Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Merindukan ~ Amoera


__ADS_3

Sebelum kembali ke rumah sakit. Marvin terlebih dulu pulang untuk mengganti pakaiannya yang sudah lusuh dan kotor akibat percikan darah setelah berkelahi dengan Bobby tadi. setelah itu, Marvin pun kembali ke rumah sakit.


"Marvin..." panggil Albert yang kini berjalan mengikuti dirinya.


"Pergilah, aku sedang tidak ingin berbicara!" tuturnya. Marvin segera masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. begitu juga dengan Albert ia mengikuti sahabatnya tersebut untuk kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Marvin masuk ke dalam ruangan Amoera. pemandangan yang sama yang ia lihat. tak ada perubahan sama sekali dengan wanita itu. hanya terdengar suara monitor detak  jantung yang membuat kepala Marvin pusing. ingin sekali rasanya ia membangunkan Amoera. namun,  sekalipun ia berteriak, tak akan mengubah apapun.


Marvin tak bergeming memandangi wajah Amoera. hingga kedua matanya kelelahan dan membuat laki-laki itu tertidur dengan sendirinya.


 


 


***


Keesokannya,


Kedua mata Marvin mengerjap dan terbuka. tubuhnya langsung melemas seketika, saat melihat Amoera yang belum juga sadarkan diri.


"Kapan kau akan bangun?" Marvin menggenggam telapak tangan Amoera sambil menciumnya.


"Aku tinggal sebentar menemui, Kakak." Marvin beranjak berdiri dan keluar dari ruangan itu. berkali-kali, ia menengok ke arah Amoera. seakan tak tega untuk meninggalkannya.

__ADS_1


Marvin menemui Marquez, Alice, Clarissa  dan Bi Lian yang kala itu sedang duduk di kursi tunggu. karna dari semalam, mereka semua tidur di rumah sakit.


"Kakak, ajaklah yang lainnya pulang!" perintah Marvin kepada Marquez .


"Kau tidak pulang?" tanya Marquez.


"Tidak! aku mau menemani Amoera, Kak." setaip kali Marvin berucap nama Amoera. suaranya seakan melemas.


rasanya Marquez tak tega meninggalkan adiknya tersebut. hingga ia menyuruh Albert untuk tetap tinggal di sana.


"Kakak aku masih ingin di sini..." pinta Alice.


"Pulanglah, nanti jika kau sakit. Kakak yang akan bingung.  besok kemari-lah  lagi!" tutur Marvin sambil memeluk adiknya tersebut. kemudian melepaskannya.


"Kakak... Alice, takut..."


"Kakak, cepatlah bawalah Alice pulang..." Perintah  Marvin kepada Marquez. Marquez mengiyakannya dan segera mengajak adik perempuannya itu agar segera pergi.


 


Marvin kembali masuk ke dalam ruangan Amoera, ia berjalan mendekati Amoera dan duduk di sampingnya. ia merengkuh tangan pucat wanita itu. entah kenapa hatinya begitu tersiksa saat melihatnya. Marvin hanya bisa memejamkan matanya dan menelan salivanya yang ia rasa begitu getir. kedua matanya terbuka dan  menangkup sekilas wajah Amoera. berharap wanita itu segera bangun. namun, tetap saja tak merubah apapun.


bagaimana jika kedua mata itu tak bisa terbuka untuk selamanya? pertanyaan itu tiba-tiba terlontar di pikiran Marvin.

__ADS_1


"Jangan..." Marvin menggeleng kepalanya dengan begitu takut. ia semakin merengkuh dengan erat tangan Amoera.


"Amoera, ayo  bangunlah..." bisik Marvin.


"Kenapa kau tidak bangun juga? apa kau tidak ingin pergi ke taman hiburan bersama Alice? dia sangat merindukanmu." suara Marvin terdengar semakin memberat. hingga ia tak kuasa menahan air matanya.


"Ayo, Amoera, bangunlah! kenapa kau hanya diam saja? ayo tolong bangunlah, bukan hanya Alice saja yang merindukanmu. tapi aku juga sangat merindukanmu, aku benar-benar merindukanmu. tolong bangunlah!"


"Amoera, apa kau tau, aku sangat mencintaimu? aku berjanji akan menikahimu,  tolong jangan membuatku takut seperti ini. tolong bangunlah, Amoera..." Marvin meletakan tangan Amoera di  pipinya dan membiarkan tangan wanita itu tersentuh oleh air matanya.


Setiap hari perkataan itu selalu Marvin ucapkan. bahkan Marvin sama sekali tidak pernah meninggalkan Amoera dari tempatnya. setiap hari,  ketakutan di wajah Marvin semakin menjadi - jadi. Ketakutan jika wanita yang ia cintai itu tidak akan pernah membuka matanya kembali. bahkan Marvin hampir seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia marah - marah tidak jelas Ketika seseorang menyuruhnya untuk pergi meninggalkan ruangan Amoera.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2