny. Amoera menganggukan kepalanya.
" Ku mohon berceritalah! aku akan membantumu. " Tutur Danny. Amoera menatap kedua bola mata Danny secara bergantian dan dirinya melihat ada niat baik di kedua bola mata pria itu.
Amoera yang awalnya menolak untuk menceritakan semuanya. kini tiba - tiba berubah pikiran. ia ingin sekali berbagi keluh kesah dan rasa sakit yang membuat dirinya menderita selama ini.
Mungkinkah Danny orang yang tepat untuk dirinya berbagi rasa sakit? Entahlah, rasanya Amoera begitu bingung.
" Amoera. " Suara Danny kembali menyentak telinga Amoera.
" Aku akan menceritakannya tapi tidak sekarang. kita bertemu lagi besok pagi. aku akan menemuimu di taman hiburan. sekarang ku mohon pergilah " Pinta Amoera.
" Baiklah, aku akan pergi, besok aku akan menemuimu . " ucap Danny. Amoera menganggukan kepalanya dan cepat - cepat kembali ke rumahnya.
Sementara Danny hanya memperhatikan langkah kaki Amoera dari belakang.
" Dugaanku benar, Amoera sedang dalam masalah, aku harus membantunya " gumam Danny.
.
.
.
.
.
.
maaf ya aku sedang sibuk banget jadi slow update
__ADS_1