Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Mengkhianati ~ Amoera


__ADS_3

Dua bulan berlalu sudah. kehamilan Amoera hanya tinggal menghitung hari. terlebih lagi,  Marvin yang takut akan kehadiran Danny mengusik Amoera. ia memindahkan Amoera dan Bi Lian ke rumah baru yang sudah ia sewa dua bulan yang lalu.


Kebersamaan Amoera dan Marvin setiap harinya. membuat kedua insan itu menjadi candu dan terkadang tidak bisa saling lepas satu sama lain.


Sedangkan Marquez, ia sudah menikahi Clarissa sejak satu bulan yang lalu. Memang, kehadiran Clarissa dan bayinya di rumah itu tidak di sukai oleh Alice. Alice sering kali memarahi Clarissa dan berbuat tidak sopan kepada kakak iparnya itu. namun,  Clarissa tetap  sabar dan selalu bersikap baik kepada Alice. bukan karna ingin mengambil hati Alice atau hati Marquez. hanya saja, Clarissa sedang belajar mencintai dan menerima segala sesuatu yang berhubungan dengan suaminya.


***


Pagi itu, Marvin terlihat bersiap - siap hendak menemui Amoera di rumahnya. seperti biasa, saat Marvin hendak pergi. Elsa terlebih dulu melakukan drama seperti biasanya. apalagi, akhir - akhir ini Elsa semakin sering memaksa Marvin untuk melakukan hubungan. namun,  Marvin selalu saja menolaknya dengan alasan yang sama. Bahkan karna paksaan Elsa. membuat Marvin semakin tidak menyukai tingkah laku Elsa yang semakin hari semakin berlebihan.


Sebenarnya, satu minggu belakangan ini Elsa sudah mencurigai Marvin. karna,  saat ia mencoba mencari Marvin di tempat kerjanya. semua orang bilang bahwa Marvin jarang sekali berada di tempat kerja. kalaupun datang mungkin hanya 1-2 jam saja. Karna Marvin di sana bukanlah seorang pekerja. melainkan  penanam saham. Dan saat mengetahui itu semua,  Elsa pun terkejut. di situlah, awal mula kecurigaan Elsa.


"Sayang, kau bekerja sampai jam berapa?" tanya Elsa seraya menggelayuti tangan kekasihnya itu.


"Malam aku akan pulang," jawab Marvin.


"Kau benar - benar ke tempat kerja kan?" tanya Elsa. Marvin terdiam sejenak. lalu mengiyakannya.


"Aku pergi dulu." Marvin mencium kening Elsa.


"Oh iya, Elsa. Istirahatlah yang cukup. ku perhatikan akhir - akhir ini wajahmu terlihat tidak sehat, bulan depan kita akan menikah. jadi, jaga kesehatanmu..." tutur Marvin.


"Iya, sayang." Elsa mengiyakannya. marvin berlalu meninggalkan rumah itu dengan menggunakan mobil jeep miliknya.

__ADS_1


Saat mobil yang Marvin tumpangi sudah jauh daru pandangan mata. Elsa pun hendak masuk kembali ke dalam rumah. Namun,  sebuah mobil yang tak asing di kedua matanya terlihat berhenti dari seberang sana. kedua mata Elsa membulat dengan begitu terkejut saat melihat mobil itu.


"Kenapa dia kemari?" gumam Elsa dengan kesal.


kedua matanya mengawasi sekitar. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. memastikan tidak ada orang di sana.


Dan saat ia rasa tidak ada orang yang melihatnya waktu itu. Elsa cepat - cepat menghampiri mobil tersebut dan masuk ke dalamnya,  Di dalam mobil itu terlihat seorang laki - laki yang duduk di kursi kemudi.


"Ayo cepat pergi dari sini!" perintah Elsa. Laki - laki itu dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


"Kau sedang apa kemari? apa kau mau mencari mati? Bagaimana kalau sampai Marvin melihatmu?" seru Elsa. laki - laki itu tak lain ialah Bobby teman laki - laki Elsa yang baru Elsa kenal beberapa bulan belakangan ini. Laki - laki itu lah yang selama ini membantu Elsa untuk mengusir rasa kesepiannya ketika di tinggalkan oleh Marvin. terkadang Elsa beralasan kepada orang rumah untuk pergi ke pasar atau jalan - jalan hanya untuk menemui Bobby di luar rumah.


"Biar saja dia tau, aku ingin menemuimu, aku sangat merindukanmu." Bobby hendak mencium pipi Elsa. namun Elsa menghindarinya.


"Bobby,  tolong jauhi aku. aku kan sudah bilang berkali - kali. Aku dan Marvin bulan depan akan segera menikah. jangan datang - datang lagi untuk menemuiku," seru Elsa.


"Apa lebihnya laki - laki itu?" imbuh Bobby dengan mengernyitkan dahinya.


"Aku sangat mencintai Marvin. aku tidak akan pernah meninggalkannya," ujar Elsa dengan penuh penekanan.


"Apa Marvin juga mencintaimu?" tanya Bobby.


"Aku rasa tidak," imbuhnya dengan menarik salah satu sudut bibitnya.

__ADS_1


"Dia sangat mencintaiku, aku cinta pertamanya, bahkan, dia mau melakukan apapun untukku," ujar Elsa.


"Aku rasa kau tidak benar - benar mencintainya." Bobby memancing amarah wanita yang saat ini duduk di sampingnya.


"Cukup, Bobby!  aku sangat mencintai Marvin, kau jangan mencoba memancing emosiku!" seru Elsa. Bobby tiba - tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan hingga membuat Elsa bertanya - tanya. Bobby mengangkat dagu Elsa dan mendekatinya.


"Nyatanya kau benar - benar tidak mencintainya! kalau kau benar - benar mencintainya. kau tidak akan menghianatinya seperti ini," ucap Bobby dengan tersenyum sinis. Elsa hanya diam seraya menelan salivanya.


"Aku tidak pernah menghianatinya, Bobby!" bantah Elsa.


"Lalu, yang selama ini kau perbuat denganku di belakangnya, lantas apa kalau bukan menghianatinya?" seru Bobby.


"Sudahlah Elsa, Marvin sudah  tidak mencintaimu. jika dia mencintaimu. dia tidak akan membiarkanmu sendirian dan kesepian seperti saat ini, sayang." Bobby membelai lembut rambut Elsa dan menciumnya.


"Tinggalkan dia!" pinta Bobby.


"Lepaskan!" berontak Elsa hingga membuat Bobby hendak terpental di pintu mobil. Elsa terdiam dan mencerna baik kata - kata Bobby. pikiran dan hatinya membenarkan itu semua. semenjak dirinya pulang dari Italia, Marvin benar - benar berubah. bukan seperti Marvin yang ia kenal dulu.


"Apa kau tidak takut, jika Marvin seperti Ayahmu yang menduakan Ibumu di belakangnya?" kata - kata Bobby semakin mencuci otak Elsa hingga membuat wanita itu ketakutan di buatnya.


"Antarkan aku pulang," pinta Elsa. Bobby dengan senang hati mengiyakannya. Elsa sedari tadi menelan salivanya berkali - kali. ketakutan itu muncul kembali di benaknya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya." Bobby melirik ke arah Elsa yang sedang terdiam dengan raut wajah yang memucat.

__ADS_1


 


 


__ADS_2